
Happy reading πππ
Pagi ini, tepatnya pukul 09.00 wib, Ikhsan dan Alyra mengadakan acara aqiqah untuk putra tampan mereka, Rizqi Maulana Alfathan.
Acara diadakan di halaman rumah baru mereka yang sudah terhias oleh berbagai macam rangkaian bunga. Keduanya mengundang keluarga, para sahabat, dan tetangga serta beberapa anak yatim ataupun piatu.
Acara aqiqah dibuka dengan lantunan kalam cinta yang dibacakan oleh Khanza, si gadis comel nan menggemaskan. Suara Khanza terdengar sangat merdu, hingga menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. Terutama dua putra kembar pasangan Fadhil dan Hana. Mereka ... Fadlan dan Fadli. Pandangan mata kedua pemuda itu tidak terlepas dari wajah cantik Khanza yang sangat mempesona.
Usai terlantun kalam cinta, acara selanjutnya ... kata sambutan dari Ikhsan. Papa muda itu mengutarakan rasa syukurnya atas kelahiran putra tercinta. Ia juga meminta agar semua hadirin memberikan doa tulus mereka untuk baby Rizqi.
Setelah kata sambutan, dilanjutkan dengan acara inti yaitu mencukur rambut bayi secara simbolik dan di ikuti dengan pengesahan nama lengkap buah hati Ikhsan dan Alyra.
Semua nampak larut dalam kebahagiaan, tak terkecuali Keanu dan Raina yang turut menghadiri acara tersebut.
MC mempersilahkan ustadz Fadhil untuk mulai memberi tausiyah ketika acara inti telah selesai dilaksanakan. Ustadz muda itu terlihat sangat kharismatik.
Usai mendengar tausiyah dari Fadhil, para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang tersedia di meja saji.
Ikhsan mengambil nasi beserta lauk dan juga teh hangat untuk istri tercinta yang sedang menggendong putra mereka.
"Yang, aku suapin ya?" tanya yang terucap dari bibir Ikhsan. Ia mendaratkan tubuhnya di kursi bersebelahan dengan sang istri.
Alyra mengangguk pelan disertai seutas senyum yang teramat manis. "Iya Mas. Kebetulan aku sudah lapar setelah memberi putra kita asi. Putra kita seolah tidak ingin melepas put*ng mamanya sebelum terlelap. Sama persis ...." Alyra menggantung ucapannya.
__ADS_1
"Persis papanya 'kan? Itu sudah pasti Yang. Kata orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Ikhsan terkekeh.
"Ishhh ... ishhhh ... ishhh ... tanpa malu, Mas Ikhsan dan Kak Alyra memperbincangkan sesuatu yang sangat tidak baik jika didengar oleh remaja sepertiku. Kalian tau nggak sih, indra pendengaranku ternoda gara-gara kalian berdua?" sungut Khanza sambil mengerucutkan bibir.
Alyra teramat malu tatkala sadar jika ada orang lain yang mendengar obrolannya dengan Ikhsan. Sedangkan Ikhsan, dia malah tergelak karena melihat ekspresi Khanza yang menggemaskan.
"Heh adik kecil, makanya buruan tumbuh besar biar segera dihalalkan oleh babang bule. Setelah menikah, kamu pasti akan seperti kami. Di mana bumi dipijak, obrolan kami pasti tentang itutu ...." Ikhsan menaik turunkan kedua alisnya seraya menggoda Khanza.
"No ... no ... no .... Khanza yang cantik dan kecerdasannya 1112 dengan bunda Kirana, nggak akan mau dinikahi ... pria yang sudah beristri. Kata bunda, mending nikah dengan perjaka atau duda sekalian dari pada harus berbagi suami," sahut Khanza dengan mencebikkan bibir.
"Za, memangnya ... babang bule yang Mas Ikhsan maksud itu siapa, hmmm? Birru?"
"Ya siapa lagi kalau bukan dia?"
"Siapa bilang belum move on. Khanza sudah move on, kog."
"Oya? Apa buktinya?"
"Kepo banget sich Mas. Lagian, bukan urusan Mas Ikhsan ... aku sudah move on atau belum." Raut wajah Khanza terlihat sangat kesal. Ia kesal karena Ikhsan menyebut nama pria yang akhir-akhir ini sudah mulai terhapus dari kalbunya berkat wejangan sang bunda.
"Ya urusanku lah. Mas Ikhsan sudah menganggapmu seperti adik sendiri. Selain itu, mas Ikhsan ingin membalas apa yang telah kamu lakukan Za. Celotehanmu kala itu menyebabkan kami bersatu. Alhamdulillah, kami sangat bahagia dan bersyukur atas anugerah cinta yang hadir tanpa pernah kami sangka sebelumnya. Trimakasih Khanza ... adikku," tutur Ikhsan sembari menatap manik mata gadis yang ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Mas Ikhsan tidak perlu mengucap kata trimakasih ribuan kali! Cukup langitkan pinta untuk Khanza. Semoga kelak, Khanza dipertemukan dengan pria yang lebih baik dari Birru," pinta Khanza. Netra gadis belia itu berkaca-kaca ketika terlintas bayangan wajah Birru. Cinta pertama yang tidak akan bisa ia rengkuh.
__ADS_1
"Itu pasti, Za. Mas Ikhsan akan selalu melangitkan pinta untukmu."
Alyra ikut larut dalam keharuan tatkala menyaksikan serta mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Ikhsan dan Khanza.
"Mas Ikhsan, Kak Alyra keburu laper tau... Kita malah ngemeng-ngemeng terus." Khanza berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oh ... iya." Ikhsan menepuk jidatnya.
"Maaf ya Sayang, mas Ikhsan lupa." Pandangan netra Ikhsan beralih. Ia tatap manik mata istrinya yang mengembun karena rasa haru.
"Nggak papa, Mas. Alyra sudah lumayan kenyang kog. Tadi, ketika Mas Ikhsan dan Khanza berbincang, Alyra menghabiskan dua potong roti," sahut Alyra diikuti senyuman yang merekah.
Senyum terbit menghiasi wajah Khanza ketika melihat binar cinta di netra Alyra dan Ikhsan. Ia semakin mengerti, bahwa sebuah hubungan yang terjalin indah ... tidak melulu diawali oleh rasa cinta.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Maaf UP nya selalu terlambat dan maaf jika banyak typo π π ππ
Tinggalkan jejak like π
Berikan komentar, gift, atau vote jika berkenan π π π
__ADS_1
Trimakasih dan banyak cinta untuk semua sobat MjB πππβ€β€β€β€