
Happy reading .... π
Pagi ini, Kirana kedatangan para tamu yang sudah sangat dirindukannya. Siapa lagi jika bukan Ilham beserta keluarga kecilnya. Ilham bertamu ke rumah sang adik untuk melepas rindu. Selain itu, ada hal yang ingin ia sampaikan.
"Masya Allah, Abang ...." Netra Kirana berbinar tatkala melihat Ilham dan keluarga kecilnya sudah berdiri di depan pintu. Gegas, Kirana mempercepat langkahnya ... seolah ia sudah tidak sabar untuk memeluk sang kakak.
"Kiran ...." Ilham merentangkan kedua tangannya seraya menyambut pelukan Kirana.
Keduanya pun saling berpeluk, menumpahkan kerinduan.
Ilham sedikit meregangkan pelukan. Ia tatap manik mata Kirana yang sudah mengembun.
"Dek, Bang Ilham sangat merindukanmu."
Kirana membalas tatapan abangnya. Binar kerinduan nampak kentara di manik mata coklat yang terbingkai embun. "Kirana juga sangat rindu, Bang."
"Ehemmm ...." Suara deheman Abimana. Melihat sepasang kakak adik yang saling berpeluk dan menatap, Abimana merasa cemburu. Konyol memang. Kakak ipar sendiri ... dicemburui. π
Ilham dan Kirana melerai pelukan. Kirana berganti memberi pelukan singkat kepada Suci, Nisa, dan Iqbal.
"Bang Ilham," sapa Abimana disertai senyumnya yang merekah.
"Bim ...," balas Ilham sembari memeluk iparnya. Mereka pun berpeluk singkat.
"Mari, silahkan masuk Bang, Suci, Nisa, Iqbal!" titah Abimana seraya mempersilahkan para tamunya untuk masuk ke dalam rumah.
Abimana dan Kirana, memandu para tamu ke ruang keluarga. Di ruangan itu sudah ada Keanu, Khanza, dan Dylan yang sedang asik menonton film Doraemon. Film kartun yang digandrungi oleh anak-anak, remaja, dan orang dewasa sepanjang masa.
"Meski sudah lebih dari dua puluh tahun, Nobita tetap saja masih sekecil itu dan belum menikah dengan Sizuka. Sungguh aneh bin ajaib." Celotehan Kirana sukses menarik perhatian ketiga buah hatinya. Mereka bertiga pun menoleh ke arah asal suara.
Netra Keanu, Khanza, dan Dylan berbinar tatkala melihat para tamu spesial. Mereka beranjak dari sofa. Gegas, ketiga buah hati Abimana dan Kirana memberi salam kepada para tamu.
Ilham, Suci, dan Abimana mendaratkan tubuh mereka di atas sofa, setelah dipersilahkan oleh Kirana. Sedangkan Nisa, Iqbal, Keanu, dan Dylan duduk di bawah beralaskan permadani.
"Kirana tinggal ke dapur sebentar ya, Bang."
"Silahkan, Dek."
Kirana melangkahkan kakinya menuju ke dapur, diikuti oleh Khanza.
Kirana membuat teh nasgitel, sedangkan Khanza menata camilan di atas nampan.
Tanpa membutuhkan waktu yang cukup lama, teh nasgitel pun siap disajikan. Kirana dan putrinya, berjalan menuju ruang keluarga dengan membawa nampan yang berisi teh nasgitel serta camilan.
__ADS_1
"Silahkan diminum teh nasgitelnya!" Kirana mempersilahkan para tamu spesial untuk meminum teh nasgitel buatannya, sembari meletakkan nampan di atas meja.
"Trimakasih, Mbak Kiran," ucap Suci sembari meraih cangkir yang berisi teh nasgitel.
"Sami-sami, Mbak Suci."
"Wahhhh .... seger. Mantul Mbak ... teh nasgitelnya," puji Suci setelah menyesap teh nasgitel yang super seger.
"Ah ... Mbah Suci bisa saja," balas Kirana disertai senyuman yang mengembang.
Mereka pun mulai berbincang sembari menikmati kesegaran teh nasgitel dan camilan.
"Dek, sebenarnya ... bang Ilham ingin menyampaikan suatu permintaan."
"Permintaan? Permintaan apa Bang?" Kirana menautkan kedua alisnya.
"Dek, bang Ilham meminta ... agar Keanu bersedia untuk segera kembali ke pondok. Dua hari lagi, kami akan pergi ke Solo untuk mengunjungi bapak. Pak Arya, bapak mertua bang Ilham tengah sakit keras. Beliau dirawat di salah satu rumah sakit di Solo. Untuk itu, kami ingin menitipkan pondok kepada Keanu."
"Innalillahi ... Semoga pak Arya segera diberi kesembuhan dan kesehatan," doa tulus Kirana.
"Aamiin, yaa Allah. Nah, bagaimana Kean ... kamu bersedia untuk kembali ke pondok 'kan? Pakdhe ingin, Kean bersedia menggantikan pakdhe Ilham untuk sementara waktu. Mengawasi kegiatan belajar mengajar di pondok pesantren. Serta, menjaga rumah pakdhe yang suwung, karena Nisa dan Iqbal juga ikut serta."
"Ta-tapi Pakdhe, bukankah masih ada ustadz Firman dan ustadz Farhan 'kan?"
Ilham menghela nafas. "Memang masih ada ustadz Firman dan ustadz Farhan, tapi ... mereka mempunyai tugas lain, Kean."
"Kean, bagaimana jika bunda saja yang membantumu mengelola kafe? Insya Allah, kinerja bunda tidak akan mengecawakanmu," sahut Kirana seraya memangkas ucapan putranya.
"Tapi, Bund ... bagaimana dengan pasien di Rumah Cinta?"
Kirana mengulas senyum. "Tante Sindy yang akan menggantikan bunda, melayani para pasien di Rumah Cinta, Kean. Jadi, kembalilah segera ke pondok pesantren untuk menjalankan permintaan atau amanah dari Pakdhe Ilham!"
Keanu menghela nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan. "Baiklah Bund ... besok pagi, Kean akan kembali ke pondok. Keanu titip kafe ya, Bund. Insya Allah, setiap hari ahad ... Keanu akan berkunjung ke kafe."
Ilham merasa lega karena Keanu bersedia untuk segera kembali ke pondok pesantren, memenuhi permintaannya.
"Syukron, Kean ...."
"Afwan, Pakdhe ...."
....
πΉπΉπΉ
__ADS_1
Raina menatap langit yang terhias warna jingga dari jendela kamarnya. Sesekali kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, kala kenangan indah bersama Keanu menari-nari di ingatan.
"Kean ... tahukah kamu, aku di sini sangat merindukan pemuda tampan yang sangat menyebalkan?? Rasanya, aku ingin mengulang masa-masa indah yang pernah kita lewati berdua ...." Raina bermonolog. Meski rindu ... Raina ragu untuk menghubungi Keanu.
Tungkling ....
Terdengar notif pesan. Raina segera meraih benda pipih yang ia letakkan di atas nakas.
Bibirnya menyunggingkan senyum saat membuka pesan yang dikirim oleh Khanza. Rupanya, Khanza mengirim vidio yang ia ambil ketika Keanu bermonolog di kamar sembari menatap foto Raina.
Setelah berulang kali memutar vidio yang dikirim oleh Khanza, Raina menghubungi si comel via vidio call.
"Assalamu'alaikum, Khanza ...."
"Mbak Raina ..... Wa'alaikumsalam, Mbak. Uchhhh, Khanza kangen banget."
"Mbak Raina juga kangen, Za."
"Pasti ... Mbak Raina sudah melihat vidio yang Khanza kirim 'kan?"
"Heem, sudah ... Za."
"Mbak, tunggu sebentar ya! Jangan dimatiin dulu!"
"Baiklah. Tapi jangan lama-lama, lho!"
"Siap ...."
Gegas, Khanza berlari keluar kamar untuk menemui Keanu yang tengah duduk di balkon.
"Mas, ada vidio call."
"Dari siapa?"
"Ada dech. Nich ... buruan ngomong!" Khanza menyerahkan ponselnya pada Keanu. Bibir Khanza terhias senyuman penuh makna. Binar matanya tersirat kebahagiaan.
Keanu menerima ponsel dari tangan Khanza dengan ragu-ragu. Namun setelah melihat wajah cantik yang terpampang di layar ponsel, netra Keanu berbinar. Dadanya berdebar. Jantungnya berdenyut merdu.
"Raina ...."
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
__ADS_1
Muup UP nya terlambat dan mungkin terkesan garing. Maaf juga jika banyak typo ππ
But, tetap ikuti episode selanjutnya ya readers. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen penyemangat. Matur nuwun πππ