
Happy reading ... πππ
Ikhsan dan Alyra teramat bahagia, karena benih cinta mereka telah bersemayam di dalam rahim Alyra.
"Mas, Alyra ingin segera memberitahukan kabar bahagia ini pada mama dan papa," tutur Alyra disertai senyuman yang merekah.
"Iya Sayang. Setelah kita pulang ke Jogja, mas Ikhsan juga ingin memberitahukan kabar bahagia ini pada ayah dan ibu." Ikhsan mengulas senyum, lalu mengecup kening Alyra.
"Heem, Mas. Tapi ... dengan kehamilan Alyra yang masih berusia 8 minggu, apakah aman jika naik pesawat?" tanya Alyra yang tetiba dihinggapi oleh rasa khawatir.
"Kita tanyakan pada tante Kirana, Yang."
Alyra mengangguk pelan dan menyunggingkan seutas senyum.
Netra Alyra membulat sempurna ketika ia teringat Kirana.
"Loh, Mas ... tante Kiran pergi ke mana?"
"Entahlah, Yang. Mas Ikhsan juga tidak tau ...." Ikhsan megedikkan bahu.
"Astaghfirullah, jangan-jangan ...." Alyra membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
"... Tante Kiran mundur alon-alon saat kita berci*man tadi, Yang?" sahut Ikhsan. Ia tersenyum nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Astaghfirullah, Mas. Kita benar-benar kurang akhlak. Di depan orang tua, saling memagutkan bibir tanpa merasa malu." Wajah Alyra dihiasi rona merah. Ia teramat malu membayangkan ekspresi Kirana ketika melihat adegan yang menodai mata.
"Sudahlah, Yang. Pasti, tante Kirana memahami apa yang kita lakukan itu ... sebagai wujud ungkapan rasa bahagia." Ikhsan mengusap pipi Alyra dengan penuh kelembutan.
.
.
"Ayahhhhh ...," pekik Kirana setelah membuka pintu kamar. Seketika, Abimana memutar kepalanya.
"Ada apa, Bund? Kog ngos-ngosan? Dikejar hantu atau ... dikejar penagih hutang?" cecar Abimana yang sedikit terkesiap tatkala mendengar teriakan istrinya.
Bibir Kirana mencebik. "Isssshhh, mana ada hantu yang berani mengejar Bunda. Dan ... nggak mungkinlah, seorang istri Abimana Surya Saputra dikejar penagih hutang."
"Pfffttt ... maaf, ayah hanya bercanda, Bund." Abimana terkekeh. Ia meraih tangan Kirana, lalu menuntunnya untuk duduk di sofa.
"Sebenarnya, apa yang terjadi, Bund?" Abimana melontarkan pertanyaan sambil mengusap peluh yang membasahi wajah cantik istrinya dengan tisu.
Kirana menghela nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya. "Ikhsan dan Alyra, saling memagutkan bibir di depan mata bunda, Yah."
Abimana tertawa mendengar jawaban yang diberikan oleh Kirana. "Pfftttt ... hahahaha, ya Allah. Ternyata Bunda ngos-ngosan karena melihat mereka berdua saling memagutkan bibir ...."
__ADS_1
Kirana mencubit pinggang Abimana karena kesal.
"Awww ...." Abimana memekik karena merasakan sensasi rasa perih akibat cubitan istrinya.
"Bund, tumben cubitan Bubund sangat luar biasa." Abimana mengusap pinggangnya yang sedikit memerah.
"Makanya, jangan suka menertawakan bunda, Yah." Bibir Kirana mengerucut.
HAP
Tanpa babibubebo ... Abimana melahap bibir yang mengerucut itu. Ia dorong tengkuk Kirana, karena ingin merasakan sensasi lebih.
Kirana terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh Abimana. Meski terkesiap, Kirana teramat menikmati sentuhan bibir suaminya. Lalu ia pun mengalungkan tangannya di leher Abimana.
Bibir keduanya saling berpagut. Hingga tanpa mereka sadari, sepasang mata ... tengah menyaksikan.
"Bunda, Ayah ...." Suara Khanza terdengar lirih. Ia membekap mulutnya dengan telapak tangan.
"Oh no ... oh no ... oh no ... no no no no." Gegas, Khanza berlari keluar kamar. Ia tidak sanggup melihat adegan yang sukses membuat pikirannya traveling.
DUG
Karena kurang berhati-hati, Khanza menabrak tubuh seseorang.
"Maaf ...," ucap Khanza dengan menundukkan kepala.
"Ka-kak Birru ...." Khanza terkesiap saat menyadari, orang yang ditabraknya itu ternyata Albirru.
"Iya, Za." Birru berusaha menghiasi bibirnya dengan seutas senyum, meski dadanya serasa sesak ketika menatap wajah Khanza. Gadis kecil yang berhasil bertahta di dalam hatinya.
"A-ada perlu apa, Kak Birru datang ke hotel ini?" Khanza melontarkan pertanyaan sembari menundukkan wajah. Ia tidak ingin, Birru melihat titik-titik air yang sudah menganak di kelopak matanya. Dada Khanza terasa sesak, dan hatinya teramat sakit.
"Ada yang ingin kak Birru sampaikan padamu, Za."
" .... "
"Za ...."
"Echhh ... iya, Kak."
"Kita ke rooftop cafe, ya?"
Khanza mengangguk pelan. "Iya, Kak."
Birru dan Khanza berjalan menuju rooftop cafe tanpa berbincang. Keduanya berusaha menahan rasa yang mendera ....
__ADS_1
Sesampainya di rooftop cafe, Birru dan Khanza mendaratkan tubuh mereka di sofa. Birru memesan minuman hangat dan camilan sebelum berbincang dengan Khanza.
"Kak, apa yang ingin Kak Birru sampaikan?" Khanza melontarkan pertanyaan tanpa menatap wajah Birru.
Birru mengulas senyum sembari menatap wajah Khanza dengan intens. "Kak Birru hanya ingin memberikan sesuatu untukmu, Za." Birru mengeluarkan liontin dari dalam saku kemeja yang ia kenakan.
"Za, Kak Birru berharap ... kamu bersedia menerima liontin ini." Birru meraih tangan Khanza. Lalu menaruh liontin yang terbuat dari emas putih di telapak tangan gadis yang sangat dicintainya.
"Kak, untuk apa Kak Birru memberikan liontin ini pada Khanza? Bukankah, kak Zahra yang lebih berhak menerimanya?" Khanza memberanikan diri menatap wajah Birru.
Birru kembali mengulas senyum. "Za, liontin itu pemberian oma sebelum beliau meninggal dunia. Beliau berpesan, supaya kak Birru memberikan liontin itu kepada gadis yang teramat spesial. Gadis yang kak Birru cintai. Za, simpanlah liontin ini!"
TES
Khanza tidak sanggup lagi menahan titik-titik air yang sedari tadi menganak di kelopak matanya.
Melihat Khanza meneteskan air mata, dada Birru semakin sesak. Hatinya bertambah sakit. Ingin rasanya Birru memberikan pelukan ... tapi ia tak kuasa. Birru hanya mengusap punggung Khanza seraya memberi ketenangan.
.
.
Ikhsan kembali menghubungi Kirana via vidio call, untuk menanyakan ... apakah aman jika Alyra kembali ke Jogja dengan menggunakan pesawat.
"San, banyak ahli berpendapat bahwa masa yang paling aman bagi ibu hamil untuk naik pesawat dan bepergian jauh adalah saat memasuki trimester 2. Namun, bukan berarti ibu yang hamil muda tidak boleh sama sekali naik pesawat." Kirana menjeda sejenak ucapannya.
"San, selama Alyra dan janinnya dalam kondisi sehat, maka ia diperbolehkan naik pesawat. Akan tetapi memang, kelelahan dan stres akibat bepergian pada usia kehamilan yang masih muda berisiko lebih besar memicu kontraksi dini yang bisa berujung pada keguguran atau disebut dengan abortus. Oleh karena itu, pastikan terlebih dahulu kesehatan Alyra dan janin dalam kandungannya. Sebaiknya, kamu memeriksakan Alyra ke dokter spesialis kandungan sebelum pulang ke Jogja! Dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan juga USG, dokter dapat menentukan apakah layak bagi Alyra untuk bepergian dengan pesawat atau tidak. Jika benar layak, maka dokter bisa juga mengeluarkan surat keterangan layak terbang apabila diperlukan."
"Baiklah, Te. Nanti, Ikhsan akan membawa Alyra ke dokter spesialis kandungan."
Setelah mengucapkan terimakasih serta salam, Ikhsan mengakhiri vidio callnya.
.
.
Mengintip sedikit apa yang sedang dilakukan oleh Keanu dan Raina. πππ
Setelah sarapan pagi, mereka kembali melakukan ritual penyatuan raga. Mereguk kenikmatan surga dunia. π π π
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung .....
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like dan beri komentar penyemangat. πππ
__ADS_1
Trimakasih πππ
Β