
Happy reading .... π
Sebelum beranjak dari posisi duduknya, Sean menutupi tubuh Raina dengan selimut. Ia pun membisikkan kata-kata, ".... I love you so much Raina, you are the angel of the world."
Dengan berat hati, Sean melangkah pergi, meninggalkan Raina yang masih belum sadar karena pengaruh obat bius.
Selang beberapa menit setelah kepergian Sean, Raina pun tersadar. Ia membuka mata dengan perlahan.
"Arghhh ...." Raina memegang kepalanya yang serasa pusing.
"Ya Allah, kenapa pusing sekali .... Apa yang terjadi padaku?"
Raina bangkit dan menyandarkan tubuhnya pada heardboard. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang dilakukannya sepulang dari panti asuhan sore tadi.
"Astaghfirullah ...." Raina membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Raina ingat bahwa ia belum menutup pintu apartemen.
Perlahan, Raina beranjak dari ranjang. Ia pun melangkahkan kaki keluar kamar untuk memeriksa pintu apartemen.
Netra Raina membola tatkala melihat pintu apartemennya sudah tertutup, meski belum terkunci.
Raina mendudukan tubuhnya di sofa. Ia melihat tas dan benda pipih kesayangannya tergeletak di atas lantai.
Dengan tangan gemetar, Raina mengambil tas dan benda pipih tersebut. Jantungnya berdetak kencang tatkala mengingat bahwa ia dibekap oleh seseorang. Raina takut, jika kesuciannya telah direnggut.
Raina beranjak dari sofa, dan segera berlari menuju ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Raina mulai memeriksa pakaian dan tubuhnya. Yang nampak berantakan, hanya pasminanya saja. Sedangkan kemeja dan celana panjang yang ia kenakan, masih utuh dan tidak terbuka sedikitpun. Raina juga memeriksa bagian leher, tidak ada bekas gigitan sedikitpun. Bahkan, ia juga memeriksa area sensitive, tidak terasa perih dan tidak mengeluarkan bercak merah.
Raina sedikit merasa lega. Untuk memastikan apa yang telah terjadi, Raina segera memeriksa cctv yang ada di ruang tamu dan di dalam kamarnya.
Raina terkesiap saat mengetahui apa yang telah terjadi. Netranya memerah karena api amarah.
BRAK
Raina menggebrak meja di hadapannya untuk meluapkan amarah yang sudah di ubun-ubun.
"Steven ... kau sungguh pria beja*. Ingin rasanya ... aku menghajarmu dan menenggelamkanmu di pantai selatan. Atau, menjatuhkanmu ke kawah gunung Merapi ...." Gigi Raina gemeretak. Ingin rasanya ... ia menemui Steven dan menghajar pria lucnut itu saat ini juga.
Bibir Raina terkatup tatkala melihat adegan, bagaimana ia bisa selamat dari niat busuk Steven.
"Sean ... ternyata kamu yang menolongku," gumam Raina sembari menutup mulutnya. Ia tidak menyangka bahwa Sean-lah yang menjadi malaikat penolongnya.
.
.
Sepanjang malam ini, Raina tidak bisa memejamkan mata. Ia masih teringat adegan demi adegan yang terekam jelas di cctv.
Ia berpikir keras, bagaimana caranya mengungkapkan rasa terimakasih kepada Sean.
__ADS_1
πΉπΉπΉ
Pagi ini, Raina memasak makanan khas Indonesia yang disukai oleh Sean. Sebagai ungkapan rasa terimakasih, Raina ingin memberikan nasi rendang hasil masakannya sendiri pada Sean. Meski mungkin ... rasanya nano-nano.
Selesai memasak dan menaruh nasi rendang di kotak makan, Raina bersiap-siap untuk pergi ke kampus.
.
.
Raina masuk ke dalam lift. Ia terkesiap saat netranya menangkap objek yang sangat familiar. "Sean ...."
"Rain ...."
Hening ....
"Sean, trimakasih ...."
"Untuk ...?" tanya Sean disertai seutas senyum penuh makna. Sean berpura-pura tidak mengerti, mengapa Raina mengucapkan kata terimakasih.
"Untuk pertolonganmu .... Terimakasih, karena berkat pertolonganmu, aku bisa selamat dari niat busuk pria mesu* itu. Sehingga kesucianku masih terjaga," jawab Raina tanpa seutas senyum pun.
"Owhhh .... Kembali kasih, Raina." Sean mengembangkan senyumnya.
TING
Pintu lift terbuka. Sean dan Raina segera keluar dari dalam lift.
Raina mengalihkan wajahnya. Ia merasa tidak nyaman dengan tatapan Sean.
"Sean, aku bisa berangkat sendiri ke kampus dengan naik bus atau taxi. Insya Allah, aku bisa menjaga diri," tolak Raina.
"Rain, please ... kali ini jangan menolak permintaanku!" Sean memohon dengan penuh harap.
Raina menghela nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Ia nampak berpikir sejenak, sebelum menyanggupi permintaan Sean.
"Baiklah, Sean. Kali ini, aku berangkat ke kampus bersamamu. Anggap saja, ini sebagai ungkapan rasa terimakasih dariku."
"I'ts okay ...."
Sean membuka pintu mobil dan mempersilahkan Raina untuk masuk ke dalam.
Setelah memakai sealt belt, Sean menghidupkan mesin mobilnya.
Di sepanjang perjalanan, Sean berusaha memecah keheningan dengan memutar lagu-lagu romantis. Sebenarnya, ia ingin berbincang dengan Raina, tapi entah mengapa ... lidahnya serasa kelu. Dada Sean berdebar kencang tatkala duduk bersebelahan dengan Raina. Baru kali ini seorang Tuan Muda Sean, merasakan jatuh cinta yang luar biasa kepada seorang gadis.
Sesampainya di parkiran kampus, Sean menghentikan mobilnya.
Sebelum membuka pintu mobil, Raina menyerahkan kotak makan yang berisi nasi rendang pada Sean. "Sean, aku memasak nasi rendang untukmu ... sebagai ungkapan rasa terimakasih dan tidak ada niatan lain."
__ADS_1
Sean menerima kotak makan dari tangan Raina dengan senang hati. Bibir Sean terhias senyuman yang merekah. Matanya berbinar. Sean sangat bahagia, karena Raina memasak nasi rendang untuknya.
"Trimakasih, Raina. Sering-seringlah memasak makanan khas Indonesia untukku!"
"Hmmm ...." Raina membuka pintu mobil. Namun, sebelum Raina keluar dari mobil ... Sean mencegahnya. Ia raih pergelangan tangan Raina.
"Rain, tunggu!" pinta Sean.
"Ada apa lagi, Sean? Lepaskan tanganmu!" titah Raina dengan memasang raut wajah tidak suka. Sean pun melepas cekalan tangannya.
"Rain, ijinkan aku menjadi penjagamu! Terima cintaku dan kita akan menjadi sepasang kekasih!" pinta Sean dengan penuh pengharapan. Ia tatap manik coklat Raina dengan intens.
"Maaf, Sean ... aku tidak bisa menerima cinta darimu. Aku sudah mencintai pria lain. Bahkan, cintaku pada pria itu sangatlah besar dan tak akan pernah terkikis oleh waktu." Raina menolak Sean dengan tegas.
"Rain, jika kamu tidak bisa menerima cintaku ... ijinkan aku menjadi sahabatmu! Aku ... terlanjur tertarik dengan pribadimu yang unik. A-aku, ingin berubah menjadi pria yang berkepribadian lebih baik, Rain. Aku sudah bosan, dengan gaya hidupku selama ini. Bimbinglah aku, sebagai seorang sahabat!" pinta Sean.
"Baiklah, Sean. Mulai detik ini, kita bersahabat," balas Raina dengan ekspresi wajahnya yang tak terbaca. Sebenarnya, Raina enggan mengabulkan permintaan Sean. Namun karena merasa berhutang budi, dengan berat hati ... Raina pun mengabulkan permintaan Sean ... menjadikannya sebagai sahabat.
"Terima kasih banyak, Rain."
"Heem ...."
"Rain, nanti siang ... kita bertemu di kafe. Masih ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Insya Allah, Sean."
Raina keluar dari dalam mobil. Ia segera melangkahkan kakinya menuju kelas, tanpa menunggu Sean.
"Yeahhhhh ...," pekik Sean sembari meninjukan tangannya ke atas. Ia teramat bahagia karena langkah untuk mendekati Raina semakin diberikan jalan kemudahan.
Tak masalah jika saat ini mereka bersahabat. Namun, Sean akan terus berusaha untuk meluluhkan hati gadis yang sangat ia cintai. "Dari sahabat, menjadi cinta ...," Sean said dengan penuh keyakinan.
"Tidak semudah itu Verguso," sahut si othor.
"Why?"
"Because, kamu bukanlah tokoh utamanya."
"Please, jangan jadikan aku seorang figuran!"
"Wani piro ....????" πππ
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Jangan lupa, merahin semua jempolnya dan beri koment penyemangat πππ
Trimakasih teruntuk readers yang masih setia mengikuti MJB dan memberikan dukungan berupa gift ataupun vote. πππ
__ADS_1
Banyak cinta untuk Sobat MJB semua β€β€β€β€β€β€β€