
Happy reading πππ
Tetiba dada Alya terasa sesak. Hatinya bagai dihujam ribuan belati yang tak kasat mata. Dejavu. Alya pernah merasakan hal yang sama.
"Ya Allah, semoga ini hanya perasaanku saja. Jaga dia untuk Mbak Kiran. Jangan biarkan senyum Mbak Kiran memudar. Hamba benar-benar memohon ya Robb," pinta yang hanya terlisan di dalam hati.
Entah, goresan takdir duka atau bahagia yang akan menyertai akhir kisah Mantan jadi Besan. Hanya Dia yang Maha Berkehendak ....
...
Langit berhiaskan warna jingga pertanda swastamita telah hadir menyapa dengan keelokkan rupanya. Burung-burung kecil terbang berkelompok disertai lantunan ayat-ayat cinta yang terdengar merdu. Lembut hembusan sang bayu menerpa wajah seorang wanita cantik berhati mulia, Ayunda Kirana.
Kirana semakin resah menanti kehadiran sang kekasih hati, Abimana Surya Saputra. Sebab, sedari tadi pria bermata teduh itu tidak jua menerima panggilan telepon darinya. Abimana hanya mengirim pesan ....
Bund, hari ini ayah akan pulang ke Jogja. Langitkan pinta pada-Nya, semoga kita bisa bersama lagi. Namun jika Allah berkehendak lain, Bunda harus ikhlas. Jaga putra-putri kita. Ana uhibbuki fillah, istriku....
Tes
Setetes butiran bening lolos begitu saja. Kirana tak kuasa menahan rasa perih tatkala membaca pesan terakhir yang dikirim oleh suami tercinta. Pesan yang dikirim oleh Abimana sama seperti kalimat yang terucap ketika ia berbincang dengan Kirana melalui sambungan telepon.
"Bi, aku sangattt merindukanmu. Seharusnya, ke mana pun kamu pergi, bawalah aku bersamamu," monolog Kirana sembari memandang langit yang kini terangnya telah memudar.
"Bunda ...." Sapa Khanza. Seketika, Kirana mengusap wajahnya yang telah basah dengan jemari tangan tatkala mendengar suara lembut putrinya.
"Bund. Bunda sedang apa?" tanya yang terlisan dari bibir Khanza.
Perlahan, Kirana membalikkan tubuhnya. "Bunda sedang menanti kehadiran bintang Za." Kirana menyahut ucapan Khanza disertai seutas senyum yang dipaksakan.
"Bunda, sholat maghrib dulu yuk!" Khanza meraih tangan bundanya.
"Iya Za. Sekalian ajak adikmu! Kita sholat maghrib berjamaah di rumah saja ya. Bunda sedang kurang enak badan."
"Bunda sakit?" Khanza menatap wajah Kirana yang terlihat sedikit pias.
"Bunda tidak sakit Za. Hanya -- "
"Hanya rindu ... ayah?" Khanza mengerlingkan mata.
"Heem, iya Za. Bunda sangat merindukan ayah. Insya Allah, malam ini ayah akan pulang ke Jogja. Semoga, ayah diberi keselamatan dan perlindungan, sehingga bisa berkumpul bersama kita lagi," tutur Kirana penuh harap.
"Aamiin yaa Allah, semoga Allah mengijabah pinta kita, Bund."
Iqomah terlantun seusai Kirana, Khanza, dan Dylan membasuh tubuh mereka dengan air wudhu.
"Allahu Akbar ..." Kalimat takbiratul ihram yang terlantun dari bibir Dylan sebagai pertanda dimulainya ritual ibadah sholat wajib maghrib.
.
.
Di belahan bumi yang lain. Seorang pria tampan bermata teduh telah selesai menjalankan ibadah sholat maghrib. Ia bersiap untuk berangkat ke bandara dengan menggunakan mobil yang telah disediakan oleh Zico, salah satu pemilik perusahan software terbesar di Indonesia.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan, Abimana terus saja melantunkan dzikrullah. Entah mengapa beberapa hari ini ia merasa gelisah. Seolah ada sesuatu yang akan terjadi.
...
Langit semakin kelam. Terang sang rembulan berganti mendung yang tetiba hadir. Suara guntur berpadu dengan amarah angin yang menumbangkan pepohonan dan memaksa dedaunan untuk berpisah dengan tangkainya.
Perasaan Kirana semakin tidak menentu. Kalbunya terus saja melantunkan doa untuk keselamatan Abimana.
"Bi, sudah tengah malam. Kenapa, kamu belum juga tiba? Sebenarnya apa yang terjadi, Bi?" Kirana bermonolog. Raut wajahnya menyiratkan kecemasan.
Kirana beranjak dari ranjang. Ia menutup rikma dengan jilbab sebelum mengayunkan kaki keluar dari kamar.
"Bunda ...."
Seketika, Kirana menghentikan langkah kakinya tatkala mendengar suara Khanza.
"Khanza .... Kog belum tidur, Sayang?"
"Khanza belum bisa memejamkan mata, Bund. Cuacanya buruk. Khanza teramat mencemaskan ayah."
Kirana meraih tubuh sang putri dan membawanya ke dalam dekapan.
"Khanza, bunda pun teramat mencemaskan ayah. Bunda takut jika ayah mengalami musibah, sama seperti ketika ia akan menikah dengan Alya. Bunda belum siap kehilangan ayah, meski bunda sadar ... kita semua milik Allah, dan akan kembali kepada-Nya. Bunda sungguh belum siap Za," kalimat yang hanya terlisan di dalam hati. Kirana mengusap punggung putrinya dengan gerakan naik turun seraya memberikan rasa tenang.
"Bund, dari tadi ... Khanza berusaha menghubungi ayah. Tapi, nomor ponsel ayah tidak aktif. Seharusnya ayah sudah tiba di Jogja dua jam yang lalu," ujar Khanza. Perlahan, Kirana melerai dekapannya.
"Mungkin, ayah akan tiba sebentar lagi Za. Bunda akan menunggu ayah di teras."
"Tidak usah Za. Tidurlah, Nak! Biar bunda saja yang menunggu ayah. Nanti jika ayah sudah tiba, bunda akan membangunkanmu," rayu Kirana.
"Tapi, Bund--- "
"Tidak ada kata tapi, Za. Jangan sampai esok pagi, putri bunda terlambat bangun! Ingat, besok masih ada ujian 'kan?"
Khanza mengangguk samar. "Iya Bund. Besok masih ada ujian," sahut Khanza.
Sebelum memutar tumit, Khanza melepas sweaternya lalu ia kenakan untuk membalut tubuh sang bunda.
"Bund, pakai sweater Khanza ya! Biar nggak kedinginan."
"Iya Khanza sayang, trimakasih Nak."
.
.
Satu jam ... dua jam ... tiga jam ... Kirana menunggu kedatangan Abimana dengan perasaan cemas.
Kirana berjalan mondar-mandir sambil menimang gawainya. Ia tidak bisa duduk dengan tenang sebelum mendapatkan kabar tentang Abimana.
Drttt ... drttt ... drtttt ....
__ADS_1
Suara getaran gawai. Gegas, Kirana menerima panggilan telepon dari Kevin, orang kepercayaan Abimana.
"Hallo Vin ...."
"Nyonya ... Tuan Bima -- "
"Abi kenapa, Vin?"
"Tuan Bima sudah -- "
Tut ... tut ... tut ...
"Hallo Vin. Kevin ...."
Tubuh Kirana luruh disertai butir-butir kesedihan yang jatuh menimpa wajah cantiknya.
Dada Kirana menyesak. Rasa takut yang beberapa hari ini ia rasa, kini semakin meraja setelah mendengar suara Kevin. Kirana sangat yakin jika pesan yang ingin disampaikan oleh Kevin ... kabar buruk tentang suaminya. Sebab, suara Kevin terdengar bergetar.
"Hiks ... hiksss, Bi. Kenapa kamu tega meninggalkanku. Kenapa Bi?" Tubuh Kirana berguncang hebat.
"Bi, aku belum siap kehilanganmu. Sungguh, aku tidak ingin kamu pergi secepat ini."
JEGLER
Suara petir menggelegar disertai air langit yang mulai jatuh membasahi bumi. Seolah alam ikut menangisi kemalangan seseorang yang tengah merindu, hingga ia berpikir bahwa kekasihnya telah pergi.
"Hiks ... hikss, Abi. Bi, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Aku benar-benar tidak sanggup jika kisah kita berakhir dengan kedukaan. Please Bi, kembalilah!"
....
"Bund, Bunda ...." Kirana terkesiap tatkala mendengar suara bariton yang sangat familiar.
"Bi ...." Kirana menengadahkan wajah. Ia tatap wajah pria yang kini tengah berdiri di hadapannya.
"Bi, benarkah ini kamu atau --" Suara Kirana tercekat. Lidahnya serasa kelu.
BRUKK
Tubuh Kirana ambruk, hingga wanita yang sangat mencintai Abimana itu ... pingsan. Ia tidak sadarkan diri di bawah derasnya air langit.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Mohon maaf, kemarin othor belum sempat membalas komentar Sobat-Sobat MjB. Tapi percayalah, si othor sudah membaca semua komentar dan memberikan stempel Hot, kog ππ
Othor minta masukan nich ... ending MjB mau dibikin sad atau bahagia?? Meski sebenarnya sosok Abimana dalam kehidupan nyata, sudah lama meninggal, dan kisahnya ada di novel sebelah π
Othor manut suara terbanyak, takut kena tablek kak Nofi dkk kalau MjB sad endingπππβββ
Monggo tinggalkan komentar sesuai keinginan Sobat-Sobat. Trimakasih dan banyak cinta untuk Sobat semua β€β€β€β€β€β€β€β€
__ADS_1