
Happy reading 😘😘😘
Netra Kirana berbinar tatkala melihat bangunan yang sangat indah dan unik tersuguh di hadapannya. Bangunan itu ... Cambridge Mosque Trust. Masjid yang menjadi saksi, seorang Sean Wilson berikrar ... bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan Muhammad, utusan Allah.
Kedatangan Kirana, Keanu, Raina, Birru, dan Sherin, disambut hangat oleh Abdal Hakim. Pria paruh baya itu, mempersilahkan para tamunya untuk berwudhu, sebelum masuk ke dalam masjid.
Lalu, mereka melaksanakan sholat sunah dua rokaat, dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah ... 3 rokaat.
Seusai menjalankan ibadah sholat maghrib, mereka melangitkan pinta seraya merayu kepada Sang Maha Kasih, agar ditetapkan iman, islam, dan ketaqwaan.
Setelah melipat dan menyimpan mukena, Kirana melangkahkan kakinya ke luar masjid. Sedangkan Raina, Keanu, Birru, dan Sherin, memilih berbincang di dalam masjid bersama Abdal Hakim.
Kirana mendaratkan tubuhnya di bangku yang tersedia di halaman masjid. Ia menatap hamparan langit yang terhias rupa sang dewi malam, dengan netra berkaca-kaca. Rupanya, Kirana tengah menyimpan kerinduan yang sudah tak tertahankan.
Berpisah dengan Abimana selama satu minggu, seolah bagaikan seabad. Rindu ... Kirana sangat merindukan Abimana Surya Saputra, suami yang sangat dicintainya.
"Bi, I miss you. Aku sangattt merindukanmu, Bi. Mengapa, dari kemarin ... nomermu tidak bisa dihubungi? Apa mungkin, perasaanmu terhadapku sudah luntur? Ya ... seandainya sudah luntur, itu merupakan hal yang sangat wajar. Karena ... aku hanyalah figuran di dalam kisah cintamu." Kirana bermonolog. Tanpa terasa, buliran bening menetes begitu saja dari kedua sudut netranya.
"Kamu, bukanlah figuran ... Sayang. Justru, kamu-lah pemeran utama di dalam kisah cintaku. I miss you too, Bidadari hatiku." Seketika, Kirana menoleh ke arah asal suara. Netranya mengerjap-ngerjap. Seolah, ia tidak percaya dengan penglihatannya.
"Abi ...." Kirana terlonjak, ketika menyadari bahwa sosok yang ada di hadapannya itu nyata.
"Hehemm. Asalamu'alaikum, istri comelku." Abimana menyapa Kirana dengan memperlihatkan senyuman khasnya yang menawan.
"Wa'alaikumsalam, suami tampanku." Kirana menyeka buliran bening yang membasahi wajahnya dengan jemari tangan.
"Sayang, ada sesuatu untukmu." Pria tampan bermata teduh itu menyerahkan bucket bunga mawar kepada kekasih hatinya, Ayunda Kirana.
Kirana menerima bucket bunga mawar dengan hati yang berdaun-daun karena teramat bahagianya. 😆
"Trimakasih, Bi." Menatap manik mata coklat suaminya, lalu mendaratkan kecupan di pipi.
"Kembali kasih, Cintaku." Abimana membalas kecupan Kirana. Ia kecup sekilas, bibir ranum milik sang istri yang selalu menjadi candu.
__ADS_1
"Eheemmmm...." Suara deheman seseorang, yang sangat familiar bagi Kirana dan Abimana.
"Rai, Alya ...." Kirana mengembangkan senyuman tatkala melihat Raikhan dan Alya yang sudah berdiri di hadapannya. Kirana benar-benar tidak menyangka, Abimana, Raikhan, dan Alya, sudah berada di Cambridge. Bagi Kirana, kedatangan mereka bertiga merupakan surprise yang sangat luar biasa.
Kirana dan Alya saling berpeluk. "Al, aku sangat senang ... kamu juga datang ke Cambridge. Kapan kalian berangkat, hmmm? Mengapa, sama sekali tidak memberitahuku bahwa kalian akan menyusul kami?" cecar Kirana sembari melepas pelukan dengan perlahan.
"Kami berangkat kemarin, Mbak. Mas Abi yang meminta kami, untuk tidak memberitahu Mbak Kiran, bahwa kami akan menyusul ke Cambridge. Kata Mas Abi ... biar menjadi surprise untuk Mbak Kiran." Alya mengulas senyum. Diliriknya sang mantan sekilas.
"Hmmm ... begitu ya. Tapi, ini beneran surprise bagiku, Al. Aku teramat bahagia dengan kedatangan kalian. Oya, ngomong-ngomong ... kenapa, kalian bisa tau bahwa kami sedang berada di tempat ini?" Kirana mengerutkan dahi, hingga kedua alisnya saling bertautan.
"Sesampainya di bandara, ayah menghubungi Kean, Bund. Keanu memberitahu, bahwa kalian akan mampir ke Cambridge Mosque Trust. Makanya, ayah, Rai, dan Alya langsung menyusul kalian. Ayah berpesan pada Keanu, supaya tidak memberitahukan kedatangan kami pada Bunda." Abimana menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh istri tercinta. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang ramping sang istri. Ingin rasanya, Abimana memeluk Kirana dengan erat, menumpahkan segenap kerinduan, saat ini juga. Namun, ia urungkan. Karena, akan terkesan kurang sopan jika dilihat oleh para jamaah yang mulai berdatangan untuk bersiap menjalankan ibadah sholat isya.
"Yah, Khanza dan Dylan ...?"
"Mereka juga ikut, Bund. Khanza, Dylan, dan juga Dava ... mereka sudah berada di dalam masjid. Berkumpul bersama Keanu dan teman-temannya."
"Syukurlah. Bunda merasa lega, karena mereka ikut serta. Yuk, kita sholat isya, Yah! Setelah menjalankan ibadah sholat isya, kita bicarakan pernikahan Keanu dan Raina."
"Heem, baiklah ... Bund. Yuk Rai, Al ... kita sholat dulu!"
Kirana, Abimana, Raikhan, dan Alya mengambil air wudhu. Kemudian mereka masuk ke dalam masjid, berbaur dengan para jamaah yang lain.
🌹🌹🌹
Mata Khanza tidak berkedip saat Birru menghiasi wajahnya dengan seutas senyum. Di mata khanza, ketampanan pria blonde itu bertambah ... ketika sedang tersenyum.
"Hai, adik kecil ... kenapa menatap kak Birru seperti itu, hmmm?" Birru menoel hidung Khanza. Wajah Khanza seketika merona tatkala jari telunjuk Birru, menyentuh batang hidungnya.
"Kak Birru ... handsome. Wajah Kak Birru, seperti malaikat. Khanza tersepona, Kak." Khanza berucap dengan polosnya. Tatapan mata Khanza tidak beralih sedikit pun dari wajah Birru yang teramat tampan.
Birru terkikik geli mendengar ucapan Khanza. "Apa yang diceritakan oleh Raina tentangmu, ternyata benar, Za. Kamu dan Raina, 1112. Kalian sama-sama memiliki karakter yang unik dan menggemaskan. Sayang, usiamu masih 14 tahun ... adik kecil."
Khanza merengut. Ia tidak suka jika disebut, adik kecil. "Issshhhh, Kak Birru. Jangan memanggilku dengan sebutan adik kecil. Aku bukanlah anak kecil lagi. Aku bisa bersikap dan berpikiran dewasa lhooo."
__ADS_1
"Oya? Waahhhh ... hebat donk. Masih berusia 14 tahun, tapi sudah bisa bersikap dan berpikiran dewasa."
"Heem. Kak ... aku langsung tersepona pada Kak Birru, saat kita berkenalan di Cambridge Mosque Trust, tadi."
"Tersepona?"
"Tersepona itu maksudnya ter-pe-so-na. Bahasa Inggrisnya, wonderstruck ... kalau nggak salah sichhhh." Khanza tersenyum nyengir.
"Hmmm ... jadi, adik kecil langsung terpesona begitu melihat wajah tampanku?"
"Iya, Kak. Ikan hiu makan tomat, I love you so much, akak ...." Khanza memasang wajah puppy eyes.
PLETAK
Keanu menjitak kening adiknya. "Za, jangan ke genitan! Malu tauuuu .... Lagian ya, Kak Birru sudah ada yang akan memiliki."
"Benarkah?" Raut wajah Khanza berubah sendu.
"Iya, Za. Sebentar lagi ... kak Birru akan menikah." Birru tersenyum simpul. Meski Birru yakin dengan keputusannya untuk menikahi Allesya, tetapi ... sisi hatinya yang lain, menolak.
Birru hanya bisa memasrahkan takdir cintanya kepada Illahi. Apa yang dikehendaki oleh Sang Penulis Skenario Kehidupan, itulah yang terbaik.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Akankah Birru benar-benar berjodoh dengan Allesya??? Hanya sang waktu yang akan menjawabnya ... ❤
🌹🌹🌹
Bersambung ....
Maaf jika ada typo 😆🙏
Jangan lupa like dan komennya ya Sob. 😆😆
__ADS_1
Trimakasih untuk para pembaca yang masih setia mengikuti MJB, dan berkenan memberi dukungan berupa gift atau vote. 😇🙏
Banyak cinta untuk kalian ❤😘😘😘