
Birru merasa lega, saat Raina mulai membuka kelopak matanya dengan perlahan.
"Di mana aku?" lirih Raina sembari memegang kepalanya yang masih serasa pusing. Raina berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Seingat Raina, terakhir kali ... ia dan Sherin sedang berbincang di apartemen. Tepatnya, di ruang tamu.
Birru mengulas senyum. "Kamu berada di rumah sakit, Rain. Kamu pingsan dan badanmu panas sekali. Makanya ... aku membawamu ke rumah sakit."
"Makasih ya, Ru. Aku selalu saja merepotkanmu," ucap Raina sembari menatap wajah Birru.
"Aku tidak pernah merasa direpotkan, Rain. Kita 'kan sahabat, jadi ... sudah sepatutnya aku menjagamu," balas Birru disertai seutas senyum penuh makna. Birru sengaja tidak menceritakan apa yang telah terjadi, karena ia tidak ingin melihat Raina bersedih dan syok. Bahkan mungkin, akan membuat kondisi kesehatan Raina semakin drop.
"Ru, sebenarnya aku sakit apa?"
"Kata dokter, kamu hanya kelelahan ... Rain. Jadi, beristirahatlah dengan cukup. Makan-makanan yang bergizi, dan kurangi makan mie instant. Rain, jangan terlalu stres!"
Raina mengerutkan sedikit keningnya. "Memangnya, aku terlihat stres?"
"Iya, kamu terlihat stres. Jangan-jangan, kamu stres karena memikirkan, aku atau Keanu yang akan kamu pilih untuk menjadi imam," jawab Birru seraya bercanda.
Raina mencebikkan bibir. "Isssshhh, apaan sih. Aku nggak stres, Ru. Boro-boro aku stres memilih kamu atau Keanu yang akan menjadi imamku. Karena--"
"Karena, kamu hanya mencintai Keanu, Rain," sahut Birru. Meski hatinya telah patah karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, Birru berusaha untuk berlapang dada dan menerima kenyataan. Bisa dekat dengan Raina dan menjadi malaikat penjaganya saja, Birru sudah teramat bersyukur.
Raina bergeming. Raina mengerti apa yang tengah dirasakan oleh Birru saat ini, karena ia pernah berada di posisi yang sama. Mencintai tanpa dicintai.
"Ru, maaf. Andai saja hatiku belum terisi oleh Keanu, mungkin ... aku akan dengan mudah jatuh cinta kepadamu. Kamu pria yang sangat baik, wajahmu juga handsome," tutur Raina seraya menghibur sahabatnya, Albirru.
Hati Birru berbunga-bunga mendengar pujian yang dilontarkan oleh Raina. "Ya, memang aku sangat baik dan handsome, Rain. Makanya, banyak wanita yang ingin menjadi kekasihku, kecuali kamu," kelakar Birru.
"Hmmm ... tapi, jangan menyalah gunakan ketampananmu, Ru. Insyaflah dan jangan bangga menjadi plaboy cap biawak," cibir Raina.
"Aku sudah insyaf, sejak mengenal gadis yang mempunyai kepribadian unik. Gadis itu ... kamu, Raina. Kamu, sosok gadis yang cerdas, berakhlak mulia, anggun meski kadang bar-bar, tegas, peka terhadap kesusahan orang lain, suka memberi tanpa pamrih, dan setia."
"Pfffftttt ... lebay, Ru. Kamu terlalu memujiku. Yang sebenarnya, aku hanya seorang gadis yang banyak memiliki kekurangan. Aku tidak se perfect kak Alyra."
"Alyra?"
"Iya, kak Alyra. Ia kakak kandungku, Ru. Kak Alyra sangat perfect."
"Kapan-kapan, kenalkan aku padanya ... Rain! Siapa tau, meski tidak mendapatkan adiknya ... aku mendapatkan hati kakaknya," balas Birru dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Ishh ... isshhh ... ishhhh, tidak semudah itu Verguso. Kak Alyra sudah menikah."
"Yahhhhh ... patah hati lagi dech." Birru memasang wajah memelas. Sehingga membuat Raina tertawa melihatnya.
"Ru, ada satu gadis lagi yang mungkin akan membuatmu tertarik ...."
"Oya, siapa?"
"Namanya ... Khanza. Dia gadis yang sangat imut dan menggemaskan."
"Seperti, kamu dong?"
"Iyaaaa, sebelas dua belas lah sama aku."
"Hmmm, kenalin dong, Rain! Siapa tau, hatiku akan dengan mudah teralihkan darimu setelah berkenalan dengan Khanza," pinta Birru.
"Iya, aku akan mengenalkanmu pada Khanza. Tapi ...."
__ADS_1
"Tapi apa?"
"Tapi, Khanza masih berusia empat belas tahun, Ru ...," jawab Raina disertai tawanya yang renyah.
"Hisshhh, mana mungkin aku tertarik pada bocil," cebik Birru.
"Dia bukan bocil. Khanza gadis yang sudah berusia remaja, Ru."
"Tapi, aku nggak suka dengan gadis yang masih di bawah umur, Rain. Pasti manja sekali."
"Nggak, Khanza nggak manja. Kamu 'kan bisa menunggu Khanza ... enam sampai sepuluh tahun lagi."
"Menunggu selama itu? Bisa-bisa, aku menunggunya sampai lumutan, Rain." Birru dan Raina tergelak.
Kruyuk ... kruyuk ....
Seketika, tawa mereka berdua terhenti tatkala mendengar suara yang berasal dari perut Raina.
Kruyuk ... kruyuk ...
"Pfffff ... ayam di perutmu berkokok, Rain."
"Iya, aku lapar, Ru."
"Astaghfirullah, maaf ... aku malah kelupaan. Sebenarnya ... dari tadi, makanan untukmu sudah datang, Rain. Aku suapin ya?"
"Nggak usah, Ru. Aku bisa makan sendiri, kog."
"Hmmm, baiklah."
Raina duduk dengan menyandarkan punggungnya pada heardbord.
"Makan yang banyak, Rain!"
"Kamu juga makan, Ru!"
"Aku sudah makan tadi."
"Makan apa?"
"Makan angin ...," jawab Birru asal.
Raina kembali tergelak. Ia tidak menyangka seorang Sean Wilson yang sekarang berubah nama menjadi Birru, ternyata memiliki selera humor yang tinggi.
"Ppffffttt ... hhhhhhaha, dasar kau Ru."
.
.
Arunika kembali menyapa, diiringi lantunan kalam cinta yang terdengar sangat merdu.
Seusai subuh tadi, Raina membaca kalam cinta hingga mentari menebarkan cahyanya. Birru terpana mendengar setiap ayat-ayat yang dilantunkan oleh Raina.
Besar keinginannya, untuk bisa segera fasih membaca kalam cinta seperti sahabatnya itu.
"Maha benar Allah atas segala firman-Nya."
__ADS_1
Raina menutup mushaf, setelah mengakhiri bacaannya.
"Rain, ada tamu spesial yang akan datang menemuimu."
"Siapa?"
"...."
"Assalamu'alaikum ...." Terdengar ucapan salam diiringi suara pintu yang terbuka.
"Wa'alaikumsalam ...," jawab Raina dan Birru secara bersamaan.
Netra Raina berotasi sempurna. Jantungnya berdegup sangat kencang tatkala pandangan netranya menangkap objek yang sangat ia rindukan.
"Ke-Kean ...."
"Rain ...." Keanu berjalan mendekat ke ranjang, diikuti oleh Kirana.
TES
Raina tak kuasa menahan buliran bening yang jatuh begitu saja dari telaga beningnya. Ia sangat bahagia melihat sosok yang dirindukan, kini berdiri di hadapannya.
Meski hatinya teriris, Birru tetap berusaha menyambut kedatangan Keanu dan Kirana dengan senyuman tulus.
"Keanu ...."
"Birru ...."
"Selamat datang, Bro ...." Birru dan Keanu saling berpeluk. Meski selama ini mereka hanya berbincang secara virtual, nyatanya ... Keanu dan Birru bagaikan sahabat yang sudah saling mengenal sejak lama.
"Trimakasih," bisik Keanu yang hanya terdengar oleh Birru.
"Sama-sama, Bro. Ingat, apa yang telah aku sampaikan lewat pesan tadi!"
"Iya, Bro. Aku tidak akan memberitahukannya pada Raina. Yang terpenting, saat ini Raina sudah aman. Maaf, aku terlambat datang ke Cambridge, sehingga tidak bisa membantu menyelamatkan Raina."
"Sudahlah. Aku mengerti. Lagi pula, kita tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi. Semua sudah diatur oleh Sang Penulis Skenario kehidupan."
Keanu dan Birru melerai pelukkan mereka.
"Sayang," sapa Kirana sembari memeluk Raina.
"Tante Kiran." Raina membalas pelukkan Kirana.
"Rain, panggil tante ... bunda!"
"Bunda ...."
Raina merasa nyaman mendapat pelukkan hangat dari Kirana. Seolah, ia tengah dipeluk oleh mamanya yang sangat dirindukan.
Ingin rasanya, Raina kembali ke Jogja. Berkumpul kembali dengan keluarga dan orang-orang yang sangat ia sayangi.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Maaf, jika banyak typo π π
__ADS_1
Trimakasih bagi readers yang masih setia mengukuti MJB, dan selalu memberikan dukungan serta percikan api semangat kepada author remahan kulit kuaci ini. ππ
Banyak cinta untuk Sobat semua β€β€β€β€β€