Mantan Jadi Besan

Mantan Jadi Besan
Panggil Aku Mas Birru


__ADS_3

Happy reading .... 😘


Pagi ini, seperti pagi biasanya ... Sean menghampiri Raina di apartemen milik Anisa, sebelum keduanya berangkat kuliah bersama. Meski Raina seringkali meminta Sean untuk tidak menghampirinya, tapi tetap saja ... Sean tidak mengindahkan permintaan sahabat sekaligus wanita yang ia cintai itu. Dengan alasan, ia ingin menjaga Raina dari gangguan pria mesu*. Sungguh, alibi yang masuk akal ... sehingga membuat Raina tidak bisa berkata-kata lagi, untuk menolak Sean meski secara halus. Raina tidak ingin, kejadian hari itu terulang lagi. Kesucian Raina hampir saja dinodai oleh Steven, jika Sean tidak datang untuk menolongnya.


"Rain, masak apa?" tanya Sean setelah dipersilahkan masuk oleh Raina.


"Masak orak arik," jawab Raina singkat sambil meneruskan ritualnya memasak.


"Apa itu orak arik?" Sean mengerutkan sedikit keningnya. Ia penasaran dengan masakan Raina.


"Orak arik itu, sayur dicampur dengan telur, Sean .... So, penampakannya begini." Raina menaruh orak arik di piring.


"Owhhh ...." Bibir Sean membentuk huruf O. Dan kepalanya mengangguk pelan.


"Duduklah dulu, Sean! Aku merasa risih kalau kamu selau membuntuti." Raina menaruh piring yang berisi hasil masakannya di atas meja. Ia juga menyiapkan nasi beserta kerupuk dan teh hangat.


Sean malah terkekeh. Ia tetap saja membuntuti Raina. "Please dech, jangan bikin aku emosi ... Tuan Sean yang terhormat!" titah Raina. Bukannya takut, Sean malah tertawa karena ia gemas melihat wajah Raina yang terlihat lucu ketika marah. Mata Raina mendelik ... eh melotot. Bibirnya mengerucut, dan pipinya menggembung, seperti bakpao. Andai sudah halal, ingin rasanya ... Sean melahap bibir Raina yang merah bagaikan buah ceri itu.


"Panggil aku Mas Birru, baru dech ... aku mau duduk, Rain," pinta Sean sembari mengerlingkan mata.


"Memanggilmu Mas Birru? Hah ... ogah."


"Rain, namaku 'kan sekarang bukan Sean, tapi ... Muhammad Abhizar Albirru. Bukan Sean Wilson lagi."


"Hmmm ... baiklah, aku panggil Birru ... saja ya?"


"Pakai ... Mas, donk! Atau ... Abang. Panggilan sayang ala orang Indonesia."


Raina berdecak kesal. Ia kesal dengan celotehan Sean yang baginya sama sekali nggak lucu.


"Sean ... aku bejek-bejek, mau?"


"Bejek-bejek?"


"Heem ... bejek-bejek sama dengan diulek, dihancurkan."


"Owh ... aku bersedia dibejek-bejek, asal kamu ... memanggilku, Mas Birru."


"Ishhh, bener-bener yakkk. Kamu tuch selalu saja bikin kepalaku pusing, Sean."


"Birru, bukan Sean."


"Terserah lu, dach. Aku mau sarapan. Biar nggak semakin oleng."


"Aku juga ikut sarapan, Rain. Mo ngrasain masakan spesial ala chef Raina."


"Hmm ...."


Raina dan Sean, mendaratkan tubuhnya di kursi.

__ADS_1


"Rain, ambilkan nasinya donk!" pinta Sean seraya menggoda Raina.


"Ambil sendiri!" ketus Raina.


"Mas Birru, maunya diambilin."


"Sean, please ... jangan melonjak dech! Ambil sendiri, atau ... hari ini kita tidak berangkat bareng ke kampus?"


"Ancaman yang mengerikan. Baiklah, aku ambil nasi dan lauknya sendiri."


Sean mengisi piringnya dengan nasi, orak arik, dan kerupuk. Begitu juga dengan Raina.


Suasana berubah hening ketika mereka mulai memasukkan makanan ke mulut. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu, yang mengiringi ritual sarapan di pagi ini.


.


.


"Rain, kapan Anisa akan kembali ke Cambridge?" tanya Sean, sambil tetap fokus melihat jalanan.


"Minggu depan."


"Berarti, Anisa akan kembali ke apartemen bersama Heru, ya?"


"Maybe."


"Entahlah Ru. Aku masih mencari apartemen yang bisa disewa dalam waktu dekat ini," jawab Raina sembari melemparkan pandangan keluar jendela. Raina mulai memanggil Sean ... Birru.


"Rain, lebih baik ... kamu tinggal saja di apartemen milikku."


"Maksudmu, aku tinggal bersamamu dalam satu apartemen?" Raina mengalihkan pandangannya.


"Ya ... kalau kamu tidak keberatan," jawab Sean disertai seutas senyum penuh makna.


"Ishhh ... nggak. Aku nggak mau tinggal bersama dengan pria yang bukan mahram."


"Makanya ... kita nikah, yukkk!" canda Sean.


"No ... aku hanya akan menikah dengan Keanu Putra Abimanyu, bukan dengan pria lain. Apalagi dengan pria blonde sepertimu, Ru."


"Aku jadi penasaran, setampan apa wajah Keanu. Sehingga membuatmu tergila-gila, Rain."


"Suatu saat nanti, aku akan memperkenalkanmu pada Keanu, Ru."


"Kenapa tidak sekarang, Rain? Kamu 'kan sudah memperkenalkan aku pada ustadz Ilham dan ustadz Fadhil meski secara virtual."


"Belum waktunya, Ru. Aku hanya takut, Keanu akan salah faham pada kita."


"Hmmm, ternyata itu penyebabnya ...."

__ADS_1


Sean alias Albirru menghentikan mesin mobilnya, ketika sampai di parkiran kampus.


"Ishhh, tumben susah," gumam Raina sembari berusaha melepas sealt belt.


"Sini, aku bantu ... Rain." Sean meraih sealt belt yang dikenakan oleh Raina. Posisi mereka saat ini, seperti orang yang tengah berciu*an, bila dilihat dari luar.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah menyaksikan adegan di dalam mobil. Ia mengira, Sean dan Raina bercium*an.


"Ck, dasar wanita jalan*. Memakai penutup kepala, hanya untuk menutupi siapa ia sebenarnya. Lihat saja nanti, aku akan menjauhkanmu dari mantan kekasihku, Sean Wilson." Orang yang memiliki sepasang mata itu bermonolog.


"Sean ...." Sapanya ketika Sean dan Raina keluar dari mobil.


"Lorena .... Tumben, kamu datang ke kampus. Ada urusan apa? Kamu nggak kerja?" Sean memberondong mantan kekasihnya yang bernama Lorena dengan pertanyaan.


"Aku datang ke kampus, karena sangat merindukanmu, Sean. Aku kecewa dan cemburu, melihatmu bermesraan dengan wanita jalan* itu," jawab Lorena sambil memainkan jari lentiknya di dada bidang Sean, dan melempar tatapan sinis ke arah Raina.


Sean tidak terima jika Raina disebut ... wanita jalan*. Begitu juga dengan Raina. Raina tidak terima jika ada orang yang menyebutnya sebagai wanita jalan*.


PLAKK


Telapak tangan Sean mendarat pada pipi Lorena dengan sangat keras.


"Jangan sebut Raina ... wanita jalan*! Becerminlah, Lorena! Dan ... kau akan tau, wanita jalan* yang sebenarnya. Kau ... bukan Raina."


Lorena mengusap pipinya yang serasa perih. "Tega sekali kau menamparku dan mengatakan bahwa aku wanita jalan*, Sean Wilson. Kamu lupa, kamu pernah menikmati tubuhku, Sean. Kita pernah menyatukan cinta dalam kenikmatan penyatuan raga."


Lorena memangkas jarak antara wajahnya dan wajah tampan Sean. Jari lentik Lorena membelai lembut pipi Sean.


CUP


Lorena mendaratkan bibir basahnya pada wajah Sean. Seperti terkena aliran listrik bertegangan tinggi, Sean pun hanya mematung. Ia berusaha menahan hasrat yang telah lama tidak tersalurkan. Tepatnya, setelah ia bertemu dengan Raina. Sean jatuh cinta pada Raina, sejak pertama kali bertemu. Because, wajah Raina memancarkan pesona yang luar biasa. Cantik dan bercahaya.


"Aku merindukanmu, Sean," bisik Lorena dengan suaranya yang menggoda.


Raina merasa jiji* melihat pemandangan yang menodai netranya. Ia tidak mengira, Sean belum berubah. Mau-maunya dicium oleh wanita yang bukan mahram.


Tanpa sepengetahuan Sean, Raina pun melangkah pergi, meninggalkan mereka berdua. Sean dan Lorena.


Entah angin surga dari mana, yang membuat Sean tersadar. Sean menjauhkan tubuhnya dari Lorena. "Lorena, jangan pernah menemuiku lagi! Apalagi menggodaku. Aku bukan Sean Wilson yang dulu. Aku ... Muhammad Abhizar Albirru."


Lorena menggeleng-gelengkan kepala dan menutupi bibirnya yang menganga dengan telapak tangan. "What? Muhammad Abhizar Albirru???? Bagaimana bisa ...?"


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Maaf jika banyak typo πŸ˜…πŸ™


Berikan dukungan kepada author dengan tetap setia mengikuti MJB dan tinggalkan jejak like serta koment penyemangat. Jika ada vote nganggur, boleh dibagi 😁 Agar author masih mempunyai sisa semangat untuk melanjutkan MJB hingga end. Trimakasih πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™

__ADS_1


__ADS_2