
Happy reading ... ππ
Langit di kota Cambridge pagi ini begitu cerah, berteman senyum sang surya yang menyilaukan, menjadi saksi terlantunnya kalimat syahadat dari bibir Sean.
"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah."
βAku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Dan (aku bersaksi) bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.β
Sean mengucap kalimat syahadat dengan lancar, tanpa kesalahan sedikitpun. Sean memutuskan untuk menjadi mualaf karena keyakinan di dalam hati, bukan karena ingin mendapatkan simpati dari Raina.
Kalimat syahadat yang terlantun, mendapat sambutan berupa ucapan syukur dan selamat dari Raina serta semua orang yang menyaksikan proses berpindahnya keyakinan seorang Sean Wilson dari ateis menjadi seorang muslim.
Setelah menjadi mualaf, Sean berganti nama ... Muhammad Abhizar Albirru. Nama Muhammad Abhizar Albirru diberikan oleh Abdal Hakim. Nama tersebut memiliki makna ... orang yang senantiasa menyebarkan kebaikan sebagaimana tauladan kita, Nabi Muhammad SAW.
.
.
Saat ini, Sean dan Raina masih berada di Cambridge Mosque Trust. Masjid yang menjadi tempat, terlantunnya kalimat syahadat dari bibir seorang Sean Wilson, pewaris satu-satunya Wilson Corp.
Raina dan Sean, duduk di bangku taman yang berada di halaman masjid. Mereka sangat mengagumi bangunan masjid yang sangat unik.
"Sean ... kamu tau tidak? Masjid ini disebut sebagai masjid hijau lho ...."
"Oya ....? Kenapa disebut masjid hijau, Rain?" Sean mengerutkan sedikit dahinya.
Raina mengulas senyum tatkala mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Sean. "Sean, hijau disini bukan berarti hijau warna. Tapi, karena masjid ini mengusung teknologi ramah lingkungan. Cambridge Central Mosque, memadukan Islam dengan teknologi ramah lingkungan hingga akhirnya menjadi masjidΒ 'hijau' pertama di Eropa."
"Masjid ini dirancang oleh Marks Barfield Architects. Masjid yang sangat ramah lingkungan dengan nol emisi karbon. Menurut arsitek utamanya, Julia Barfield, bangunan masjid bisa menghasilkan panas dan dingin dengan menggunakan energi yang dihasilkan secara alami, serta air hujan yang dapat ditampung untuk mengairi pepohonan di sekitarnya," tutur Raina.
"Oh, my God,Β this is so cool!"
"Iya, Sean. Masjid ini memang sangat keren. Pembangunannya membutuhkan waktu, selama 10 tahun dan menghabiskan biaya $29,7 juta atau sekitar Rp 429,5 miliar."
"Cambridge Central Mosque, dapat menampung sekitar 1.000 jamaah. Aku sangat terpukau ketika pertama kali melihat bangunan masjid ini, Sean. Desain masjid yang modern ... didominasi oleh kayu dan memiliki ruang salat yang besar, area wudhu yang nyaman. Sehingga, jika berada di masjid ini, aku merasa begitu nyaman dan tidak ingin segera pulang ke apartemen."
"Hmmm ... begitu, ya?"
"Heem ...."
"Yasudah, kita bermalam di masjid ini saja, Rain ...," goda Sean disertai kerlingan mata.
Pletak ....
Satu jitakan mendarat tepat di kening Sean. Pria blonde itu pun mengusap keningnya yang sedikit memerah karena jitakan Raina.
"Sakit, Rain."
"Mau lagi?"
"Tidak, jangan dijitak ... lebih baik dicium saja." Sean terkekeh.
Raina melemparkan tatapan tajam. Raut wajah yang tadinya berseri-seri, kini berubah menjadi masam setelah mendengar celotehan Sean.
"Dasar ... kau, Sean. Setelah menjadi mualaf, masih saja ... belum insyaf sepenuhnya," cibir Raina.
Sean tergelak. "Pffttt ... hhahaha, aku hanya bercanda, Rain. Aku akan menyuruhmu untuk menciumku, ketika kita sudah menjadi pasangan yang halal."
Raina memutar bola mata malas. Ia jengah dengan ucapan yang dilontarkan oleh Sean. "Ckk, aku sudah bilang 'kan ... aku mencintai pria lain. Hatiku ini sudah dimiliki oleh Keanu. Pria yang selama ini aku cintai. So, jangan berharap ... kita bakal menjadi pasangan yang halal, Sean. Atau ... lebih baik, hubungan persahabatan ini ... kita akhiri saja. Aku sangat tidak suka, jika niatmu untuk menjadi sahabatku ... ada udang di balik bakwan," tandas Raina.
"Jangan, Rain. Jangan akhiri hubungan persahabatan kita! Maaf, atas celotehanku yang membuatmu kurang berkenan," pinta Sean dengan penuh penyesalan. Sean sadar, seharusnya ia bisa menjaga ucapannya. Cukup berada di dekat Raina sebagai seorang sahabat saja, Sean sudah teramat bahagia.
Raina bergeming. Ia teramat kesal pada Sean.
"Rain, ada udang di balik bakwan ... maksudnya apa?" Sean memasang wajah bloo*.
__ADS_1
"Kamu cari tau saja di kamus, atau bertanya pada tante goog!" ketus Raina.
"Hmmm ... baiklah. Nanti, aku akan bertanya pada tante goog, maksud ucapanmu ... ada udang di balik bakwan."
Raina yang masih merasa kesal, berusaha menahan tawa. Ia geli mendengar ucapan Sean yang ... konyol.
"Rain, terimakasih. Karena, kehadiranmu bagai angin surga yang menyejukkan jiwaku. Berkat kamu, aku bisa mengenal Islam yang sesungguhnya. Islam, bukan seperti yang dikatakan oleh kebanyakan orang. Islam adalah agama perdamaian, bukan agama teror. Deen assalam ...."
Mendengar ucapan Sean yang begitu tulus, kekesalan Raina pun menguap. "Sama-sama, Sean. Aku hanya sebagai perantara saja, untuk membantumu meraih hidayah dari-Nya. Sean, aku sangat bahagia, karena hari ini ... bisa menyaksikanmu, melantunkan kalimat syahadat. Semoga, kamu selalu istiqamah. Menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya," tutur Raina.
"Ehemmm ...." Tetiba terdengar suara deheman. Sean dan Raina, seketika menoleh ke arah asal suara.
"Mr. Abdal ...," pekik Raina. Netra Raina berbinar tatkala melihat Abdal Hakim. Dosen yang sangat dikaguminya.
"Raina, Sean. Rupanya, kalian masih betah berada di sini."
"Iya, Mr. Abdal. Tempat ini adem dan nyaman untuk sekedar merilekskan pikiran. Sehingga, kami betah berlama-lama ngadem di halaman masjid ini," balas Raina sembari menampakkan deretan gigi putihnya.
"Owhhh, saya kira ... kalian masih betah berada di tempat ini, karena ingin sekalian dinikahkan," kelakar Abdal Hakim seraya menggoda Sean dan Raina.
Bibir Raina mengerucut. Raut wajahnya kembali masam. Sedangkan Sean, ia merasa senang. Di dalam hatinya, Sean mengaminkan ucapan Abdal Hakim. Ia berharap, kelak bisa menikahi Raina di masjid ini. Cambridge Central Mosque.
Cambridge Central Mosque (sumber: google)
πΉπΉπΉ
Sesampainya di apartemen, Raina merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tetiba, ia sangat merindukan Keanu.
Ingin rasanya, Raina segera menghubungi Keanu via vidio call. Namun, hari ini bukanlah hari ahad. Sehingga, dapat dipastikan ... Keanu masih berada di pondok pesantren. Jika Keanu sedang berada di pondok, mereka tidak akan leluasa untuk berbincang meski secara virtual.
Wajah Raina terhias senyuman indah, tatkala mendengar suara merdu sang kekasih hati, Keanu Putra Abimanyu.
Senyuman terlukis di wajahku
Di saat ku mengingat kamu
Tawamu menjamu membuatku rindu
Tak sabar ingin bertemu
Suara lembut menyapa aku
Lembutnya selembut hatimu
Tulusnya setulus cinta padaku
Ku sadar beruntungnya aku
Hidupku tanpamu
Takkan pernah terisi sepenuhnya
Karena kau separuhku
Berbagi suka duka
Saling mengisi dan menyempurnakan
Karena kau separuhku
Suara lembut menyapa aku
__ADS_1
Lembutnya selembut hatimu
Tulusnya setulus cinta padaku
Ku sadar beruntungnya aku
Hidupku tanpamu
Takkan pernah terisi sepenuhnya
Karena kau separuhku
Berbagi suka duka
Saling mengisi dan menyempurnakan
Karena kau separuhku
Separuh jalan hidupku
Kau separuhku
Tak ada penyesalan
Hidup lebih mudah
Bila kita berdua
Jalaninya
Hidupku tanpamu
Takkan pernah terisi sepenuhnya
Karena kau separuhku
Berbagi suka duka
Saling mengisi dan menyempurnakan
Karena kau separuhku
Hidupku tanpamu
Takkan pernah terisi sepenuhnya
Karena kau separuhku
Berbagi suka duka
Saling mengisi dan menyempurnakan
Karena kau separuhku
(Nano Band)
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Jangan lupa, beri like dan komen penyemangat. Bagi yang punya vote, bolehlah dibagi untuk mendukung MJB πππ
Trimakasih πππ
__ADS_1