
Happy reading π
"Syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa, Mas. Alyra sangat khawatir, makanya buru-buru dan belum memakai pakaian. Hanya melilitkan handuk di tubuh."
Melihat tubuh sang istri yang hanya berbalut handuk, Ikhsan pun menelan saliva. Ingin rasanya, Ikhsan mempraktikkan adegan yang baru saja ia baca.
"Ini semua gara-gara Keanu. Pikiranku jadi terkontaminasi 'kan. Duchhh ... bagaimana ini?" Ikhsan bermonolog di dalam hati sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Alyra yang merasa heran dengan sikap Ikhsan pun kembali melontarkan pertanyaan sembari menatap wajah suaminya dengan intens.
"Mas, mengapa Mas Ikhsan mengusap wajah dengan kasar, hmm?"
Ikhsan salah tingkah dan gelagapan. "Mmm ... anu, eh."
"Kenapa sih, Mas?" Alyra menautkan kedua alisnya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Wadidawwww ... ujian apa lagi ini?" kembali Ikhsan bermonolog di dalam hati, tatkala melihat belahan bukit yang semakin membuat panas dingin tubuhnya.
"Ti-tidak, Mas Ikhsan tidak kenapa-kenapa, Yang. Ha-hanya, panas dingin karena_" Suara Ikhsan tercekat. Ia menelan saliva dan berusaha menahan hasrat yang semakin menggelora.
"Karena apa Mas?" Alyra menempelkan telapak tangannya di kening Ikhsan sembari mengerutkan dahi.
" .... " Ikhsan tidak membalas pertanyaan Alyra kali ini. Pandangan netranya tidak terlepas dari pemandangan indah yang tersuguh di hadapannya.
"Hmmm, sudah tidak panas. Tapi ... tubuh Mas Ikhsan mengeluarkan keringat dingin. Mas Ikhsan masih sakit?"
Ikhsan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tapi, kenapa ya ... tubuh Mas Ikhsan sampai mengeluarkan keringat dingin?"
" .... "
"Mas, nanti ... Alyra akan meminta papa untuk memeriksa Mas Ikhsan. Alyra heran, sebenarnya ... Mas Ikhsan sakit apa sih?"
"Ja-jangan, Sayang! Jangan meminta papa untuk memeriksa mas Ikhsan! Mungkin ... mas Ikhsan sakit karena terlalu bahagia mendapatkan anugerah terindah. Yaitu, kamu Yang." Ikhsan memberanikan diri untuk memegang tangan istrinya.
Alyra tertawa geli mendengar ucapan suaminya. "Pfffttt ... Mas Ikhsan, Mas Ikhsan. Ngadi-ngadi kalau bicara. Masa mendapatkan anugerah terindah ... malah sakit demam."
Melihat wajah cantik Alyra yang terhiasi oleh tawa, membuat jantung Ikhsan serasa mau copot karena degupnya yang semakin tidak beraturan.
"Sa-sayang, lebih baik ... kenakan dulu pakaianmu. Pasti ... dingin 'kan?" Ikhsan mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia takut, tidak bisa lagi menahan hasrat.
"Iya Mas. Alyra akan memakai pakaian dulu."
CUP
Tanpa Ikhsan sangka, Alyra mengecup singkat bibirnya.
Hening
Ikhsan kembali menelan saliva.
__ADS_1
Alyra beranjak dari posisi duduknya. Ia membuka almari untuk mengambil pakaian.
Alyra sedikit berjinjit untuk meraih pakaian yang berada di tumpukkan paling atas.
SRETT
Tanpa Alyra sadari, lilitan handuknya terlepas.
DEG DEG DEG
Ikhsan memegang dadanya. Netra Ikhsan membola dan tidak berkedip tatkala melihat pemandangan yang wowww. π
Upsss .... Alyra terkesiap saat menyadari handuknya terlepas. Ia teramat malu karena tubuh polosnya terlihat oleh Ikhsan.
Alyra segera menghempas rasa malu. Ia sadar ... bahwa suaminya juga berhak melihat semua yang ia miliki. Termasuk harta terindahnya. "So, nggak usah malu ... Ra. Lagi pula, Mas Ikhsan sudah menjadi suamimu," monolog Alyra di dalam hati.
"Mas, kenapa hanya melihat saja? Bukankah, Mas Ikhsan sudah berhak juga menyentuh dan memiliki semua yang ada pada diri Alyra," ucap Alyra sembari mulai mengenakan pakaian.
DEG
Lagi-lagi ... Ikhsan menelan saliva tatkala Alyra berjalan mendekat.
"Mas, tolong kaitkan dong!" pinta Alyra.
Ikhsan beranjak dari ranjang. Dengan tangan gemetar, Ikhsan meraih pengait pakaian dala* yang Alyra kenakan.
"Mas ... Kenapa Mas Ikhsan tidak ingin melakukan itu? Mas Ikhsan, tidak tertarik ya ... melihat harta terindah yang selama ini Alyra jaga?" Alyra membalikkan tubuhnya. Raut wajah Alyra terlihat sendu.
" .... "
"Alyra sadar, Mas Ikhsan menikahi Alyra karena terpaksa. Mungkin, Mas Ikhsan tidak menghendaki pernikahan kita."
TES
Bulir kesedihan yang tak mampu terbendung, menetes begitu saja, membasahi wajah cantik Alyra.
"Sayang, bu-bukan seperti itu. Mas Ikhsan tidak terpaksa menikahimu. Bahkan, mas Ikhsan sangat bersyukur karena menikahi seorang gadis yang sempurna. Cantik lahir dan batinnya."
"Jika benar Mas Ikhsan bersyukur karena telah menikahi Alyra, kenapa ... kenapa Mas Ikhsan seolah enggan menyentuh Alyra?"
Tangis Alyra semakin menjadi. Tubuhnya pun berguncang hebat.
Ikhsan meraih tubuh Alyra dan membawanya ke dalam dekapan. Ia kecup pucuk kepala Alyra, menumpahkan rasa cinta seorang suami kepada istrinya.
"Maaf, Sayang. Sebenarnya ... Mas Ikhsan ingin menyentuhmu. Tapi ... jujur, Mas Ikhsan masih bingung dan malu untuk memulainya."
Ikhsan meregangkan pelukan. Ia usap buliran bening yang membasahi wajah cantik sang istri.
"Sayang, insya Allah ... nanti malam, Mas Ikhsan akan ... menunaikan kewajiban sebagai seorang suami. Jangan bersedih lagi, Yang. Mas Ikhsan, tidak ingin melihat wajah cantikmu terbingkai air mata."
"Mas Ikhsan ... tidak terpaksa 'kan ... ?"
Senyum terbit menghiasi bibir Ikhsan tatkala mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Alyra.
__ADS_1
"Tentu tidak, Sayang. Sekarang ini juga ... Mas Ikhsan bisa saja menerkam Sayang. Tapi, matahari masih mengintai kita. Mas Ikhsan tidak ingin ritual penyatuan raga kita, terganggu oleh siapa pun," bisik Ikhsan ditelinga Alyra.
BLUSSHHHH
Rona merah tercetak jelas di wajah cantik Alyra.
Ikhsan mengangkat dagu Alyra. Meski jantungnya serasa mau copot, Ikhsan memberanikan diri untuk mendaratkan bibirnya.
Alyra dan Ikhsan saling memagutkan bibir. Keduanya menyesapi rasa manis yang menjadi candu.
πΉπΉπΉ
"Rain, calon suamiku dan sahabatnya sudah datang. Ayo, aku perkenalkan pada mereka!" Anisa meraih tangan Raina. Mereka berdua melangkahkan kaki menuju ruang tamu untuk menemui calon suami Anisa dan sahabatnya.
DEG
Raina terkesiap saat melihat seorang pria yang sangat familiar tengah duduk di sofa.
"Mas Heru, perkenalkan ... ini Raina. Gadis yang aku ceritakan semalam via vidio call." Anisa memperkenalkan Raina kepada Heru, seorang duda yang menjadi calon suaminya.
Heru beranjak dari sofa diikuti oleh sahabatnya.
"Heru ...." Duda berwajah tampan itu mengulurkan tangan kanannya seraya memperkenalkan diri.
"Raina ...," balas Raina. Ia menolak uluran tangan Heru dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada disertai seutas senyum.
"Dan ini ... sahabatnya Mas Heru, Sean."
"Kami sudah saling mengenal, Nis," balas Raina dengan menunjukkan raut wajah tidak suka. Di mata Raina, Sean sama seperti Steven. Pria yang sangat mesu* dan menjij*kan.
"Oya? Kebetulan sekali, Rain." Netra Anisa berbinar.
"Heem," jawab Raina singkat.
Bibir Sean terhias senyuman penuh makna. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Niat Sean untuk mendekati dan menjadikan Raina sebagai seorang kekasih, seolah sudah dipermudah jalannya. Sean tidak mengira, jika Raina berteman baik juga dengan Anisa.
"Mas Heru, Sean, mari kita sarapan pagi bersama! Anisa sudah menyiapkan berbagai menu makanan khas Indonesia."
"Wow ... makanan khas Indonesia. Pasti, ada nasi rendang 'kan? I really like Indonesian food." Mata Sean berbinar. Ia membayangkan nasi rendang yang sangat menggugah selera.
"Tentu saja ada, Sean," jawab Anisa disertai senyuman yang mengembang.
Anisa memandu Raina, Heru, dan Sean ... menuju ruang makan.
Hati Sean berbunga-bunga saat berjalan beriringan dengan Raina. Ia sangat percaya diri dan yakin, jika sebentar lagi ... seorang Raina akan dengan mudah ditakhlukannya.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Maaf jika banyak typo bertebaran π π π
UP yang kemarin, baru lolos hari ini. Masih adakah yang menunggu kelanjutan MJB??? π
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan beri komentar penyemangat π
Trimakasih bagi readers yang masih berkenan mengikuti MJB dan memberikan dukungan berupa gift atau vote. πππ