
Happy reading πππ
Tiada terasa, waktu bergulir begitu cepat. Kini usia kandungan Raina sudah menginjak 9 bulan. Meski selama masa kehamilan Raina sering saja bertingkah seperti anak kecil, Keanu teramat sabar menghadapinya.
Demi cintanya yang teramat besar pada Raina, apapun akan Keanu lakukan asal bidadari hatinya itu selalu tersenyum dan bahagia.
Ketika usia kehamilannya menginjak usia 8 bulan, dengan berat hati Raina mulai mengambil cuti akademik. Sedangkan Keanu tetap menjalankan usahanya sekaligus melanjutkan study.
"Mom, daddy berangkat dulu ya." Keanu mencium kening Raina dengan intens, mencurahkan rasa cinta dan kasih sayangnya yang teramat besar.
"Dad ...."
"Ya Mom ...."
"Jangan pergi!"
"Daddy hanya pergi sebentar, Mom. Sebelum senja menyapa, Daddy janji ... akan segera pulang." Keanu mengusap pipi Raina dan menatap manik mata yang selalu meneduhkan hatinya.
"Tapi Dad, aku takut ... Daddy akan pergi jauh." Raina memeluk tubuh suaminya. Wajahnya berselimut mendung, bahkan titik-titik air mulai menganak di kelopak mata.
"Daddy nggak akan pergi jauh, Mom. Daddy hanya pergi ke desa W. Desa yang telah dibangun oleh bunda dua puluh tahun silam. Daddy harus membantu penduduk desa W. Mereka berencana ... membangun kafe yang terletak tidak jauh dari pantai ...," tutur Keanu sembari membalas pelukan Raina.
"Dad ... please! Jangan pergi! Dua hari ini, perasaanku sungguh tidak tenang. Seolah ada sesuatu yang akan terjadi padamu, Dad." Raina sudah tidak mampu lagi membendung bulir-bulir kesedihan.
Keanu mengusap punggung istrinya dengan penuh kelembutan seraya memberi ketenangan.
"Mom, jangan berpikir macam-macam! Insya Allah, Daddy akan baik-baik saja, asalkan Mommy senantiasa melangitkan pinta pada-Nya."
Perlahan, Keanu meregang pelukan. Ia seka wajah kekasih halalnya yang telah basah. "Mom, jangan seperti ini! Jangan membuat hati daddy terasa ngilu karena melihat wajah cantik Momny terbingkai derai air mata kesedihan."
"Hiks ... hiksss. Dad ...."
"Jangan menangis lagi Mom! Kasihan dedek bayi yang ada di dalam perut." Keanu terus saja merayu.
"Mommy ingin dibawakan oleh-oleh apa?" sambung Keanu sambil melepas pelukan.
Raina menggeleng. Ia tatap lekat-lekat wajah suaminya. Seolah ... esok ia tidak akan bisa menatap wajah tampan suaminya lagi.
"Tidak ada yang aku inginkan selain kehadiranmu kembali, Dad. Berjanjilah, Daddy benar-benar akan kembali sebelum senja menyapa!" pinta Raina dengan penuh harap.
"Iya Mom, daddy janji," sahut Keanu. Ia hujani wajah Raina dengan kecupan.
Setelah Raina tenang, Keanu melangkah pergi. Ia pergi bersama Rama. Rekan bisnisnya.
__ADS_1
....
Langit berselimut awan hitam disertai rintik gerimis yang mengguyur kota pelajar. Kota dengan sejuta kenangan bagi othornya ... π
Raina duduk terpaku sambil menatap bingkai foto sang kekasih. Ia usap foto itu, seolah benar-benar mengusap wajah Keanu Putra Abimanyu.
"Dad, seharusnya ... Daddy jangan pergi hari ini. Buah hati kita sebentar lagi akan terlahir ke dunia. Aku sungguh tidak ingin melahirkan buah hati kita tanpa didampingi olehmu, Dad." Raina bermonolog. Tatapan netranya tidak beralih dari foto Keanu.
Drrttt ... drttt ... drttt ....
Terdengar suara getaran benda pipih yang tergeletak di atas meja. Raina segera meraih benda pipih itu lalu menerima panggilan telepon dari ibu mertuanya, Ayunda Kirana.
"Assalamu'alaikum, Bund."
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Sebentar lagi, bunda akan menjemputmu, Rain."
"Menjemput Raina?"
"Iya Sayang."
"Bunda ingin membawa Raina ke mana?"
"Nanti kamu akan tau, Rain."
"Iya, Sayang. Bunda tutup dulu ya teleponnya?"
"Iya Bund."
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam ...."
Raina semakin cemas setelah menerima telepon dari Kirana. Ia bertanya-tanya di dalam hati. Mengapa ibu mertua tetiba ingin menjemputnya? Dan ... sebenarnya, Raina akan dibawa ke mana?
Raina berusaha menghempas bayangan-bayangan buruk yang kembali hadir.
....
Ting tong ... ting tong ... ting tong ....
"Assalamu'alaikum ...." Kirana menekan bel pintu dan mengucap salam.
CEKLEK
__ADS_1
Raina membuka daun pintu dengan perlahan. Ia membalas salam lalu mencium punggung tangan ibu mertuanya dengan takzim.
"Wa'alaikumsalam, Bunda."
"Sudah siap, Sayang?"
"Sudah, Bund."
"Baiklah, kita berangkat sekarang, Sayang."
"Bund, sebenarnya ... Bunda akan membawa Raina, ke mana?"
"Nanti, kamu akan tau Raina sayang. Silahkan masuk putri bunda!" Kirana membuka pintu mobil bagian depan, lalu mempersilahkan sang menantu untuk duduk di samping kemudi.
"Trimakasih, Bunda."
"Iya Sayang."
Selama di perjalanan, kedua wanita yang berbeda generasi itu diam membisu. Seolah mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sesekali, Raina melirik raut wajah ibu mertuanya yang nampak tegang. Entah apa sebenarnya yang tengah Kirana pikirkan, hingga tidak seceria biasanya.
Ingin rasanya, Raina melontarkan tanya. Namun, diurungkannya. Raina berusaha berpikir positif, meski hatinya semakin tidak tenang.
Kirana menghentikan laju mobilnya, setelah sampai di parkiran rumah sakit.
"Raina sayang, bunda mohon dengan sangat ... tenangkan hatimu ya! Keanu sudah menunggu kita di dalam," tutur Kirana sambil mengusap punggung menantunya dengan gerakan naik turun seraya memberi ketenangan.
"Bund, sebenarnya ... apa yang terjadi pada Keanu? Apa Bunda?" Netra Raina memanas hingga tanpa terasa bulir-bulir kesedihan jatuh tanpa permisi.
"Jangan menangis, Sayang! Insya Allah, Keanu baik-baik saja. Hanya--" Suara Kirana tercekat. Seolah ada sebongkah batu yang menghantam dadanya.
Entah apa yang terjadi pada Keanu ....
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Maaf UP nya selalu terlambat dan maaf jika banyak typo π π ππ
Tinggalkan jejak like π
Berikan komentar, gift, atau vote jika berkenan π π π
__ADS_1
Trimakasih dan banyak cinta untuk semua sobat MjB πππβ€β€β€β€