
Happy reading πππ
Birru menyandarkan kepalanya pada bingkai jendela kamar. Wajahnya terlihat sendu. Tak ada seutas senyum pun yang menghiasi wajah tampannya.
Birru menatap tasbih pemberian Khanza, dengan tatapan tak terbaca. Netra pria bermanik hijau itu berkaca-kaca, menyiratkan lara di dalam kalbu.
Seharusnya, malam ini ... merupakan malam yang sangat berkesan bagi pengantin baru. Mereguk kenikmatan surga dunia, yang bernilai ibadah. Namun, tidak dengan Birru. Pria berparas rupawan itu, sama sekali belum menyentuh Zahra. Setiap kali, Birru memaksakan diri untuk mengecup Zahra, terlintas bayangan Khanza di pelupuk netranya.
Zahra mengerti apa yang tengah dirasakan oleh Birru. Ingin rasanya, Zahra membebaskan Birru dari ikatan yang terlanjur membelenggu. Namun, karena perasaan cintanya yang teramat besar terhadap Birru, Zahra memilih untuk tetap mempertahankan ikatan itu. Zahra bertekad untuk memperjuangkan apa yang telah digenggamnya. Ia teramat yakin, kelak ... Birru akan membalas perasaan cintanya.
"Kak, sudah malam. Mari, kita beristirahat ... !" Zahra memeluk Birru dari belakang. Ia sandarkan kepalanya pada bahu Birru yang bidang.
"Aku masih ingin di sini. Jika kamu ingin beristirahat, silahkan ... Ra!" Birru melepaskan tangan Zahra yang melingkar di tubuhnya.
"Kak, Zahra tidak akan beristirahat sebelum Kak Birru beristirahat. Zahra akan menemani Kak Birru, meski sampai esok pagi," tandas Zahra.
"Ra, please ... aku sedang ingin sendiri-"
"Apa, karena Kak Birru masih memikirkan perempuan itu? Kak, bukankah sebelum terucap kabul, Zahra sudah meminta ... agar Kak Birru membatalkan pernikahan kita? Tapi apa?? Kak Birru bersikukuh untuk tetap melanjutkan pernikahan kita, dengan alasan karena tidak ingin mengingkari janji yang telah terucap. Kak, aku ini istrimu. Aku berhak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Kak Birru. Aku juga ingin melakukan kewajibanku sebagai seorang istri, bukan malah disuruh meninggalkan suaminya yang sedang termenung seorang diri, melamunkan perempuan lain. Kak, ini malam pertama kita. Yang seharusnya dipenuhi oleh kebahagiaan." Zahra meluapkan semua yang mengganjal di dalam hatinya. Kemudian, ia berlalu pergi meninggalkan Birru yang masih berdiri terpaku.
"Arggghhhhhhh ...." Birru mengusap wajahnya dengan kasar. Ia teramat frustasi. Sungguh, baru kali ini ... seorang Albirru dilema menentukan arah hidup. Meski baru beberapakali bertemu dengan Khanza ... Birru sudah jatuh hati pada gadis kecil nan unik itu. Bahkan, perasaannya terhadap Khanza, lebih besar daripada perasaan yang pernah ia miliki terhadap Raina.
Meski serasa berat, Birru melangkahkan kaki, menghampiri Zahra.
Perempuan berambut pirang itu merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap. Ia menenggelamkan wajahnya di bantal, menahan suara tangisannya yang menyayat hati.
"Ra, maaf ...." Birru mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Ia belai rambut Zahra yang tergerai.
"Ra, kak Birru sungguh tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu. Kak Birru mohon, jangan menangis lagi ya!" Birru membalikkan tubuh Zahra. Ia bawa tubuh mungil istrinya ke dalam pelukkan.
"Ra, aku akan berusaha menjadi seorang suami yang terbaik untukmu." Birru berbisik dengan suaranya yang terdengar lembut. Zahra membalas pelukan Birru dan mengusap wajah cantiknya yang basah dengan jemari tangan.
"Kak ... Zahra juga akan berusaha menjadi istri yang terbaik untuk Kak Birru. Jika Kak Birru tidak bisa melupakan perempuan itu, Zahra ... rela berbagi suami. Nikahilah dia ... !" Suara Zahra terdengar lirih. Demi cintanya yang teramat besar terhadap Birru, Zahra bersedia jika suaminya itu menikah lagi.
Birru meregangkan pelukannya. Wajah tampan yang semula muram, kini terhias oleh seutas senyum. "Ra, bagaimana bisa ... kak Birru menikahi seorang gadis yang masih berusia 14 tahun? Apa kata orang-orang nanti? Pasti, mereka akan mengira ... kak Birru seorang pedofil."
__ADS_1
"Kak, jika Kak Birru benar-benar mencintainya, tunggulah ia hingga dewasa. Temui perempuan itu kembali, di saat yang telah tepat. Zahra rela berbagi suami, asalkan kita bisa selalu bersama, Kak ...," tutur Zahra dengan tulus.
"Ra, Kak Birru akan berusaha menghempas perasaan yang tidak semestinya ini. Kak Birru takut, tidak akan bisa berlaku adil ... jika apa yang kamu ucapkan itu, kelak benar-benar terjadi. Kak Birru bukanlah Nabi, yang bisa sempurna dan tak luput dari salah serta khilaf."
"Kak ... Zahra sangat mencintai Kak Birru. Apapun akan Zahra lakukan, demi kebahagiaan Kakak." Zahra menyapu wajah Birru yang rupawan dengan jemari tangannya.
"Kak, malam ini ... Zahra ingin melayani Kak Birru sebagai seorang istri." Zahra melingkarkan tangannya di leher Birru.
CUP
Zahra mengecup bibir suaminya dengan penuh kelembutan. Ia tarik tubuh Birru hingga menindih tubuhnya. Jemari lentik Zahra, menuntun tangan Birru untuk menjamah dua harta terindahnya yang sangat menggoda.
"Maafkan aku, Khanza ...," lirih Birru di dalam hati. Meski batinnya menolak ... Birru tidak ingin mengecewakan Zahra, perempuan yang kini berhak mendapatkan sentuhan kasih sayang darinya.
Birru mengecup kening Zahra, dan mulai memberikan sentuhan yang melenakan.
Senyum terbit menghiasi bibir Zahra, setelah mendapat apa yang ia inginkan.
Zahra melepaskan kain yang membalut tubuhnya, hingga nampaklah harta terindah yang menyilaukan mata. Birru menelan saliva ketika melihat pemandangan yang tersuguh di hadapannya. Batin boleh menolak, tapi ... nalurinya sebagai seorang lelaki, mendorong Birru untuk menikmati hasil karya Illahi yang begitu sempurna.
"Kak, lalukanlah sekarang ... !" pinta Zahra dengan penuh damba.
Birru mengangguk pelan disertai seutas senyum penuh makna. Namun, saat ia akan menenggelamkan tubuhnya, bayangan Khanza kembali hadir. Hasrat yang membara, mulai meredup. Tubuh Birru serasa lemas. Bagian tubuhnya yang semula menegang, tetiba menjadi layu .... "Maaf, Ra .... A-aku, belum bisa melakukannya." Birru tertunduk. Ia merutuki kelemahannya, karena tidak bisa menghapus bayangan wajah Khanza.
"Iya, Kak. Zahra mengerti ...." Suara Zahra terdengar lirih. Raut wajah yang semula dipenuhi oleh binar kebahagiaan, kini nampak sendu. Zahra teramat kecewa, karena Birru tidak berhasrat lagi untuk menyatukan raga mereka.
πΉπΉπΉ
Keanu berdiri di belakang Raina yang kini tengah asik mematut diri di depan cermin.
"Sudah cantik ... Rain. Meski tanpa riasan, wajahmu selalu cantik." Keanu melontarkan pujian disertai senyuman yang merekah. Pujian yang dilontarkan oleh Keanu, sukses mencetak rona merah di wajah Raina.
"Ke, sudah selesai ya mandinya?" Raina melontarkan pertanyaan, hanya untuk menutupi kegugupan. Perlahan, ia pun membalikkan tubuhnya.
"Sudah, Rain. Tambah handsome 'kan setelah mandi?" Keanu menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Hmmmm, iya. Handsome. Sangattttt handsome." Raina mencubit pipi Keanu, gemas.
"Rain ...."
"Ya ...."
"Aku benar-benar tidak pernah menyangka, gadis yang dulu bar-bar dan comel, kini menjelma menjadi seorang bidadari yang sangat anggun." Keanu menyelipkan anak rambut di belakang telinga Raina. Ditatapnya wajah Raina dengan intens. Raina menunduk malu, karena tatapan netra Keanu menyiratkan sebuah makna.
"Rain, aku sangat bahagia ... karena cinta kita telah menyatu."
"Aku juga, Ke ...." Perlahan, Raina mengangkat wajahnya kembali.
Degup jantung Keanu dan Raina terdengar bertalu-talu ketika netra mereka saling bersiborok.
Keanu dan Raina saling berpeluk. Lalu ... kedua insan yang tengah dimabuk cinta itu, memutar tubuh mereka disertai tawa riang. Seperti dua bocah kecil yang kegirangan karena mendapat mainan.
BRUK
Tubuh mereka terjatuh di atas ranjang. Dengan posisi, tubuh Raina menindih tubuh Keanu.
Deg ... deg ... deg ....
Jantung Keanu semakin terdengar bertalu-talu saat squisy milik Raina menyentuh dada bidangnya.
Cukup lama mereka berada di posisi yang sama. Keanu menelan saliva, ketika bibir ranum Raina terlihat semakin menggoda.
Refleks, Keanu menarik tengkuk Raina. Pemuda tampan bermata teduh itu, sudah tidak bisa lagi menahan hasrat, untuk segera menyentuh bibir ranum dan menyesap manisnya.
Bibir Keanu dan Raina pun saling berpagut. Lantas ... apa yang akan terjadi selanjutnya???? πππ
πΉπΉπΉ
Bersambung .....
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like, beri komentar, gift, atau vote untuk mendukung MJB, karya remahan author serbuk gergaji πππ
__ADS_1
Trimakasih πππ