
Happy reading πππ
"Bund, Bunda ...." Kirana terkesiap tatkala mendengar suara bariton yang sangat familiar.
"Bi ...." Kirana menengadahkan wajah. Ia tatap wajah pria yang kini tengah berdiri di hadapannya.
"Bi, benarkah ini kamu atau --" Suara Kirana tercekat. Lidahnya serasa kelu.
BRUKK
Tubuh Kirana ambruk, hingga wanita yang sangat mencintai Abimana itu ... pingsan. Ia tidak sadarkan diri di bawah derasnya air langit.
"Bund, Bunda ...." Abimana menepuk-nepuk pipi kekasih hatinya dengan pelan. Ia berharap, wanita yang kini tengah tak sadarkan diri itu segera membuka netranya.
Air langit tumpah semakin deras. Gegas, Abimana menggendong tubuh sang istri ala bridal style. Lalu ia berjalan memasuki kediamannya dengan langkah lebar.
"Bunda, sadarlah Sayang!" lirih Abimana. Raut wajahnya menyiratkan kecemasan.
Abimana membuka pintu kamar dengan menggunakan kaki kanannya. Lantas ia melangkah menuju ranjang.
Perlahan, Abimana membaringkan tubuh sang istri di atas ranjang king size, tempat biasa mereka berdua memadu kasih.
"Bunda, bangunlah Bund! Jangan membuat suamimu ini khawatir!"
Abimana melepas pakaian istrinya yang telah basah lalu menggantinya dengan pakaian lain. Pria berwajah mirip dengan Caesar Hitto itu pun menghangatkan seluruh tubuh istrinya dengan minyak kayu putih.
"Bunda sayang .... Bangunlah! Jangan membuatku khawatir!"
"Bi ... Bi, jangan tinggalkan aku! Kita sudah berjanji akan menua bersama." Igauan disertai lelehan air bening yang keluar dari kedua sudut netra Kirana.
CUP
Abimana mencium kening Kirana dengan intens. Diusapnya wajah yang basah dengan jemari tangan.
"Bi ...." Bulu mata nan lentik bergerak-gerak diikuti kerjapan netra, menyesuaikan silaunya lampu kamar. Jemari tangan menyentuh pelipis yang terasa pening.
__ADS_1
"Bi, benarkah ini kamu?" tanya yang terlisan disertai kelopak mata ... terbuka sempurna. Jemari lentik terulur menyentuh wajah tampan Abimana, suami yang sangattt dirindukan.
"Tentu saja, ini aku Sayang. Suamimu. Abimana Surya Saputra." Abimana meraih tangan Kirana. Ia cium buku-buku jari kekasih hatinya, meluapkan kerinduan yang sudah sampai di ubun-ubun.
"Bi ...," lirih Kirana. Perlahan ia beranjak dari posisi berbaring lalu menghambur ke pelukan sang suami. Seketika, Abimana pun membalas pelukan Kirana, istri comel yang telah menjadi pilihan hatinya.
"Bi, jangan pernah tinggalkan aku lagi!" pinta Kirana dengan kesungguhan hati.
"Iya Sayang, aku berjanji ... tidak akan pernah meninggalkanmu lagi." Diciumnya pucuk kepala sang istri dengan penuh perasaan seraya mencurahkan cinta dan kerinduan.
Kirana meregang pelukan. Ia tatap lekat-lekat manik mata yang senantiasa meneduhkan. "Bi, kenapa baru tiba? Aku dan ketiga buah hati kita teramat mencemaskanmu."
Abimana menghela nafas dalam sebelum menjawab kalimat tanya yang terucap dari bibir Kirana. "Sayang, maaf... aku telah membuat kalian cemas. Sebenarnya, pesawat yang semestinya membawaku pulang ke Jogja mengalami kecelakaan. Atas kehendak Allah, sebelum suamimu ini masuk ke dalam pesawat naas itu, Zico mengirim beberapa orang kepercayaannya untuk menjemputku, sebab ada hal penting menyangkut kerjasama kami yang masih ingin ia bicarakan. Namun sangat disayangkan, Kevin tidak bisa ikut bersamaku karena istrinya akan segera melahirkan. Kevin --" Suara Abimana tercekat. Ia tidak kuasa melanjutkan ucapannya.
"Ke-Kevin, kenapa Bi?"
"Kevin ... dia sudah tiada. Jasadnya hancur," lirih Abimana sembari menundukkan wajah. Tubuh pria bermata teduh itu serasa lemas bagai raga tanpa nyawa. Abimana teramat kehilangan sosok orang kepercayaan yang selama ini selalu setia mendampinginya, almarhum Kevin Prayoga.
"Inna lillahi wa inna illaihi roji'un. Kapan pesawat itu mengalami kecelakaan, Bi?"
"Pukul delapan malam, Yang. Sebelum pulang ke Jogja, aku memastikan kebenaran informasi mengenai kecelakaan pesawat naas itu terlebih dahulu. Dan .... pada pukul tiga dini hari, Zico memerintahkan anak buahnya untuk mengantarku pulang ke Jogja dengan menggunakan pesawat pribadinya."
Dada Kirana berdesir, degup jantungnya terdengar tak beraturan. Bahkan, bulu kuduk Kirana meremang ketika terngiang suara Kevin yang terakhir kalinya ....
"Bi, Ke-Kevin sempat menghubungiku via telepon. A-aku mengangkatnya. Te-tetapi tiba-tiba sambungan teleponnya terputus."
Netra Abimana membola tatkala mendengar ucapan Kirana. "Kevin menghubungi Sayang? Kapan?"
"Ku-kurang lebih, pukul tiga dini hari, Bi."
"A-apa? Pukul tiga dini hari?"
Kirana mengangguk samar. "I-iya, Bi."
"Masya Allah .... Meski nyawa telah berpisah dengan raga, Kevin masih sempat menjalankan tugasnya untuk yang terakhir kali. Mungkin, dia ingin memberitahu Sayang, bahwa aku sudah terbang ke Jogja."
__ADS_1
"Aku sependapat denganmu, Bi. Dia bilang 'Tuan Bima, sudah ....' Setelah itu, sambungan teleponnya terputus."
"Semoga, Kevin husnul khotimah. Diterima segala amal ibadahnya dan diampuni segala dosa-dosanya," doa tulus Abimana disertai netra yang mengembun.
"Aamiin yaa Allah. Semoga Allah mengijabah, Bi."
"Aamiin, iya Sayang."
"Bi, bagaimana keadaan istri Kevin saat ini? Dia sudah mengetahui bahwa suaminya telah tiada?"
"Sudah, Yang. Nilam sudah mengetahuinya. Wanita itu teramat syok ketika mendengar kabar duka yang disampaikan oleh Jo. Kondisinya melemah setelah melahirkan malaikat kecil yang selama ini dinanti."
"Bi, aku ingin segera menemui Nilam. Kasihan dia dan bayinya."
"Iya Yang. Lebih baik, kita tunaikan sembahyang subuh terlebih dahulu sebelum berangkat ke rumah sakit."
Abimana memandu istrinya untuk beranjak dari ranjang. Lantas keduanya mengayunkan kaki menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Sebelum menunaikan sembahyang subuh, Kirana membangunkan kedua buah hatinya, Khanza dan Dylan.
.
.
Sajadah dibentang, aurat ditutup sesuai dengan perintah Illahi, kalam cinta terdengar mengalun merdu dari bibir imam sehidup sesurga, Abimana Surya Saputra.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung....
Mohon maaf, akhir-akhir ini si othor lemot sekali UP nya. Mengetik satu episode saja bisa sampai 24 jam karena gampang ngantukss π
Terus ikuti episode menuju ending βΊπ
Tinggalkan jejak like π
__ADS_1
Berikan komentar, gift, atau vote jika berkenan π π π
Trimakasih dan banyak cinta untuk semua sobat MjB πππβ€β€β€β€