
Happy reading .... πππ
Seminggu sebelum Anisa dan Heru kembali ke Cambridge, Raina memutuskan untuk pindah dari apartemen yang beberapa bulan ini menjadi tempatnya bernaung.
Raina menyewa apartemen yang berada tidak jauh dari apartemen milik Birru dan Anisa. Sebenarnya, Birru ingin membantu Raina, melunasi uang sewanya. Namun dengan tegas, Raina menolak. Ia tidak ingin terlalu berhutang budi pada Birru.
.
.
Swastamita menyapa diiringi desah sang bayu yang semakin bertiup mesra. Sayup-sayup terdengar kidung kerinduan seorang hamba yang teramat merdu. Setiap kali mendengar kidung indah itu, hati Birru tergetar. Ia semakin terpesona dengan sang pemilik suara. Siapa lagi jika bukan Raina???
"Assalamu'alaikum, Rain ...." Birru mengucap salam tatkala pintu apartemen dibuka oleh Raina.
"Wa'alaikumsalam, Ru ...," balas Raina.
"Rain, mau sholat berjamaah di masjid atau di apartemen?"
"Di apartemen saja, Ru. Hari ini, aku sedang kurang enak badan. Dari tadi pagi, aku nggak selera makan, Ru. Perutku mual. Kepalaku pusing."
"What? Jangan-jangan kamu hamil, Rain."
PLETAK ....
Satu jitakan mendarat di dahi Birru.
"Jangan asal kalau ngomong, Ru! Aku masih virgin. Nggak mungkin hamil," tandas Raina.
"Yaa, siapa tau kita pernah melakukan khilaf."
"Hisssh, nggak mungkin. Paling-paling, aku masuk angin, Ru."
"Hemmm, maybe. Sudah minum obat?"
"Belum. Aku nggak suka obat. Aku terbiasa mengobati masuk angin dengan meminum jahe hangat. Masalahnya, aku nggak punya persediaan jahe."
"Aku belikan ya?"
"Nggak usah. Insya Allah, besok juga sembuh."
"Atau, aku buatkan sup?"
"Nggak usah. Aku lagi nggak selera makan. Lagian, perutku sudah terisi buah."
"Tapi Rain, kamu harus makan yang banyak untuk memulihkan tubuhmu. Ingat, Kean menitipkanmu padaku! Kalau kamu sakit dan badanmu semakin kurus, bisa-bisa ... Kean datang ke Cambridge untuk menghajarku. Karena, aku ngga becus menjaga calon istrinya." Birru merayu.
Raina bergeming. Ia nampak berpikir sejenak. Apa yang diucapkan oleh Birru, memang ada benarnya. Raina tidak ingin sakitnya semakin parah bila sesuap nasipun tidak masuk ke dalam perutnya.
__ADS_1
"Baiklah, Ru. Masaklah sup untukku. Tapi, setelah kita menjalankan sholat maghrib," pinta Raina.
"Nah ... gitu donk. Aku imami, ya Rain? "
"Heem. Masuklah Ru!" Raina mempersilahkan Birru untuk masuk ke dalam apartemen.
Setelah mensucikan diri dengan air wudhu, Birru dan Raina memulai ritual sholat maghrib. Kedua insan itu larut dalam kekhusyukan beribadah.
Seusai mengucap dua salam, Raina dan Birru menengadahkan kedua telapak tangan seraya melangitkan pinta, merayu pada Robbi, agar apa yang mereka hajatkan, diijabah oleh Sang Penulis Skenario kehidupan.
.
.
Meski seorang tuan muda yang tajir melintir, Birru sangat lihai memainkan alat-alat dapur. Bahkan, ia sangat pandai memasak. Masak sup, masak mie, dan masak air. π
"Taraaaa ... supnya sudah jadi. Makanlah, Rain!" titah Birru sembari meletakkan mangkuk yang berisi sup di atas meja.
"Heem. Makasih, Ru."
"Dihabiskan ya Rain! Biar cepet sembuh."
"Iya. Kamu juga makan, Ru!"
"Aku masih kenyang."
Netra Birru berbinar. Degup jantungnya berdisko saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Raina. Birru mengira, Raina benar-benar akan menyuapinya.
"Mau ... mau. Aku mau makan kalau disuapi sama kamu."
"Sayang banget, kamu 'kan masih kenyang. So, nggak jadilah ... aku suapi."
GLEG ...
Birru menelan saliva. Ia tidak menyangka, jika Raina hanya mengerjainya. Birru merasa kecewa dan kesal karena candaan Raina yang tidak lucu.
"Hhehe, maaf ya Ru. Aku tadi cuma bercanda. Jangan memasang tampang kek gitu dong! Aku kan jadi atut." Raina memasang wajah puppy eyes dan mengangkat kedua jarinya, membentuk huruf V.
Rasa kecewa dan kesal yang dirasakan oleh Birru menguap begitu saja. Hatinya luluh karena melihat wajah Raina yang sangat menggemaskan. Ingin rasanya, Birru menghalalkan Raina. Agar ia dan Raina, bisa memadu kasih yang bernilai ibadah. Namun, Birru harus menghempas keinginannya. Karena, bukan dia yang dicintai oleh Raina.
"Rain, andai hatimu masih kosong, aku ingin sekali mengisinya. Aku juga ingin, mencurahimu dengan kasih sayang dan ketulusan cinta dariku. Tapi, itu tidaklah mungkin. Karena hatimu sudah terisi oleh Keanu. Rain, cintaku tidak harus memilikimu. Berada di dekatmu sebagai seorang sahabat seperti ini saja sudah cukup bagiku," monolog Birru di dalam hati.
"Ru, kog malah bengong?" Raina menoel pundak Birru.
Birru yang tengah larut dalam lamunan pun terkesiap. "Eh ... ya."
"Ru, sebenarnya apa sih yang sedang menari-nari dipikiranmu?"
__ADS_1
"Kamu, Rain."
"Aku?" Raina menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuk.
"Ya, kamu. Sayang banget, aku terlambat menemukanmu. Sosok gadis yang religius dan menyenangkan," jawab Birru sembari menatap wajah Raina dengan intens.
"Maksudmu?"
"Maksudku, andai kita sudah saling mengenal sebelum kamu bertemu dengan Keanu, mungkin saja ... kamu akan jatuh hati padaku, Rain. Bukan pada Keanu."
"Pfffttt ... nggak mungkin, Ru. Kamu jadi orang kog ... PD nya tinggi banget sih. Lagian, aku dan Keanu sudah saling mengenal sejak kami masih balita. Dan mungkin, sejak saat itulah ... aku sudah terpesona pada Keanu," balas Raina disertai tawanya yang renyah.
Raina tidak menanggapi semua ucapan Birru dengan serius. Namun malah menanggapi dengan candaan. Raina mengerti perasaan Birru yang sebenarnya, tapi ... ia bersikap seolah tidak mengerti. Raina tidak ingin memberikan harapan palsu, karena selamanya ia tidak akan pernah bisa mencintai pria lain. Hanya Keanu yang dicintai oleh Raina.
πΉπΉπΉ
"Stev, kapan kau akan menikahiku?" Sherin menatap wajah Steven dengan intens. Jari lentiknya membentuk pola tak beraturan di dada bidang pria blonde nan lucnut itu.
"Secepatnya, asal ... Honey bersedia melakukan sesuatu untukku." Steven menarik salah satu sudut bibirnya.
"Apa yang harus aku lakukan untukmu, Stev?"
"Buat Raina dan Sean terpisah!"
"Mengapa aku harus memisahkan mereka berdua?"
"Honey, ini permintaan dari Lorena. Kekasih Sean. So, aku ingin membantu wanita malang itu. Sean sudah menghamili Lorena. Tapi, pria brengse* itu tidak mau bertanggung jawab. Honey, kasihan Raina jika menjadi korban selanjutnya," dusta Steven.
"Baiklah Stev, bagaimana caranya agar aku bisa memisahkan mereka berdua?"
Steven menyeringai. "Honey, bawalah Raina ke villa ini. Aku dan Lorena yang akan menjalankan rencana selanjutnya."
"Baiklah, Stev. Aku akan membawa Raina ke villa ini."
"Trimakasih, Honey." Steven mengangkat dagu Sherin dan memberikan ciuma* fanas.
"Aku akan membawamu melayang ke surga lagi, Honey," bisik Steven sembari melepaskan kain yang membungkus tubuh Sherin.
Senyum terbit di bibir Sherin, ketika bibir Steven mulai menyapu seluruh lekuk tubuhnya. Apa yang dilakukan oleh Steven, bagaikan candu bagi Sherin.
Entah, apa yang direncanakan oleh Steven dan Lorena untuk memisahkan Birru dan Raina.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like dan beri komentar penyemangat.
__ADS_1
Trimakasih bagi readers yang masih setia mengikuti MJB dan memberikan gift ataupun vote sebagai bentuk dukungan ππ