
Happy reading .... ππ
Tanpa sepengetahuan Sean, Raina pun melangkah pergi, meninggalkan mereka berdua. Sean dan Lorena.
Entah angin surga dari mana, yang membuat Sean tersadar. Sean menjauhkan tubuhnya dari Lorena. "Lorena, jangan pernah menemuiku lagi! Apalagi menggodaku. Aku bukan Sean Wilson yang dulu. Aku ... Muhammad Abhizar Albirru."
Lorena menggeleng-gelengkan kepala dan menutupi bibirnya yang menganga dengan telapak tangan. "What? Muhammad Abhizar Albirru???? Bagaimana bisa ...?"
"Bisa saja. Karena sekarang, aku seorang muslim. Aku percaya bahwa Tuhan itu ada," jawab Sean dengan tegas.
Setelah memberi jawaban, Sean mengayunkan kaki. Ia meninggalkan Lorena yang masih berdiri mematung karena terkejut, mendengar jawaban yang diberikan olehnya.
Lorena tidak menyangka bahwa, kini Sean mempercayai adanya Tuhan. Bahkan, Sean memeluk agama Islam sebagai keyakinannya.
"Rain, tunggu!" Sean setengah berlari mengejar Raina.
"Rain ...," pekik Sean. Namun, Raina tetap tidak memperdulikan panggilan Sean.
GREPP
Sean mencengkram tangan Raina. Sehingga Raina terpaksa menghentikan langkahnya.
"Birru, lepaskan tanganmu!" titah Raina dengan nada ketus.
"Rain, please ... jangan seperti ini! Kamu cemburu ya?" Perlahan, Sean melepaskan cengkraman tangannya.
"Hah, cemburu? Naudzubillah ... amit amit jabang bayi. Sory Ru, aku sama sekali nggak merasa cemburu. Aku hanya kecewa, karena kamu tidak menolak saat dicium oleh wanita yang bukan mahram. Jangan-jangan, kamu masih belum berubah. Masih mesu*," sarkas Raina.
"Rain, perubahan seseorang itu butuh proses. Sebagai seorang sahabat, seharusnya ... kamu menyadarkanku. Bukan malah meninggalkan aku yang hanya berdua dengan Lorena. Rain, bukankah ... kamu bersedia membimbingku untuk menjadi pribadi yang lebih baik? Raina, jangan pernah letih untuk mengingatkan, bila sahabatmu ini terlupa! Sadarkan aku bila aku khilaf!" pinta Sean dengan kesungguhan hati.
Hati Raina tercubit tatkala mendengar kata-kata yang keluar dari bibir sahabatnya. Ia membenarkan perkataan Sean. Dan ia menyesal, telah berprasangka buruk terhadap Sean.
"Maafkan aku, Ru. Maaf, aku belum bisa menjadi seorang sahabat yang baik!" sesal Raina.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Rain. Kamu sudah menjadi seorang sahabat yang sangat baik. Hadirmu laksana cahaya, yang menerangi kegelapan dalam hidupku," balas Sean disertai seutas senyum penuh makna.
" .... "
"Rain, masuklah ke dalam kelas! Nanti siang, kita bertemu di kantin."
"Iya Ru. Aku masuk ke kelas dulu."
Sean membalas ucapan Raina dengan menganggukkan kepala dan melempar senyum khasnya yang menawan. Gadis-gadis yang melihat senyuman Sean, seakan terhipnotis. Mereka terpesona. Terkecuali Raina. Sedikitpun, Raina tidak terpesona pada Sean. Meski, Raina menyadari pesona seorang Sean. Pria blonde yang handsome nya maksimal. π
πΉπΉπΉ
Seusai menjalankan ibadah sholat Ashar berjamaah, Keanu kembali ke kamarnya. Ia berencana untuk menghubungi Raina via vidio call setelah meminta ijin pada Ilham.
Sesampainya di depan pintu kamar, Keanu dikejutkan oleh suara Yanto. Kurir proposal atau surat cinta dari para santriwati untuk Keanu. Proposal itu berisi ungkapan perasaan cinta, dan keinginan untuk melakukan ta'aruf.
"Kean, ada titipan proposal lagi." Yanto memberikan amplop berwarna biru muda kepada Keanu.
__ADS_1
Keanu menghela nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Sebenarnya, ia enggan menerima proposal yang dimaksud oleh Yanto. Pasalnya, sudah puluhan proposal atau surat cinta yang diterima oleh Keanu selama ia menimba ilmu di pondok pesantren. Dan semuanya berakhir di tempat sampah.
Dengan terpaksa, Keanu menerima amplop dari tangan Yanto.
"Syukron, Yan."
"Afwan, Kean. Oya, itu proposal dari bidadari pesantren. Namanya, Siti. Wajah sang bidadari cantik bagaikan rembulan. Senyumnya menyejukkan jiwa, laksana air sungai," puji Yanto. Netranya berbinar tatkala membayangkan rupa sang bidadari pesantren.
"Andai yang diberi proposal itu aku, pastinya ... aku akan langsung mengkhitbahnya, Ke," lanjut Yanto sembari menepuk pundak Keanu.
Keanu terkekeh. "Yan, jika wajah Siti seperti rembulan, nggak cantik dong," cibir Keanu.
"Loh. Kog nggak cantik?"
"Yan, rembulan 'kan bentuknya nggak rata. Nggak mulus," jawab Keanu disertai tawa.
"Ohhh iyaya ...." Yanto membenarkan jawaban yang dilontarkan oleh Keanu. Sesuai fakta, bentuk rembulan memang tidak secantik, seperti yang kita lihat.
"Yan, aku masuk ke kamar dulu ya?"
"Silahkan, Kean. Proposal dari dek bidadari, segera dibalas ya!"
"Nggak janji, Yan. Mendingan, kamu saja yang membalasnya. Trus, khitbah bidadarimu itu!"
"Hissss, Kean. Kalau aku yang diberi proposal, ya ... aku yang membalasnya. Tapi 'kan yang diberi bukan aku, tapi kamu."
"Diandaikan itu ... kamu. Nich, ambil proposalnya!" Keanu menyerahkan kembali proposal dari Siti. Lalu, ia masuk ke dalam kamar, setelah mengucap salam.
Keanu segera meraih gawainya yang tergeletak di atas nakas. Gegas, ia pun menghubungi Raina via vidio call. Jika di Indonesia pukul 4 sore, maka di Inggris ... kurang lebih masih pukul 10 pagi.
"Wa'alaikumsalam, Kean ...."
Hati Keanu berdaun-daun ketika mendengar suara Raina yang sangat dirindukannya setiap waktu.
"Rain, lagi di mana? Kog sepertinya rame banget."
"Aku lagi di kantin, Ke. Nich, kumpul bareng sobat-sobat dari Indonesia. Ada Danar, Gita, Naja, Excel, Maura ...."
"Owhhh .... Kebersamaan kalian tidak terganggu 'kan, karena vidio call dariku?"
"Sama sekali enggak, Ke."
"Rain, aku kangen. Kapan ya kita bisa bertemu?"
"Ya, asal kamu menyusulku ke Inggris, Insya Allah ... kita akan bertemu, Ke."
"Sebenarnya, aku ingin segera menyusulmu ke Inggris, tapi ...."
"Tapi, apa Ke?"
"Tapi, pastinya setelah kita bertemu ... aku nggak akan sanggup berpisah denganmu lagi. Memangnya, kamu siap menikah di usia 19 tahun, Rain?"
__ADS_1
"Umur berapapun, aku siap menikah, Ke. Asal, pria yang menikahi aku itu ... kamu."
"Kamu nggak nyesel, bila menjadi istri dari seorang lelaki yang menyebalkan?"
"Nggak, aku nggak akan nyesel. Karena, dari dulu sampai saat ini, rasa untukmu masih sama. Ke, kamu nggak nyesel bila menikahi istri yang bar-bar? Dulu kamu pernah berkata, nggak akan sudi menikahi gadis bar-bar sepertiku."
"Pffttt, sepertinya ... aku menjilat ludahku sendiri, Rain. Maaf atas ucapanku yang dulu."
"Makanya, jangan mendahului kehendak Allah, Ke. Kamu nggak tau 'kan, bakalan mau nikah sama gadis bar-bar?"
"Iya, Rain. Aku sombong banget waktu itu. Tapi, aku sangat bersyukur karena Allah memberikan anugerah cinta yang terindah, yaitu kamu ...."
"Aku juga bersyukur, karena ... cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Ternyata, kita memiliki rasa yang sama. Cinta."
Karena terlalu asik bervidio call ria dengan Keanu, Raina tidak sadar jika ada beberapa mata yang menatapnya. Termasuk Sean atau ... Mas Birru, yang baru saja tiba di kantin.
"Raina," sapa Birru.
Raina menoleh ke asal suara, tanpa mengakhiri vidio callnya dengan Keanu.
"Birru ...."
"Vidio call dengan siapa Rain? Kog mesra bangetzzz."
"Keanu."
"Owhhh .... Kenalin dong!" pinta Birru sembari mendudukkan tubuhnya di bangku bersebelahan dengan Raina.
"Hmmm ...."
"Ke, ada yang ingin kenalan denganmu?"
"Siapa?"
"Nich ...." Raina menggeser ponselnya. Sehingga wajah Birru terpampang di layar pipihnya.
"Hai, Kean. Aku, Birru. Teman kuliah Raina, tapi beda fakultas."
"Hai, Birru. Senang berkenalan denganmu. Aku Keanu ...."
"Kekasih Raina 'kan? Raina sudah banyak bercerita tentangmu, Kean. Ternyata, Raina tidak salah pilih kekasih. Kamu ... very handsome."
Meski baru saja berkenalan, Birru dan Keanu nampak sangat cocok. Mereka asik berbincang via vidio call. Sehingga sejenak melupakan Raina.
Raina merengut. Ia kesal karena Keanu dan Birru malah asik mengobrol. Seolah kedua pria itu tidak lagi memperdulikannya.
"Sabar, sabar ...," bisik Raina di dalam hati. π
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa jejak like nya dan beri komentar penyemangat, ya Sob π Jika ada vote yang nganggur dan dari pada mubadzir, bolehlah ... diberikan untuk mendukung MJB πππ
Trimakasih πππ