Mantan Jadi Besan

Mantan Jadi Besan
First Kiss


__ADS_3


Netra Ikhsan membola. Bibirnya terbuka lebar tatkala melihat rambut hitam Alyra yang tergerai indah.


"Masya Allah." Ikhsan memegang dadanya. Seolah ia takut terkena serangan jantung karena saking terpesonanya melihat mahkota yang selama ini disembunyikan oleh Alyra di balik balutan jilbab.


Alyra mengerutkan sedikit keningnya tatkala melihat ekspresi Ikhsan yang berlebihan. Mungkin, Alyra mengira ... Ikhsan melihat makhluk yang tak kasat mata. "Kenapa Mas? Mas Ikhsan melihat apa? Jangan bilang ... Mas Ikhsan melihat hantu."


"I-iya. Cantik...," jawab Ikhsan spontan. Netra Ikhsan tidak berkedip karena terlalu terpesonanya melihat kecantikan bidadari yang kini telah resmi menjadi kekasih halal, tanpa balutan jilbab.


Alyra bergidik ngeri. "Hantunya ... cantik, Mas? Dimana?"


"I-iya. Di sini."


"Aaaaaaa...." pekik Alyra. Refleks, ia melonjak dan duduk di pangkuan Ikhsan. Entah, mungkin karena saking takutnya dengan hantu, Alyra memeluk Ikhsan sangat erat.


Ikhsan terkesiap, saat tiba-tiba Alyra duduk di pangkuan dan memeluknya sangat erat. Kaki dan tangan Ikhsan gemetar. Bahkan, jantungnya seakan mau copot.


"Mas, usir hantunya ... aku takut," pinta Alyra sembari menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ikhsan.


Debaran di dalam dada Ikhsan semakin menjadi, tatkala wajah Alyra menempel pada ceruk lehernya.


"Mas, hantunya sudah pergi?"


"A-apa? Han-hantu?"


"Heem."


"Dimana?"


Alyra mengangkat wajahnya. Ia menatap wajah sang suami yang terlihat seperti orang bloon.


"Mas, katamu tadi ... ada hantu di sini."


"Bu-bukan hantu. Ta-tapi bidadari. Cantik ...."


"Bidadari?"


"I-iya. Bidadarinya itu kamu."


BLUSSSS


Rona merah tercetak jelas di pipi Alyra tatkala mendengar ucapan suaminya.


Ikhsan berusaha menahan gejolak di dalam dada. Ia tidak pernah seintim ini dengan seorang gadis.


Ikhsan memberanikan diri menatap wajah Alrya dengan intens. Hingga ... tetiba pandangannya tertuju pada bibir ranum Alyra yang sangat menggoda.


Alyra membalas tatapan Ikhsan. Ia kalungkan tangannya di leher sang suami. Hingga, membuat jarak wajah mereka semakin terpangkas. Refleks, Alyra dan Ikhsan saling menempelkan bibir. Bibir mereka pun saling berpagut.


Seolah ingin merasakan sensasi lebih, Ikhsan mendorong tengkuk Alyra.


"Eump ...." Alyra mulai kehabisan nafas. Mereka pun menyudahi pagutan bibir.


Alyra dan Ikhsan menghirup udara dalam-dalam. Mengisi paru-paru mereka dengan oksigen. Sepasang anak manusia itu berusaha menahan gejolak rasa yang semakin menjadi.


"San, eh ... Mas. Aku ... mau ganti pakaian dulu ya? Gerah."


"I-iya. Aku juga gerah. Aku juga ingin ganti pakaian, tapi...."


"Tapi apa Mas?"


"Tapi nggak bawa pakaian ganti." Ikhsan nyengir kuda.


"Owhhh. Aku sudah mempersiapkan pakaian ganti untukmu di almari, Mas. Seharusnya, pakaian itu aku persiapkan untuk ...." Raut wajah Alyra berubah sendu.

__ADS_1


"Untuk Zaki?"


Alyra menjawab pertanyaan suaminya dengan menganggukkan kepala.


Ikhsan menghela nafas panjang, kemudian ia hembuskan dengan perlahan. Ia memahami apa yang tengah Alyra rasakan saat ini.


"Yang, tatap aku! Lupakan kejadian yang membuatmu bersedih."


Alyra mengangkat wajahnya. Ia tatap wajah sang suami yang begitu terlihat tampan baginya.


"Mas, jangan pernah menghianati pernikahan kita! Meski ... pernikahan ini tidak diawali dengan perasaan saling cinta."


Ikhsan menarik kedua sudut bibirnya, hingga menampakkan senyuman khas yang begitu menawan. "Aku berjanji. Demi Allah, aku tidak akan menghianati pernikahan kita. Aku rasa ... benih-benih cinta sudah tumbuh di dalam hatiku, Yang." Ikhsan menyelipkan anak rambut Alyra yang menutupi wajah cantiknya.


"Oya? Secepat ini?"


"Hehem. Jika Allah sudah berkehendak, apa yang tidak mungkin?"


Alyra menunduk malu. "Aku juga sudah mulai merasakannya, Mas."


"Benarkah?"


"Hehem."


Ikhsan mendaratkan kecupan di kening istrinya, seraya mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang seorang suami.


"Katanya mau ganti pakaian? Kenapa masih betah duduk di pangkuan Mas Ikhsan?" goda Ikhsan sembari menoel hidung mancung sang istri.


"Itu karena ... aku merasa nyaman berada di pangkuanmu Mas," jawab Alyra disertai seutas senyum.


"Hemm, begitu ya?"


"Heem."


"Hampir jam satu, kita belum menjalankan sholat dzuhur, Yang."


"Mas, aku ambilkan dulu pakaian ganti untukmu."


"Iya, Yang." Ikhsan mengulas senyum.


Alyra segera membuka almari dan memilihkan pakain ganti untuk suaminya berupa celana pendek dan kaos berwarna putih.


"Ini Mas, pakaian gantinya." Ikhsan menerima pakaian ganti dari tangan istrinya.


"Trimakasih, Yang."


CUP


Ikhsan mendaratkan kecupan di pipi Alyra.


"Hmmm ... sudah berani juga si cowo polos 😌 ...," said othor.


Wajah Alyra bersemu merah. Ia usap pipinya, bekas kecupan Ikhsan.


Ikhsan kembali mengulas senyum, sembari melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Ikhsan mengguyur seluruh tubuhnya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas saat adegan yang baru pertama kali ia lakukan, menari-nari dalam ingatan. First kiss.


.


.


Alyra duduk di depan cermin, melihat pantulan wajahnya. Senyuman manis menghiasi bibir ranumnya kala terbayang pengalaman pertama yang ia lakukan bersama sang suami. First kiss.


Alyra mengusap bibirnya. Rasa manis yang ia rasakan masih membekas.

__ADS_1


"Ehem." Suara deheman Ikhsan.


Alyra terperangah kala menyadari, Ikhsan sudah berdiri di belakangnya. "Loh ... Mas, sudah selesai ganti pakaiannya?"


"Sudah, Yang. Kenapa Sayang masih belum mengganti pakaian, hmmm?"


Alyra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ohhh iya."


"Pasti, karena melamunkan Mas Ikhsan 'kan?"


"Kepedean, Mas."


"Tapi bener 'kan?" Ikhsan mengerlingkan mata.


"Ya, anggap saja seperti itu," jawab Alyra malu-malu koceng.


Alyra beranjak dari duduknya. Ia mengambil pakaian ganti yang sudah disiapkannya di atas ranjang. Kemudian, ia memasuki kamar mandi untuk berganti pakaian.


Lima belas menit berlalu, Ikhsan nampak khawatir karena istrinya belum juga keluar dari kamar mandi.


"Yang, kenapa dari tadi belum selesai ganti pakaiannya?" Ikhsan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


"Susah Mas?"


"Apanya yang susah?"


"Ini kebayanya. Susah dibuka."


CEKLEK


Perlahan, Alyra membuka pintu kamar mandi. Ia nampak frustasi karena sudah lima belas menit, belum juga berhasil membuka resleting.


"Mas, bantu aku untuk membuka resleting!" pinta Alyra dengan memasang wajah memelas.


"Baiklah." Ikhsan ikut masuk ke dalam kamar mandi untuk membantu istrinya membuka resleting.


Perlahan, Ikhsan membuka resleting kebaya yang berada di bagian belakang.


SRETTT


Netra Ikhsan berotasi sempurna tatkala melihat punggung istrinya yang nampak putih dan mulus. Pemuda polos itu menelan saliva. Jantungnya seakan mau copot, karena di hadapannya terpampang pemandangan yang sangat indah. Bahkan lebih indah dari pemandangan alam yang pernah ia lihat selama ini.


"Masya Allah, begitu sempurna Allah menciptakan istriku. Punggungnya saja sudah sangat indah, bagaimana dengan buki*nya? Astaghfirullah, kenapa pikiranku jadi ternoda begini?" monolog Ikhsan di dalam hati.


Alyra membalikkan tubuhnya dan mengulas senyuman manis. "Makasih ya, Mas."


"I-iya Sayang."


"Mas, ada apalagi dengan Mas Ikhsan? Kenapa mata Mas Ikhsan tidak berkedip?"


"Owh ... anu. A-aku tadi melihat pemandangan yang sangat indah," jawab Ikhsan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum nyengir, memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Pemandangan indah? Mas, kalau bicara jangan suka ngelantur dech!" Bibir Alyra mencebik.


"Mas nggak ngelantur, Yang."


"Lalu, yang Mas Ikhsan maksud dengan pemandangan indah itu apa?"


"Ya salammmmm, mati aku ... harus menjawab apa? Jangan sampai istriku mengira ... suaminya ini lelaki mesu*." Ikhsan bermonolog di dalam hati.


🌹🌹🌹🌹


Eaaaa ... pikiran Mas Ikhsan sudah mulai ternoda 😁😁😁 Bagaimana yakk malam pertama mereka??? Entahlah πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜†πŸ˜†


Mohon maaf jika banyak typo πŸ™πŸ˜…

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan beri komentar penyemangat 😘😘😘😘


Trimakasih untuk gift dan votenya, Sob πŸ˜πŸ™


__ADS_2