
Happy reading πππ
"Ra, jangan lupa meninggalkan air asi untuk Kevin! Jangan sampai jagoan kita kehausan dan kelaparan," titah Birru.
Hati Zahra menghangat tatkala mendengar ucapan Birru. Sungguh, ia teramat bersyukur, memiliki seorang suami ... Albirru. Penyayang, perhatian, dan tentu saja sangat sweet.
Zahra segera menyiapkan air asi dan menyimpannya di dalam kulkas lalu menitipkan Kevin pada Jane. Ia pun segera berkemas seusai sarapan bersama suami yang sangat dicintainya .....
.
.
Netra Zahra berbinar ketika melihat pemandangan yang tersuguh di hadapannya. Sangat indah dan menyejukkan mata. Rupanya, Birru membawa Zahra ke salah satu tempat yang romantis di London. Sungai Thames. Sungai kebanggaan warga Inggris.
"Bagaimana Ra, kamu menyukai tempat ini?" Birru melontarkan pertanyaan disertai senyuman yang menghiasi wajahnya.
Zahra mengangguk. Wajahnya terlukis senyuman yang menyiratkan rasa bahagia. "Iya Kak. Zahra sangat menyukainya."
"Ayo, ikut aku!" Birru menggenggam tangan Zahra dan menuntunnya ke suatu tempat.
"Ra, kamu tidak takut 'kan jika kita menaiki kapal?"
"Emmmm, Zahra tidak takut menaiki kapal. Hanya saja, Zahra takut jika kapal yang kita naiki tenggelam. Zahra ... tidak bisa berenang, Kak."
Birru terkekeh mendengar ucapan Zahra yang terkesan menggelikan. Timbul keinginan Birru untuk mencandai kekasih halalnya itu. "Kamu tidak perlu takut, Ra. Seandainya kapal yang kita naiki tenggelam, kita pun bisa tenggelam bersama. Bukankah itu akan sangat romantis. Kita bisa bersama sehidup sesurga."
Zahra sangat tidak suka mendengar candaan Birru yang sama sekali tidak lucu. Lalu ia pun mencubit pinggang suami tampannya itu dengan gemas.
"Awwww ...." Birru memekik karena merasakan sensasi perih yang diakibatkan oleh cubitan Zahra.
"Ra, pinggangku perih sekali ...." Birru mengusap pinggangnya yang sedikit memerah.
__ADS_1
"Makanya Kak, jangan ucapkan kata-kata itu lagi! Zahra belum ingin mati," ujar Zahra sambil mencebikkan bibirnya.
"Jadi, kamu tidak ingin sehidup sesurga denganku, hmmm?" Birru mencubit hidung mancung Zahra dengan gemas.
"Bukan seperti itu, Kak. Zahra ingin sehidup sesurga bersama dengan Kak Birru. Jujur, hati Zahra berbunga-bunga ketika Kak Birru mengucapkan kata, sehidup sesurga. Ingin rasanya, Zahra memeluk Kak Birru." Zahra menatap lekat-lekat manik mata Birru. Seolah ia tidak ingin mengedipkan mata ketika menikmati pancaran keteduhan dan ketulusan yang begitu kentara di netra berlensa hijau milik Albirru.
Birru meraih tubuh Zahra dan membawanya ke dalam pelukan. "Ra, bukankah kamu ingin memelukku?"
"Heheemm .... Iya, Kak." Zahra mengangkat kedua tangannya lalu membalas pelukan Birru. Nyaman. Zahra merasakan kenyamanan berada di dalam pelukan pria yang sangat dicintainya.
Perlahan, Birru dan Zahra melerai pelukan. Keduanya saling melempar senyuman penuh arti. Zahra berharap, semoga Birru akan selalu tersenyum untuknya. Ia juga berharap, semoga cintanya yang begitu besar segera terbalaskan.
Birru menuntun Zahra menaiki kapal yang ia sewa lalu mereka duduk berdampingan.
Zahra menggenggam tangan Birru ketika kapal mulai berlayar. Zahra merasa teramat cemas jika kapal yang mereka naiki akan tenggelam, seperti yang ada dalam pikirannya. Bagaimana jadinya, jika mereka benar-benar mati tenggelam saat ini. "Oh tidak, jangan sampai itu terjadi yaa Robb," kata yang hanya terlisan di dalam hati.
Birru menarik kedua sudut bibirnya saat menatap wajah Zahra yang memutih. Kentara sekali bahwa Zahra teramat takut.
Birru mencium pipi Zahra dan mengusap jilbab yang dikenakan oleh istrinya itu dengan lembut.
"Jangan takut, Ra! Rileks .... Nikmatilah suasana romantis ini! Kak Birru tidak pernah lho, membawa seorang wanita mengunjungi tempat-tempat romantis di Inggris."
"Oya?" tanya Zahra tidak percaya. Bagaimana mungkin pria setampan Birru yang dahulu sering bergonta-ganti kekasih, tidak pernah membawa wanitanya ke tempat yang romantis.
"Iya, Ra."
"Mungkin, karena Kak Birru lebih suka membawa mereka ke hotel dan melakukan itu ...."
Birru tergelak mendengar ucapan Zahra.
"Nah 'kan, tebakan Zahra benar. Kak Birru pasti mendapat pelayanan yang memuaskan dari mereka." Zahra memutar bola mata jengah ketika membayangkan Birru berbuat mes*m dengan wanita-wanita yang pernah menjadi kekasihnya.
__ADS_1
CETAK
Birru menjitak kening Zahra. Wanita berwajah hampir mirip dengan Kristen Jaymes StewartΒ itu meringis.
"Apa-apaan sich, Kak .... Kenapa, Kak Birru menjitak kening Zahra? Seharusnya, Zahra yang menjitak Kak Birru. Sebagai hukuman, karena Kak Birru pernah berbuat mes*m dengan beberapa wanita," protes Zahra.
"Kak Birru tidak pernah berbuat mes*um. Kecuali ...."
"Kecuali apa, Kak?" Zahra menatap manik mata Birru dengan intens.
"Kecuali dengan Lorena. Kak Birru melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Bahkan, Kak Birru sama sekali tidak mengingat bagaimana raga kami bersatu."
Birru menjeda sejenak ucapannya dan menghela nafas dalam. Terbayang olehnya, kejadian beberapa tahun silam saat ia dan Lorena tidur seranjang dalam keadaan telanj*ng. "Entah minuman apa yang diberikan oleh Lorena, sehingga membuat kepala Kak Birru serasa teramat pening kemudian tidak sadarkan diri. Ketika tersadar, Kak Birru sudah tidur seranjang dengan Lorena, tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh polos kami."
"Maaf, Kak. Maaf karena Zahra telah berburuk sangka pada Kak Birru ."
"Wajar Ra, jika kamu berprasangka seperti itu."
Zahra mengulas senyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Birru. Zahra semakin bersyukur, karena ternyata ... Birru bukanlah seorang pria mes*m seperti Steven.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like π
Beri komentar, gift, atau vote untuk mendukung MjB πππ
Mohon maaf, jika author remahan kulit kacang ini, mungkin akan sering terlambat UP. Karena apa? Karena si othor sedang menulis karya baru yang baru menetas kemarin. Cerita yang diadaptasi dari kisah nyata seseorang. ππ
Penasaran???? Yuksss silahkan diintip πππ
__ADS_1