Mantan Jadi Besan

Mantan Jadi Besan
Game Ular


__ADS_3

"Ehem, ada yang sedang mengenang masa lalu nihhhh ...." Tanpa Kirana dan Khanza sadari, ternyata Abimana sudah berdiri di belakang mereka.


"Eh ... ayah." Kirana tersenyum nyengir.


"Jadi, Bunda masih naksir Paijo? Bukankah sudah ada Markun yang mewarnai hidup Bunda selama ini?" Abimana melontarkan pertanyaan seraya bercanda.


"Markun?" Khanza menautkan kedua alisnya.


Tanpa memperdulikan ekspresi Khanza, Abimana menuntun istrinya untuk segera beranjak dari sofa.


"Za, kamu di sini dulu ya! Jangan menyusul kami! Ayah akan memberi Bundamu ini, HUKUMAN." Abimana menekankan kata HUKUMAN.


"Ta-tapi, Yah." Wajah Kirana berubah pias. Ia mengerti apa yang akan dilakukan oleh Abimana. Tentu saja memberi hukuman yang melenakan. 😌😌😌


"Yah, jangan menganiaya Bunda! Khanza tidak ingin ada KDRT di keluarga kita!" tandas Khanza. Gegas, gadis belia itu beranjak dari sofa, lalu menarik tangan bundanya.


Mendengar ucapan Khanza, netra Abimana dan Kirana berotasi sempurna. Mereka saling pandang dan melempar senyum. "Za, ayah tidak mungkin menganiaya, Bunda," tutur Abimana dengan lembut.


"Oya? Lalu, HUKUMAN apa yang ingin Ayah berikan pada Bunda?" Khanza menyipitkan matanya. Ia sungguh tidak faham dengan HUKUMAN yang dimaksud oleh sang ayah.


"Ee ... Ayah hanya ingin menghukum Bunda, dengan bermain ular-ularan. Maksud Ayah, game ular. I-iya, game ular." Abimana menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh putrinya sambil menggaruk kepala yang sama sekali tidak berasa gatal.


"Owhhh, kirain ... Ayah ingin menganiaya Bunda. Oya Yah, game ularnya yang apa? Ular tangga atau ... yang slither?"


Abimana bergeming. Ia terjebak dengan ucapannya sendiri.


"Yang slither Za ...," sahut Kirana asal. Wanita yang tak lagi muda itu berusaha menahan tawa.


"Slither? Wahhhh ... pasti seru. Khanza ikut ya?"


"Jangan!!" pekik Kirana dan Abimana kompak.


"Loh .... Kenapa, nggak boleh? Khanza jago kog main game ular. Jadi, boleh ya Yah, Bund, please ... !" Khanza memasang wajah puppy eyes.


Kirana dan Abimana kembali saling berpandangan. Mereka bingung, bagaimana cara menghadapi Khanza yang masih sangat polos.


"Khanza ... Khanza, kamu masih sangat polos, Dek. Bisa-bisanya mempunyai keinginan untuk menikah dengan Birru. Bagaimana bisa kamu melayani Birru, jika dia menginginkannya," monolog Keanu yang sedari tadi memperhatikan kedua orang tuanya dan Khanza.


"Beb, kog senyum-senyum sendiri?" tanya Raina. Ia baru saja keluar dari dapur dengan membawa dua cangkir teh hangat gula batu.


"Itu lho, Han ... ayah, bunda dan Khanza sangat menggelikan. Sepertinya, kita harus menolong ayah dan bunda, supaya mereka bisa bermain game ular tanpa harus mendapat gangguan dari Khanza."

__ADS_1


"Ayah dan bunda ingin bermain game ular?" Raina mengerutkan sedikit dahinya.


"Iya, game ular dalam artian yang berbeda. Hany faham 'kan?"


"Tentu saja aku faham, Beb." Raina mengulas senyum.


"Oya, diminum dulu teh nya, Beb!" sambung Raina sambil menyodorkan secangkir teh hangat.


"Trimakasih, Hanny ...." Keanu menerima cangkir yang disodorkan oleh Raina disertai senyuman khas yang menawan.


CUP


Keanu memberi kecupan singkat di bibir Raina sebelum menikmati kesegaran teh hangat racikan tangan kekasih halalnya itu.


Setelah puas menikmati kesegaran teh hangat, Keanu dan Raina melangkahkan kaki mereka menuju balkon, untuk menemui Abimana, Kirana, dan Khanza.


"Asalamu'alaikum ...." Keanu mengucap salam seraya menyapa kedua orang tuanya dan Khanza.


"Wa'alaikumsalam ...," jawab mereka bertiga dengan kompak.


Keanu mencium tangan kedua orang tuanya dengan takzim, diikuti oleh Raina. Mereka berdua juga memberi pelukan singkat pada Khanza, si gadis comel.


"Iya Bund. Kami sudah memesan hotel. Kami akan menginap di hotel selama dua hari. Setelah itu ...." Keanu menggantung ucapannya yang sukses membuat kedua orang tuanya mengeryitkan dahi.


"Setelah itu, kami akan menginap di resort yang berada di dekat pantai selama satu minggu," sambung Keanu disertai senyuman yang merekah.


"Pengantin baru mah bebas, ya Bund. Tidak seperti kita," sahut Abimana dengan memasang wajah sedih.


Keanu, Kirana, dan Raina terkekeh mendengar ucapan Abimana.


"Oya, Za. Ikut kami ke supermarket yuk!" Raina sengaja mengajak Khanza ke supermarket agar adik iparnya yang comel itu, tidak mengganggu Abimana dan Kirana yang ingin mereguk kenikmatan hakiki.


"Mmm ... hayuk, Kak!" Khanza menganggukkan kepala dengan penuh semangat.


"Jangan lupa, Dylan juga diajak!" titah Abimana.


"Siapppp, Komandan. Setelah kami pergi, segeralah bermain game ular bersama Bunda, Yah. Mumpung tidak ada kang ganggu," sahut Keanu seraya menggoda kedua orang tuanya.


"Tapi jangan sampai kebablasan, Yah! Bisa-bisa, Keanu mempunyai adik lagi," sambung Keanu dengan berbisik.


Abimana tergelak mendengar kata-kata yang dibisikkan oleh Keanu. Tak terbayang, di usianya yang sudah memasuki 47 tahun itu, ia dan Kirana kembali diberikan anugerah terindah. Seorang baby kecil yang menggemaskan.

__ADS_1


"Kog ayah tertawa? Memangnya, Mas Kean membisikkan apa?" cecar Khanza. Jiwa keponya kembali kambuh.


"Ada dech, Za. Yuk kita berangkat sekarang!" Keanu menggamit tangan adik comelnya.


"Heem, Mas."


"Ayah, Bunda, kami pamit dulu. Asalamu'alaikum," tutur Raina sembari mencium kembali punggung tangan kedua mertuanya dengan takzim, diikuti oleh Keanu dan Khanza.


"Wa'alaikumsalam .... hati-hati di jalan kesayangan-kesayangan Ayah, Bunda."


"Siappp, Bunda ...." Keanu, Raina, dan Khanza menjawab ucapan Kirana dengan kompak, lalu mereka melangkah pergi. Sebelum berangkat ke supermarket, tak lupa mereka menghampiri Dylan yang sedang asik bermain game di kamarnya.


"Ehemm ... Bund. Sudah tidak ada yang menghalangi ayah untuk menghukum Bunda." Abimana tersenyum lebar sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Issshhhh ... Ayah. Nggak berkurang o-mesnya meski sudah menuju kepala lima," tutur Kirana dengan mencebikkan bibir.


Gegas, Abimana meraih tubuh sang istri lalu memanggulnya.


"Aaaaa ... Ayahhhhh, jangan menggendong bunda seperti memanggul beras!" pekik Kirana dengan mengayun-ayunkan kedua kakinya.


"Bund, jangan bergerak-gerak donk! Nanti kita bisa jatuh berdua lho," tutur Abimana sambil tetap berjalan dengan langkah lebar.


BRAKK


Abimana membuka pintu kamar dengan cara menendangnya, lalu berjalan menuju ranjang.


Perlahan Abimana merebahkan tubuh Kirana di atas ranjang.


Dan ... terjadilah apa yang diinginkan oleh sepasang kekasih yang sudah dua puluh tahun hidup bersama, saling mengisi dan saling menyempurnakan, mereguk kenikmatan surga dunia .... 😌😌😌


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Jangan lupa jejak likenya, beri komentar, gift, atu vote jika berkenan mendukung MJB πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


Mohon maaf jika banyak typo bertebaran ... πŸ˜…πŸ™


Trimakasih 😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2