Mantan Jadi Besan

Mantan Jadi Besan
Keputusan Birru


__ADS_3

Happy reading ... 😘😘😘


"Ehemmm, ada apa ini?" Seketika, tawa Raina terhenti saat menyadari Keanu sudah berdiri di sampingnya dengan berkacak pinggang.


Khanza bergeming. Tangan dan kakinya bergetar hebat. Khanza teramat takut, jika kakaknya yang menyebalkan itu, mendengar ucapannya, lalu mengadukan pada sang bunda.


"Wadidawwww ... tamatlah riwayatku." Khanza bermonolog di dalam hati sambil mengusap peluh yang mulai membanjiri wajah polosnya


"Kenapa kalian malah diam?" kembali Keanu melontarkan pertanyaan. Kali ini, ia meninggikan intonasi suaranya.


Hening ....


"Za, ulangi apa yang kamu ucapkan tadi!" Keanu melemparkan tatapan tajam, seperti elang yang hendak menerkam mangsanya. Khanza menunduk. Ia tidak berani menatap kakaknya yang sedang murka.


"Sudah Ke ... jangan marah pada Khanza!" Raina mengusap pundak Keanu. Ia berusaha membujuk Keanu agar tidak marah pada adiknya.


"Tapi, Rain ... usia Khanza masih teramat belia, 14 tahun. Bagaimana bisa, dia mengajak Birru untuk nikah lari? Kasihan penghulunya, pasti ngos-ngosan. Trus, bagaimana nasib Zahra, jika Birru menikah dengan Khanza. Pasti, hati Zahra akan terpotek-potek ...."


Ucapan Keanu sukses membuat Raina dan Birru terkikik geli. Mereka lega, karena ... sebenarnya Keanu tidak marah pada Khanza. Pemuda tampan bermata teduh itu, hanya ingin menjahili adik comelnya.


Perlahan, Khanza mengangkat wajahnya. Ia memberanikan diri untuk menatap Keanu. "Mas ... jadi, Mas Keanu nggak marah sama Khanza 'kan?"


Keanu mengulas senyum. Ia usap kepala adik comelnya dengan penuh kasih sayang. "Nggak. Mas Kean, nggak marah. Bukankah, sewaktu di restoran, Khanza sudah nembak Kak Birru?"


Khanza mengangguk pelan. "Iya Mas."


"Coba kamu ulangi pantunmu lagi, Za!" titah Keanu.


"Ba-baik Mas. I-ikan hiu makan tomat, I love you so much ...."

__ADS_1


"Hmmm, kalau aku jadi Birru ... pasti pantunmu itu akan ku jawab, Za. Beli bakso di warung Pak Somat, bodo amat ...." Raina dan Birru tergelak mendengar celotehan Keanu.


"Aaaa, Mas Kean. Teganya, kau padaku ... hiksss." Khanza merengut dan memukul-mukul dada Keanu dengan pelan.


Keanu meraih tangan adiknya dan menatap manik coklat Khanza yang sedikit mengembun dengan lekat. "Za, hempaskan perasaan cintamu! Kakak tampanmu itu, sebentar lagi akan menikah. Za, mencintai ... tidak harus memiliki?"


Ucapan Keanu sukses mencubit hati Khanza dan Birru. Mereka berdua membenarkan di dalam hati. Bahwa memang, cinta tidak harus memiliki.


"Maaf, aku permisi dulu. Papa dan mama, memintaku untuk pulang ke mension." Birru beralibi. Sebenarnya, ia hanya ingin segera berlalu pergi, untuk meredam rasa sesak yang tetiba terasa.


"Kak ... maaf," ucap Khanza dengan suaranya yang terdengar lirih.


"Untuk apa, meminta maaf, Za?"


"Untuk perasaan yang tumbuh di sini ...." Khanza menunjuk dadanya.


TES


Birru mengerti apa yang tengah dirasakan oleh Khanza. Hatinya teramat sakit melihat wajah Khanza terbingkai bulir-bulir kesedihan. Ingin rasanya, Birru mendekap gadis kecil itu dan mencurahinya dengan kasih sayang. Namun saat ini ... ia sungguh tak kuasa melakukannya.


🌹🌹🌹


Saat ini, Birru tengah duduk di balkon menatap langit yang dihiasi keindahan rupa lembayung senja. Ia duduk ditemani oleh sang mama, Jane.


"Sean, maksud mama ... Birru. Mama perhatikan, dari tadi ... kamu hanya melamun. Sebenarnya, apa yang sedang kamu lamunkan, Sayang?" Jane melontarkan pertanyaan, sembari mengalihkan pandangannya. Ia tatap wajah sang putra dengan intens.


Birru menghela nafas dalam. Tanpa mengalihkan pandangannya, ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Jane. "Birru belum yakin, untuk menjadikan Zahra sebagai kekasih halal, Ma. Birru, sama sekali tidak memiliki perasaan cinta terhadap Zahra. Birru bersedia menikahi Zahra, karena rasa kasihan. Entah, mungkinkah kelak ... Birru bisa menjadi seorang suami yang terbaik untuk Zahra atau tidak, Ma."


Jane mengerti apa yang tengah dirasakan oleh putranya. Karena, Jane pernah berada di posisi yang sama dengan Birru. Jane terpaksa menikah dengan Erik, hanya karena rasa kasihan.

__ADS_1


"Birru, yakinkan hatimu terlebih dahulu, Sayang! Jika kamu tidak yakin, batalkan saja pernikahanmu dengan Zahra."


"Tidak Ma. Meski belum yakin, Birru tidak boleh mengingkari janji yang sudah terucap. Birru tetap akan menikahi Khanza ... maksud Birru, Zahra."


"Khanza? Siapa dia? Apa mungkin, Khanza nama lain dari Zahra?" Jane mengernyitkan dahi, hingga kedua alisnya saling bertaut.


"Bukan Ma. Birru hanya keceplosan. Khanza ... dia seorang gadis kecil yang masih berusia 14 tahun, calon adik iparnya Raina, Ma. Khanza, memiliki kepribadian unik dan wajahnya teramat cantik. Dengan polosnya, Khanza mengungkapkan perasaan cintanya pada Birru. Bahkan, Khanza juga mengajak Birru, untuk nikah lari." Birru mengembangkan senyuman, terbayang olehnya wajah Khanza yang menggemaskan, ketika mengajaknya untuk nikah lari.


"Hmmmm, sepertinya ... gadis kecil itu, sukes mengalihkan hati seorang Albirru," cibir Jane.


"Maybe, Ma."


"Jadi ... bagaimana keputusanmu, Sayang? Masih tetap ingin menikahi Zahra, atau ... menunggu Khanza hingga ia dewasa?"


"Keputusan Birru, sudah bulat, Mama. Sebagai seorang laki-laki, Birru tidak boleh mengingkari janji. Birru, tetap akan menikahi Zahra."


"Lalu, bagaimana dengan Khanza? Pasti, hatinya akan teramat hancur."


"Khanza gadis yang sangat baik. Insya Allah, kelak ... ia akan mendapatkan seorang imam, yang lebih baik daripada Birru, Ma."


"Sayanggg ...." Jane memeluk tubuh putranya dengan erat. Ia teramat kagum dengan ucapan Birru yang tegas dan tidak plin-plan.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Maaf jika episode kali ini hambar dan banyak typo πŸ˜…πŸ™πŸ™


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like dan beri komentar penyemangat. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

__ADS_1


Trimakasih β€β€β€πŸ™


__ADS_2