
"I love you so much my husband ...."
CUP
Zahra mengecup bibir Birru sebelum merebahkan tubuhnya yang serasa lelah. Ia menuntun tangan kekar Birru untuk memeluk tubuhnya yang masih polos.
Birru mengatur nafasnya yang menderu. Ia tidak menyangka, Zahra teramat lihai dalam bercint*.
"Maafkan aku Khanza, maaf ...," lirih Birru yang hanya terlisan di hati.
Birru mengecup kening Zahra sebelum ia memejamkan mata.
.
.
Birru terjaga di sepertiga malam. Bibirnya terhias seutas senyum kala melihat wajah cantik yang masih enggan membuka matanya karena rasa lelah.
"Zahra, maaf .... Maaf karena aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu."
CUP
Birru mengecup kening Zahra sebelum beranjak dari ranjang.
Tetiba terdengar suara baby Kevin menangis. Gegas, Birru berjalan mendekat ke arah box bayi yang berada di sisi ranjangnya.
Birru meraih tubuh mungil baby Kevin yang masih berusia 6 bulan itu dengan sangat hati-hati. Lalu ia pun menggendong dan menimang-nimang baby Kevin agar tangisnya mereda.
"Sayang, kenapa menangis? Apa kau lapar?"
Birru mengecup pipi baby Kevin. Seolah senang mendapatkan kecupan dari papa tirinya, baby Kevin berhenti menangis dan mengerjap-ngerjapkan mata.
"Tunggu sebentar ya, daddy akan membuatkanmu susu! Kasihan mommy, dia sangat lelah. Jadi, jangan merengek meminta asi, okay baby handsome."
Perlahan, Birru menaruh kembali baby Kevin di box bayi.
Tanpa Birru sadari, Zahra sudah berdiri di belakangnya.
"Kak Birru ...."
Birru terkesiap mendengar suara lembut yang menyapanya. Refleks, ia pun menoleh ke arah asal suara. "Eh ... Zahra. Ternyata kamu sudah bangun."
"Iya Kak. Trimakasih sudah menenangkan baby Kevin, sehingga ia tidak menangis lagi." Zahra menatap manik mata Birru disertai senyum yang merekah.
"Tidak perlu berterimakasih, Ra. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang daddy."
Hati Zahra menghangat tatkala mendengar ucapan Birru.
"Ra, aku ingin membersihkan badan dulu ...."
"Iya Kak."
Birru berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya dengan mandi junub.
Dengan hati-hati, Zahra meraih tubuh mungil putranya. "Sayang, kau pasti sangat lapar, Nak."
Zahra duduk di tepi ranjang dan mulai menyusui putranya. Baby Kevin menghisap sumber energinya dengan sangat rakus, seolah ia ingin menghabiskan seluruh asi yang terasa sangat lezat.
Selesai membersihkan badan, Birru mengenakan baju koko berwarna putih dan bawahan berupa sarung.
__ADS_1
Netra Zahra tidak berkedip tatkala menatap suaminya yang terlihat bertambah rupawan. Ia semakin mengagumi sosok pria yang kini sudah berdiri di hadapannya.
"Ra ... kak Birru sholat malam dulu ya," ucap Birru disertai seutas senyum.
"Iya, Kak. Langitkan pinta, semoga rumah tangga kita sakinah, mawadah, warohmah."
Ucapan Zahra sukses mencubit hati Birru.
"Iya, Ra. Kak Birru akan melangitkan pinta, semoga rumah tangga kita sakinah, mawadah, warohmah."
"Trimakasih, Kak ...."
Birru mengangguk samar. Lalu ia membentangkan sajadah dan mulai melakukan ritual sholat malam.
Netra Zahra berkaca-kaca ketika melihat suaminya sangat khusyuk beribadah. Ia teramat bersyukur diperistri oleh pria yang berparas rupawan dan soleh. Namun satu hal yang masih membuatnya bersedih. Cintanya yang teramat besar pada Birru, belum mendapatkan balasan.
Seusai mengucap dua salam, Birru menengadahkan kedua telapak tangan. Ia melangitkan pinta yang hanya terlisan di dalam hati.
"Ya Allah, ampunilah hamba yang telah berbuat zalim. Berilah petunjuk kepada hamba-Mu ini, agar bisa mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawadah, warohmah bersama Zahra. Hapuskan nama Khanza di dalam hati hamba. Sungguh, hamba tidak ingin menyakiti hati keduanya. Hamba ingin melihat mereka bahagia. Ya Robb, berikanlah Khanza kebahagiaan meski tanpa hamba. Dan, tumbuhkanlah rasa cinta di dalam hati hamba, untuk Zahra. Wanita yang Engkau kehendaki menjadi jodoh hamba ...."
Birru mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia raih mushaf di atas nakas, lalu melantunkan kalam cinta sampai tiba waktu subuh.
.
.
Khanza duduk termenung sambil menatap liontin pemberian Birru. Sesekali ia menghela nafas dan memejamkan mata ketika terbayang wajah rupawan yang telah terpatri di dalam ingatan.
"Za ...." Kirana menepuk pelan bahu putrinya.
Khanza terkesiap. Ia segera menyimpan liontin pemberian Birru di saku celananya.
"Za, dari tadi bunda mencarimu. Ternyata yang dicari sedang duduk termenung ...," tutur Kirana sembari mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Bunda mencari Khanza?"
"Heheem. Bunda khawatir, Khanza comel tertinggal di Inggris."
"Isssshhhh, Bunda. Ya ... nggak mungkinlah, Khanza tertinggal di Inggris. Bunda sihhhh, dari tadi menempel ayah terus kek prangko, jadi ya nggak memperhatikan anak-anaknya." Khanza mencebikkan bibir.
"Bunda 'kan nggak mau berjauhan dari ayah. Takutnya, ayah ditempelin wewe gombel ...."
Khanza tergelak mendengar celotehan bundanya yang hmmmm .... "Bund, kalau ayah mendengar celotehan Bunda, bisa-bisa ... ayah memberi hukuman yang mengerikan. Nablek Bubund pake' tekleknya uti ...."
"Nggak lah, ayah nggak mungkin nablek bunda. Dapat dipastikan, ayah bakal memberi hukuman yang enak. Enak untuk ayah, dan enak untuk bunda." Kirana membalas asal ucapan putrinya.
Khanza mengernyitkan dahi. "Maksud Bunda? Memang ada ya, hukuman enak?"
"Upsss ... keceplosan." Kirana membekap mulutnya yang comel dengan telapak tangan.
"Bund, beritahu Khanza donk, hukuman apa yang bikin enak!" pinta Khanza yang dipenuhi oleh rasa ingin tahu.
Kirana bergeming. Ia menyesal telah asal bicara.
"Bund .... Bubund," rengek Khanza.
"Ehh ... anu, itu. Ayah memberi hukuman makan malam berdua ...."
"Dinner romantis, maksud Bunda?"
__ADS_1
"Yaaaa ... begitulah ....." Kirana menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Haduchhhhh, keceplosan. Untung ... Khanza nggak ngeh." Kirana bermonolog di dalam hati.
Khanza manggut-manggut dan ber O ria. "Ooooo ...."
"Za ...."
"Ya, Bund ...."
"Kembali ke lepi ...."
"Maksudnya, apa Bund?"
"Itu tadi. Kenapa kamu termenung?"
Khanza menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan.
"Bund, Khanza belum bisa menghempas perasaan yang tidak semestinya ...."
"Perasaanmu pada Birru?"
Khanza mengangguk samar. "Iya, Bund."
Kirana mengulas senyum dan menatap manik mata putrinya. "Za, usiamu masih sangaattttt belia. Lebih baik, fokus belajar dan kejar apa yang menjadi cita-citamu terlebih dahulu. Nikmatilah masa mudamu dengan berkreasi dan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Za, Bunda mengerti apa yang kamu rasakan. Karena, bunda pernah mengalami patah hati karena pupusnya cinta pertama," tutur Kirana.
"Benarkah, Bund? Diusia berapa bunda mengalaminya?" cecar Khanza.
"Hehem. Bunda mengalaminya ketika masih duduk di bangku SMA. Tepatnya, saat bunda masih berusia 16 tahun. Cinta pertama bunda ... dia sahabat bunda sendiri."
"Siapa namanya, Bund?"
"Namanya ... Ra-Rai .... Akh, namanya Paijo."
"Pffffttt ... hahhahaaa. Jadi, cinta pertama Bunda bernama Paijo. Nggak keren amat ...." Khanza tergelak mendengar nama Paijo. Terbayang olehnya, wajah Paijo penjual bakso keliling.
"Ehem, ada yang sedang mengenang masa lalu nihhhh ...." Tanpa Kirana dan Khanza sadari, ternyata Abimana sudah berdiri di belakang mereka.
"Eh ... Ayah." Kirana tersenyum nyengir.
"Jadi, Bunda masih naksir Paijo? Bukankah sudah ada Markun yang mewarnai hidup Bunda selama ini?" Abimana melontarkan pertanyaan seraya bercanda.
"Markun?" Khanza menautkan kedua alisnya.
Tanpa memperdulikan ekspresi Khanza, Abimana menuntun istrinya untuk segera beranjak dari sofa.
"Za, kamu di sini dulu ya! Jangan menyusul kami! Ayah akan memberi Bundamu ini, HUKUMAN." Abimana menekankan kata HUKUMAN.
"Ta-tapi, Yah." Wajah Kirana berubah pias. Ia mengerti apa yang akan dilakukan oleh Abimana. Tentu saja memberi hukuman yang melenakan. πππ
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Jangan lupa jejak likenya πππ
Trimakasih πππ
__ADS_1