Mantan Jadi Besan

Mantan Jadi Besan
Perpisahan


__ADS_3

Pagi ini, Abimana, Raikhan, beserta keluarga mereka, bersiap untuk terbang kembali ke Indonesia. Tak terkecuali sepasang pengantin baru, Keanu dan Raina.


Sebagai seorang sahabat, Birru turut mengantar Raina beserta keluarganya sampai ke bandara dengan di dampingi oleh Zahra.


"Birru, trimakasih ...," ucap Raina dengan tulus.


"Untuk apa Rain?" Birru sedikit mengerutkan dahinya.


"Untuk segala yang telah kamu berikan, selama aku tinggal di Cambridge. Aku teramat berhutang budi padamu, Ru ...."


Birru menyunggingkan seutas senyum dan membalas ucapan sahabatnya. "Memangnya, apa yang telah aku berikan padamu, Rain?"


"Kamu memberikan rasa aman, selama aku tinggal di Cambridge, Ru. Berulang kali, kamu menyelamatkanku dari perbuatan buruk yang akan dilakukan oleh Steven terhadapku." Netra Raina berkaca-kaca. Teringat kembali kejadian buruk yang menimpanya, selama ia tinggal di Cambridge.


"Rain, itu tidak sebanding dengan apa yang telah kamu berikan. Justru, aku yang seharusnya berterimakasih. Karena kehadiranmu, memberi seberkas cahaya di dalam hidupku. Aku mengenal Islam dan mendapat hidayah dari Allah, karenamu. Aku juga bisa menikmati rendang hampir setiap hari, itu juga karenamu. Kamu sosok sahabat yang tidak akan pernah aku lupakan, Rain ...."


Hening ....


Hanya terdengar desah sang bayu, menyertai suasana haru yang tercipta.


"Bro, trimakasih .... Apa jadinya istriku ini, jika selama di Cambridge tidak ada sosok malaikat sepertimu. Hanya doa tulus, yang dapat kami persembahkan untuk membalas segala kebaikan dan pengorbanan yang telah kamu berikan ...," tutur Keanu. Ia dan Birru berpeluk singkat.


"Sama-sama, Bro. Trimakasih atas doa tulus kalian. Apa yang aku berikan, tidak sebanding dengan apa yang telah Raina berikan. Berkat Raina, seorang Sean Wilson yang tidak pernah mempercayai adanya Tuhan, kini teramat mempercayai dan meyakini sepenuh hati adanya Tuhan. Bahkan, istrimu itu mampu menuntunku menjadi pria yang berkepribadian lebih baik dibandingkan sebelumnya ...." Manik mata Birru terlihat basah tatkala mengingat bagaimana Raina menuntunnya sehingga ia mampu berhijrah. Berhijrah menjadi seorang mualaf, dan berganti nama ... Albirru.


"Birru, berkunjunglah ke Jogja! Sekalian honeymoon. Di Jogja, banyak sekali tempat wisata yang sangat romantis lho," timpal Raikhan. Ia menepuk bahu Birru. Pria blonde itu berusaha tersenyum meski jantungnya berdenyut nyeri ketika mendengar ucapan Raikhan. Bagaimana ia dan Zahra bisa honeymoon jika wajah Khanza selalu terbayang. Dapat dipastikan, adik kecilnya akan kembali layu sebelum tenggelam ke dalam kawah surga dunia.


"Iya, Om. Insya Allah, kami akan berkunjung ke Jogja, untuk menyambung tali silaturahmi."


DEG


Jantung Khanza dan Birru berdegup sangat kencang ketika pandangan netra mereka bertemu. Gegas, Khanza menundukkan wajahnya.


"Za ...." Tetiba, Zahra meraih tangan Khanza.

__ADS_1


"Za, maafkan kak Zahra! Kak Zahra tidak bermaksud menjadi penghalang cinta kalian. Kelak, jika Khanza telah dewasa, Kak Zahra rela berbagi suami," tutur Zahra sembari menatap manik mata Khanza. Di bibir bisa berkata rela, tetapi di dalam hati ... hanya Illahi yang tahu.


"Kak Zahra tidak perlu berbagi suami. Rasa cinta di hati kami, kelak ... akan memudar seiring berjalannya sang waktu. Khanza yakin, suatu saat ... akan datang seorang pria yang lebih sempurna dibanding Kak Birru," tandas Khanza tanpa disertai seutas senyum.


Gegas, Khanza melangkah pergi. Ucapan Zahra semakin menyadarkan bahwa ia dan Birru tidak akan mungkin menyatu. Khanza faham, meski Zahra berkata rela berbagi suami, tapi ... dari sorot matanya menyiratkan, ketidak relaan. Khanza menghela nafas dalam, mengusir rasa yang semakin mendera.


"Aku harus ikhlas. Aku harus kuat menghadapi ujian cinta dari-Mu, yaa Robb," lirih Khanza di dalam hati.


Birru menatap nanar kepergian gadis yang masih bertahta di dalam hatinya. Dalam benak, Birru melangitkan pinta, semoga kelak ... Khanza menemukan kebahagiaan dan cinta sejatinya.


.


.


"Mbak Khanza ...." Dylan menepuk bahu Khanza yang kini tengah bertopang dagu.


"Heeemmm, ada apa Dek?" tanya Khanza tanpa menoleh.


"Mbak, dari tadi ... Dylan perhatikan, wajah Mbak Khanza tidak seceria biasanya. Mbak Khanza, masih kepikiran Kak Birru, ya?"


"Mbak, lupakan pria blonde itu! Masih banyak cowgan asli Indonesia. Contohnya Dhava dan Dylan." Dylan terkekeh. Bocah kecil itu berusaha menghibur Khanza dengan candaan recehnya.


"Kalian masih bocah. So, Mbak Khanza ... blassss nggak tertarik." Khanza membalas celotehan Dylan tanpa merubah posisinya. Bertopang dagu dan menatap pemandangan yang tersuguh dari jendela pesawat.


"Owhhhh ... begitu yakkkk? Kalau Dua F?"


Khanza mengernyitkan dahi dan memutar kepalanya dengan malas. "Dua F ... ?"


"Heem Dua F, Mas Fadlan dan Mas Fadli. Mereka handsome dan soleh. Mbak Khanza bisa memilih salah satu di antara mereka. Pasti, om Fadhil dan tante Hana akan sangat senang jika Mbak Khanza, kelak menikah dengan salah satu putra mereka."


Bibir Khanza mencebik. "Isshhhh, mereka bukan kriteria cowgan yang Mbak Khanza suka."


"Hmmm ... Mbak Khanza pasti suka pria blonde. Yang badannya atletis seperti kak Birru, ya 'kan? Ingat Mbak ... Mbak Khanza masih berusia 14 tahun! Belum waktunya cinta-cintaan. Kata Bunda, anak remaja itu masih labil. Contohnya Mas Kean. Sewaktu SMA, Mas Kean masih labil pakek banget. Menurut pengamatan Dylan, apa yang dirasakan oleh Mbak Khanza itu, hanya bersifat sementara. Mbak Khanza bakalan lupa sama Kak Birru, setelah bertemu dengan cowgan yang lebih sempurna ...," tutur Dylan layaknya seorang kakak menasehati adiknya.

__ADS_1


Khanza menyipitkan matanya. Ia teramat heran, bisa-bisanya si bocil berbicara seperti orang yang sudah dewasa.


"Dek, usiamu masih 11 tahun, tapi ... kog bicaramu seperti orang yang sudah tuek?"


"Hissshhh, Mbak Khanza. Dylan seperti ini karena sering mendengar bunda ketika menasehati Mas Kean." Bibir Dylan mengerucut.


"Owhhhh ...."


Khanza menghempaskan punggungnya di sandaran kursi pesawat. Lalu ia memejamkan mata, karena rasa kantuk yang tetiba menyerang.


.


.


Birru merebahkan tubuh di atas ranjang. Dan menjadikan dua tangan kekarnya sebagai bantal.


"Khanza ... bagaimana bisa, aku mencintai gadis yang masih sangat belia itu. Bukankah sebelumnya, yang aku cintai ... Raina? Mungkinkah perasaanku terhadap Raina hanya sebentuk kekaguman dan bukan rasa cinta yang sesungguhnya? Sedangkan perasaanku terhadap Khanza ... rasa cinta yang benar-benar tulus dari hati ...." Birru bermonolog sembari menatap langit-langit kamar.


CEKLEK


Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka dengan perlahan.


Netra Birru membola saat Zahra keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan lingerie berwarna merah, sehingga menampakkan lekuk tubuh yang sangat menggoda.


Mungkinkah kali ini ... Birru mampu melupakan bayangan wajah Khanza ketika mereka memulai kembali ritual penyatuan raga? Atau ... entah ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Maaf UP nya molor lagi ... karena si othor merasa nggak ada yang rindu πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† Tapi boong ... πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Jangan lupa like, koment, gift, atau vote untuk mendukung MJB ya Sob. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

__ADS_1


Trimakasih 😘😘😘


__ADS_2