Mantan Jadi Besan

Mantan Jadi Besan
Permintaan Zahra


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Eh, namamu Rangga ya?"


"Iya Mas."


"Jangan tembak Khanza dengan kata 'I love you'. Tapi tembak lah dia dengan mengucap 'Qobiltu' !" titah Ikhsan dengan menaik turunkan alisnya.


"Itu pasti Mas, jika saatnya telah tiba. Untuk saat ini, Rangga akan menembak Khanza dengan 'Bismillah'...," sahut Rangga dengan mantap.


Khanza semakin jengah. Lantas ia pun memilih berlalu pergi, meninggalkan dua anak Adam yang sangattttt menyebalkan.


....


"Khanza ...." Khanza menghentikan langkah kala terdengar suara bariton yang sangat familiar memanggil namanya. Perlahan, diputarnya tumit hingga menghadap ke arah asal suara. Khanza terlonjak saat mengetahui sang pemilik suara.


"Kak Bi-Birru?" Telapak tangan menutup bibir disertai netra yang membola sempurna. Khanza sungguh tidak percaya dengan objek yang dilihatnya saat ini. Birru dan Zahra.


"Khanza ...," sapa Zahra disertai senyum yang merekah. Tangan terulur untuk memberi pelukan singkat pada gadis yang masih saja bertahta di hati suaminya.


"Kak Zah-ra?" lirih Khanza. Hati yang semula baik-baik saja kini terasa perih. Sungguh, Khanza tak kuasa melihat dua orang yang saat ini berdiri di hadapannya, Birru dan Zahra. Sekuat apapun berusaha menghempas rasa, nyatanya ... setitik rasa untuk Albirru masih saja bersemayam.


"Kak, apa kabar kalian berdua?" Bibir dipaksa melengkung meski hatinya bagai dihujam ribuan pisau yang tak kasat mata.


"Baik Za. Kamu, apa kabar?" tanya yang terlisan tanpa memudarkan senyum di wajah cantiknya.


"Alhamdulillah, sangat baik. Putra Kak Zahra, tidak ikut?" Khanza berbasa-basi. Sebenarnya Khanza ingin segera berlalu dari hadapan Birru dan Zahra lalu mengurung diri di dalam kamar, meluapkan dera yang menyiksa. Menjerit, menangis, mengadu pada Robb-nya.


"Tidak, Za. Kami hanya ... berdua," sahut. Zahra.

__ADS_1


"Za, bisakah kita bicara empat mata?" sambungnya dengan menatap lekat manik mata Khanza. Entah apa yang ingin disampaikan oleh Zahra, sehingga raut wajahnya menyiratkan makna yang tak teraba.


"Bisa Kak. Tapi, bagaimana dengan Kak Birru?" tanya yang terucap dari bibir Khanza tanpa menatap lawan bicara. Gadis yang masih sangat belia itu menundukkan wajah, menghindari tatapan Zahra dan Birru.


"Kalian berbincang lah! Aku akan menemui Keanu dan Raina," tutur Birru sebelum melangkah pergi.


Perlahan, Khanza menengadahkan wajah setelah pria blonde dengan sejuta pesona itu berlalu dari hadapannya.


"Kak, kita berbincang di taman belakang ya?"


"Heem, baiklah Za." Zahra mengangguk samar. Ia raih tangan Khanza lalu keduanya melangkah beriringan menuju taman belakang.


.


.


Zahra mendaratkan tubuhnya di bangku taman diikuti oleh Khanza. Lantas mereka mulai berbincang ditemani rerumputan, bunga mawar biru yang merekah, dan senyum sang mentari.


Zahra menghela nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Khanza. Menata hati yang berkecamuk karena rasa yang tak menentu. Antara rela atau mempertahankan keegoan. Satu yang Zahra inginkan, kebahagiaan Birru, suami yang teramat ia cintai. Zahra bertekad, apapun akan ia lakukan demi mengukir senyum Albirru. Zahra berpikir, kebahagiaan Birru hanyalah Khanza. Sebab, di setiap tidurnya ... Birru masih sering memanggil nama Khanza disertai lelehan air bening yang membingkai wajah tampan.


"Za, beberapa bulan yang lalu, aku dan kak Birru mengalami kecelakaan. Beruntung, Sang Maha Kasih masih memberi kami perlindungan dan keselamatan." Zahra menjeda sejenak ucapannya.


"Za, setelah kecelakaan yang menimpa kami, kak Birru semakin perhatian padaku. Namun sangat disayangkan, dia belum juga mampu memberi nafkah batin. Meski kami sudah hidup bersama selama lebih dari satu tahun, nyatanya ... hati kak Birru belum terbuka untukku. Dia masih sangat mencintaimu, Za." Zahra menjeda sejenak ucapannya. Memberi kesempatan pada Khanza untuk menelaah ....


" Za, aku sangat berharap ... kelak jika kamu telah dewasa, menikahlah dengan kak Birru! Aku rela berbagi suami, tapi tolong ... jangan memintaku untuk pergi dari sisinya! Aku mohon Za! Ijinkan aku menyulam hari bersama kalian. Menghabiskan sisa waktu, hidup bersama dengan pria yang sangat aku cintai."


TES


Bulir kesedihan yang selama ini tertahan, kini tumpah seiring dengan kata-kata yang meluncur dari bibir ranumnya.


Meski Albirru telah mengikat Zahra dengan ikrar suci, batin wanita berlensa biru itu masih saja tersiksa. Sebab sampai kini, ketulusan cintanya belum juga mendapat balasan.

__ADS_1


Zahra sangat ingin memiliki hati dan raga Birru seutuhnya. Namun, keinginan Zahra menguap ketika nama Khanza masih saja tersemat dalam untain doa dan igauan Albirru di setiap malam.


Khanza menghembus nafas kasar. Meski di hatinya masih ada setitik rasa untuk Birru, Khanza tidak berkeinginan untuk merusak ikatan suci yang telah terjalin di antara Birru dan Zahra. Ia berpegang teguh pada pendiriannya ....


"Kak, jujur ... setitik pun, Khanza tidak berkeinginan untuk menjadi yang kedua. Meski Khanza akui, rasa yang haram itu masih tersisa setitik. Masih ada rasa bukan berarti ingin bersama. Lagi pula, Khanza sudah memilih seorang pemuda yang kelak menjadi imam." Khanza berdusta. Sebenarnya, belum ada seorang pemuda yang bisa menggantikan posisi Albirru di hati Khanza. Termasuk dua pemuda saleh nan tampan, Fadlan dan Fadli. Sehebat apapun kedua pemuda saleh itu berusaha, nyatanya mereka belum mampu meruntuhkan dinding hati seorang Khanza.


Khanza menyeka wajah cantik yang terbingkai bulir kesedihan. Ia raih tangan Zahra dan menatap manik mata yang masih menjelma menjadi telaga bening.


"Kak, luluhkan hati kak Birru dengan mengetuk pintu langit di sepertiga malam! Hanya Illahi yang maha membolak-balikan hati. Tidak ada yang tak mungkin jika Dia sudah berkehendak. Bersabarlah menanti sambutan cinta dari kak Birru. Khanza yakin, seiring berjalannya waktu ... hati kak Birru akan luluh dan terbuka untuk kak Zahra. Pertahankan jalinan suci yang telah terikat karena ridho-Nya! Jangan biarkan pihak ketiga masuk ke dalam rumah tangga kalian, meskipun itu Khanza!" imbuh Khanza.


Kata-kata yang terucap dari bibir Khanza sukses mencubit hati Zahra. Ia teramat malu pada gadis yang masih berusia tujuh belas tahun itu. Meski masih sangat belia, pemikiran Khanza sudah sangat dewasa. Bahkan lebih dewasa bila dibandingkan dengan dirinya.


"Za ...." Zahra menghambur ke pelukan Khanza.


Tangan terulur, mengusap punggung Zahra dengan gerakan naik turun seraya memberi ketenangan meski wajahnya terbingkai kabut duka.


Bibir bisa mengucap kata-kata bijaksana. Namun di dalam benak, hanya ia dan Illahi yang tau.


Tanpa keduanya sadari, sepasang mata menyaksikan apa yang telah terjadi. Pemilik sepasang mata itu mampu mencerna percakapan antara Khanza dan Zahra. Bahkan, ia bisa menangkap raut wajah Khanza yang terbingkai kabut duka.


"Za, aku berjanji ... akan selalu menorehkan bahagia di hidupmu. Bukalah pintu hatimu untukku! Ijinkan aku mengganti posisi Birru. Pria yang tidak sepatutnya masih engkau cinta," kalimat yang hanya terlisan di dalam hati ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Semoga dua episode lagi, MjB benar-benar end. Harap bersabar bagi yang sudah bosan ... πŸ˜…πŸ™


Tinggalkan jejak like πŸ‘


Berikan komentar, gift, atau vote jika berkenan πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


Trimakasih dan banyak cinta untuk semua sobat MjB 😘😘😘❀❀❀❀


__ADS_2