
Happy reading ππ
"Aku menyerahkan Sherin kepada pihak yang berwajib, Rain. Dan ... tenang saja. Aku tidak menghukum sahabatmu itu dengan tanganku sendiri, karena dia tengah hamil."
Raina terkejut tatkala mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Birru. "A-apa? Sherin hamil?"
Birru menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, Sherin tengah mengandung darah daging Steven."
DEG
Apa yang ditakutkan oleh Raina pun kini telah terjadi. Sherin benar-benar memetik hasil perbuatan terlarang yang ia lakukan bersama Steven. Entah, bagaimana jadinya jika kedua orang tua Sherin yang berada di Indonesia, mengetahui bahwa putri kesayangan yang diharapkan bisa membawa nama harum keluarga karena berhasil mendapatkan beasiswa, sehingga bisa kuliah di LN, kini hidupnya telah hancur.
Meski Raina teramat kecewa dan marah kepada Sherin, ia tidak tega jika hidup sahabatnya itu hancur. Raina tidak bisa membayangkan, penderitaan Sherin selama tinggal di dalam sel tahanan, dalam keadaan hamil.
"Ru ...."
"Ya ...."
"Bolehkah, aku meminta sesuatu?"
"Boleh, asal jangan memintaku untuk menikahimu! Bisa-bisa, Keanu melayangkan teklek bundanya ke muka handsome-ku," jawab Birru seraya bercanda.
BUG ....
Raina menimpuk muka Birru dengan bantal sofa. Gadis cantik itu nampak kesal, karena di saat-saat serius, Birru malah bercanda.
"Pfffttt ... hhhahaa, rasain Ru. Kena timpuk 'kan. Itu baru kena timpuk bantal, sebentar lagi ... teklek bunda-ku benar-benar melayang." Keanu tergelak melihat ekspresi kekesalan Raina. Gadis itu bukan hanya menimpuk wajah Birru, sekali. Tapi, berkali-kali.
Birru mengangkat kedua tangannya, untuk melindungi muka handsomenya, sembari berceloteh, "sudah Rain ... ampun! Aku hanya bercanda. Tapi kalau memang bener, ya ... Alhamdulillah."
Raina semakin dibuat kesal karena celotehan Birru, yang sama sekali tidak lucu.
"Sudah, Yang. Celotehan Birru nggak usah ditanggepin!" pinta Keanu. Pria tampan bermata teduh itu, merebut bantal sofa dari tangan Raina.
"Huffff ... Birru keterlaluan. Aku sedang ngomong serius, ehhh ... malah ditanggepin dengan bercanda." Raina bersedekap. Ia mengerucutkan bibirnya seperti seorang bocah kecil yang sedang marah.
Birru dan Keanu terkekeh melihat ekspresi wajah Raina yang sangat menggemaskan.
"Maaf, Rain. Oke, sekarang ... aku akan serius. Memangnya, apa yang ingin kamu minta dariku, Raina?"
"Ru, bebaskan ... Sherin! Cabut tuntutan terhadapnya. Aku yakin, Sherin hanya dimanfaatkan oleh Steven dan Lorena."
"Tapi Rain, meski hanya dimanfaatkan oleh Steven dan Lorena, dia sudah melakukan kejahatan terencana. Menculik dan membawamu ke kandang buaya darat. So, sudah sewajarnya ... Sherin menerima hukumannya," tandas Birru.
"Ru, aku tau ... apa yang dilakukan oleh Sherin itu, suatu kejahatan. Tapi, aku sungguh tidak tega, jika Sherin mengalami penderitaan selama berada di dalam penjara. Pasti, kedua orang tuanya akan sangat murka ketika mengetahui, putri yang dibanggakan oleh mereka, tengah menjalani hukuman di dalam penjara dalam keadaan hamil. Ru, aku sudah memaafkan Sherin. Aku mohon, bebaskan dia," pinta Raina dengan kesungguhan hati. Gadis cantik itu beranjak dari posisi duduknya. Kemudian bersimpuh di hadapan Birru.
Hati Birru pun menjadi luluh, oleh kesungguhan Raina. "Bangkitlah, Rain! Aku tidak suka melihatmu duduk bersimpuh seperti itu. Rain, sesuai permintaanmu ... hari ini, aku akan mencabut tuntutan terhadap Sherin."
__ADS_1
Netra Raina berbinar tatkala mendengar ucapan Birru. Hatinya teramat lega, karena Birru mengabulkan permintaannya.
"Trimakasih Ru, trimakasih ...."
"Hmmm, iya Rain."
Raina bangkit dari posisinya bersimpuh, dengan dibantu oleh Keanu.
"Ru, aku ingin menemui Sherin."
"Baiklah, Rain. Kita berangkat sekarang?"
"Heem." Raina menganggukan kepala disertai senyuman yang merekah.
"Ehhhh ... tunggu! Tante ikut," pinta Kirana yang tetiba muncul dari dalam kamar.
"Ok, Tan ...," balas Birru sembari bangkit dari posisi duduknya.
πΉπΉπΉ
Sherin duduk di pojok ruangan, dengan tatapan matanya yang kosong. Raut wajah Sherin terlihat sendu. Tubuhnya sangat kurus.
"Sherin, ada yang ingin bertemu denganmu," ucap salah seorang penjaga, sembari membuka pintu yang terbuat dari jeruji besi.
"Sher, cepatlah ... temui mereka! Tuan Sean Wilson, sudah mencabut tuntutannya. So, hari ini, kamu bisa bebas ... Sher."
Sherin mengalihkan pandangan netranya. Perlahan, ia bangkit dari posisi duduknya, kemudian berjalan ke arah penjaga yang bernama Jessica.
Jessica mengulas senyum dan menepuk pundak Sherin dengan pelan. "Tentu saja benar, Sher. Setelah bebas, jangan pernah melakukan kejahatan lagi! Jadilah pribadi yang lebih baik!" titah Jessica seraya menasehati Sherin.
"Iya, Jes. Trimakasih, karena selama aku berada di dalam penjara ini, kamu bersedia menjadi temanku. Teman yang dengan senang hati, mendengar semua keluh kesahku," tutur Sherin. Kedua wanita itu saling berpeluk singkat, sebelum meninggalkan sel tahanan.
.
.
"Sherin ...."
"Raina ...."
Sherin dan Raina saling berpeluk dengan erat disertai buliran bening yang jatuh dari telaga bening mereka.
"Maaf Rain. Maafkan aku. Ak-aku menyesal. Aku terlalu percaya pada Steven. Aku mengorbankan persahabatan kita hanya karena termakan bujuk rayu pria lucnut itu," tutur Sherin disertai isak tangis.
Raina mengusap punggung Sherin dengan lembut, seraya memberi ketenangan. "Aku sudah memaafkanmu, Sher. Mulai saat ini, bukalah lembaran baru. Dan berusahalah menjadi pribadi yang lebih baik."
Sherin merenggangkan pelukkan. Ia tatap manik mata Raina yang basah. "Trimakasih, Rain. Trimakasih ...."
__ADS_1
"Heem, Sher ...," balas Raina disertai senyum terindahnya.
Perlahan, Raina dan Sherin melerai pelukan. Kedua wanita itu mengusap wajah mereka yang basah dengan jemari tangan.
"Sean, trimakasih ...." Sherin sedikit membungkukkan badannya.
"Hmmm. Aku membebaskanmu, karena permintaan Raina," tandas Birru dengan melayangkan tatapan penuh kebencian. Tidak mudah bagi Birru, untuk memaafkan Sherin, setelah apa yang wanita itu lakukan terhadap Raina.
"Iya, aku sudah menduganya ... Sean," cicit Sherin. Raut wajah Sherin kembali berubah sendu tatkala melihat tatapan kebencian dari netra Sean (Birru).
Setelah berpamitan dengan Jessica, mereka pun melangkah pergi, meninggalkan rumah tahanan.
.
.
"Kalian ingin mampir ke mana?" Birru melontarkan pertanyaan yang sukses membuat netra Kirana berbinar.
"Ke Menara Eiffel ...," pekik Kirana dengan penuh semangat.
Birru, Keanu, Raina, dan Sherin, tergelak mendengar suara cempreng yang keluar dari bibir Kirana.
"Bunda, Menara Eiffel itu berada di Prancis. Bukan di Inggris," tutur Keanu disertai tawa yang masih menghiasi wajah tampannya.
Kirana tersenyum nyengir. Ia garuk kepalanya yang jelas-jelas tidak gatal.
"Owwwhhh, begitu ya? Maklum, Ke. Bunda 'kan mainnya cuma di Jerman, jejer Kauman. Jadi, nggak tau di mana letak Menara Eiffel."
Keanu, Raina, Biru, dan Sherin semakin dibuat geli karena celotehan si comel Kirana.
"Ya Allah, Bunda. Pantas saja, ayah Abi awet muda. Ternyata oh ternyata, beliau memiliki seorang istri yang teramat comel," sahut Raina disertai tawanya yang renyah.
"Bagaimana, kalau kita berkunjung ke Cambridge Mosque Trust? Pasti, Tante Kirana akan sangat kagum melihat bangunan masjid yang unik itu," usul Birru disertai seutas senyum.
"Boleh ... boleh. Siapa tau, bunda bisa bertemu dengan Mr. Abdal Hakim," balas Kirana dengan menampakkan raut wajah yang berseri-seri.
"Lohhh, Bunda sudah mengenal Mr. Abdal Hakim?" tanya Raina. Gadis cantik itu menautkan kedua alisnya.
"Sudah. Bunda sudah mengenal Mr. Abdal Hakim berkat tante goog."
"Yaa salammm, kirain ... Bunda sudah berkenalan langsung dengan Mr. Abdal." Raina menggeleng-gelengkan kepala karena celotehan calon ibu mertuanya.
Suasana di dalam mobil semakin riuh, karena kecomelan Kirana. Si Istri Comel Pilihan Abi. π
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung .... πππ
__ADS_1
Like dan komennya ya Sob ππ Kalau perlu, lempar othor dengan bunga atau kopi πππ
Trimakasih πππ