Mantan Jadi Besan

Mantan Jadi Besan
Akhir Kisah Mantan jadi Besan


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


".... Berjanjilah untuk ikhlas dan tawakal! Cintailah kak Zahra seperti ia mencintai Kak Birru dengan sepenuh hati! Meski teramat sulit, hempaskan rasa yang tidak semestinya. Raihlah sakinah bersama kak Zahra!" pinta Khanza dengan setulus hati.


"Insya Allah." Birru mengangguk samar. Lantas ia berlalu pergi dengan membawa hati yang remuk.


Selepas Birru pergi, tubuh Khanza berguncang. Bulir air mata kesedihan yang sedari tadi ia tahan, kini lolos membasahi wajah ayunya.


Raut wajah Rangga berubah sendu. Ia tidak tega menyaksikan gadis yang dicintainya berduka.


Rangga memberanikan diri ... mengusap punggung Khanza sambil berkata, "Za, jangan menangis lagi! Ikhlaskan kak Birru! Kamu masih sangat muda, Za. Masih banyak yang bisa kamu raih selain cinta fana."


"Ta-tapi dia cinta pertamaku, Ngga. Cinta pertama yang handsome-nya ... masya Allah, hiks ... hiks." Khanza terisak. Ia usap wajah ayunya yang basah dengan jemari tangan.


"Ya Allah, Za. Ternyata, kamu mencintai kak Birru hanya karena dia handsome? Ck ... ck ... ck, istighfar Za. Lihatlah aku! Tatap wajahku dengan intens! Aku pun memiliki wajah yang handsome, Za. Bahkan lebih handsome dari pada kak Birru."


"Isshhh, kamu memang ke PD-an, Ngga. Coba dech becermin! Kamu dan kak Birru ... bagai langit dan bumi. Dia memang handsome, sedangkan kamu --" Khanza menggantung ucapannya.


"Kog nggak dilanjutin, Za? Kamu malu ya, mengakui bahwa wajahku ini sebelas dua belas dengan Leonardo Dicaprio sewaktu masih muda, hmm?" Rangga menaik turunkan alisnya sambil memasang senyum yang dimanis-maniskan.


Khanza memutar bola mata malas. Mengacuhkan pertanyaan yang terlontar dari bibir Rangga, teman sekelasnya yang sok kecakepan dan PD nya sundul langit.


"Mit amit jabang bayi" ... kalimat yang selalu terucap ketika Rangga berusaha mendekatinya. Meski ucapan Khanza terkesan nylekit, Rangga tidak pernah menyerah. Bahkan, dia selalu menjawab ucapan Khanza dengan santai "Awas lho, sengit ndhulit ...."


Khanza beranjak dari bangku, lantas ia berjalan menuju kasir diikuti oleh Rangga. Khanza bermaksud untuk membayar semua makanan dan minuman yang ia pesan. Namun ternyata, Birru sudah membayarnya.


"Wuaduh, matek aku ...." Khanza menepuk jidatnya. Ia baru sadar, tidak membawa kendaraan sendiri. Khanza nampak berpikir, bagaimana caranya agar ia bisa pulang ke rumah. Khanza ragu untuk memesan taxi online, sebab jalan menuju kedai kopi Merapi belum beraspal dan masih dipenuhi bebatuan.


"Kenapa, Za? Binggung mau pulang naik apa?"


"Sudah tau nanya ...," sahut Khanza dengan mengerucutkan bibir.


"Pulang sama mamas, yuk! Aku bawa mobil kog Za," ucapnya sambil mengerlingkan mata.


"Nggak akh."

__ADS_1


"Kalau nggak ... kamu mau pulang sama siapa, hmm? Sama kak Birru? Dia udah pulang, Za."


"Aku bisa telepon ayah atau mas Keanu. Mereka pasti akan segera datang menjemputku." Khanza membalas ucapan Rangga dengan ketus.


Rangga menghela nafas dalam. "Za, apa kamu nggak kasihan sama mereka? Ayahmu dan mas Keanu pasti masih sangat sibuk. Meski acara aqiqahnya sudah selesai, tapi tamu yang berdatangan malah semakin banyak --"


"Mereka bisa mengirim orang untuk menjemputku," sungut Khanza.


"Za, dari pada merepotkan mereka, lebih baik pulanglah bersamaku. Aku nggak bakalan kog ngapa-ngapain kamu sebelum kita halal," rayu Rangga sambil menatap manik mata gadis yang ia cinta, Khanza.


Bibir Khanza mencebik. Ia semakin jengah mendengar semua kata yang terucap dari bibir Rangga.


"Ngga, berhentilah mengucap kata-kata yang membuat perutku mual! Aku dan kamu nggak bakal menjadi sepasang kekasih halal. Karena aku blas ... nggak cinta sama kamu," tandas Khanza.


Drtttt ... drttt ... drtt ....


Suara getaran gawai yang berada di dalam slimbag. Khanza segera membuka slimbagnya lalu mengangkat panggilan vidio call dari sang bunda.


"Assalammu'alaikum, Bund ...."


"Wa'alaikumsalam, Za. Kamu di mana, Sayang?"


"Sama siapa, Za?"


"Sama saya Te," sahut Rangga sambil menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Khanza.


"Owwwwhh, Rangga. Segera bawa Khanza pulang ya, Ngga! Sebentar lagi sesi foto bersama."


"Siap, Te."


Setelah mengucap salam, Kirana mengakhiri vidio callnya.


"Bundamu memintaku untuk mengantar putri kesayangannya, Za."


"Tapi aku benar-benar nggak mau pulang bareng orang yang narsis dan PD nya naudzubillah."


"Za, aku nggak narsis dan nggak ke PD-an. Semua yang aku ucapkan sesuai dengan kenyataan." Rangga membela diri.

__ADS_1


Selama hampir satu jam keduanya berperang mulut. Khanza menyerah. Dengan sangat terpaksa ia bersedia pulang bersama Rangga.


"Za, apa benar ... kamu mencintai kak Birru hanya karena wajahnya yang handsome?" Rangga melirik sekilas wajah ayu gadis yang saat ini duduk di sebelahnya.


"Bukan hanya karena kak Birru handsome, tapi juga karena akhlaknya. Kak Birru sangat baik, dia penyayang, rela berkorban, tegas, dan rajin beribadah. Namun sebenarnya, cintaku ini bukan hanya karena kelebihan yang dimiliki oleh kak Birru. Tetapi, benar-benar tulus dari dalam hati."


"Za, jika kak Birru dan istrinya berpisah, apa mungkin ... kamu bersedia menikah dengan kak Birru?"


Khanza menggeleng. "Nggak Ngga. Aku berharap, pernikahan mereka langgeng. Aku yakin, Allah sudah mempersiapkan jodohnya untukku."


"Dan ... jodoh yang sudah dipersiapkan untukmu itu, aku. Rangga Adhitya Fairuz." Rangga menyahut ucapan Khanza dengan penuh percaya diri.


"Awww, sakit Za." Rangga memekik sebab merasakan sensasi perih akibat cubitan Khanza yang mendarat di lengan kirinya.


"Makanya, jangan asal bicara!" ketus Khanza dengan meninggikan intonasi suara diikuti mata melotot ala-ala Suzzana.


....


Abimana dan Kirana sebagai tuan rumah, mempersilahkan para tamu untuk foto bersama. Mengabadikan moment bahagia yang tengah tercipta.


Meski ada hati yang masih terluka, tetapi kisah Mantan jadi Besan berakhir dengan gelak canda tawa yang mampu mengusir segala kesedihan dan duka lara, walau hanya sejenak ....


Kisah cinta Keanu dan Raina berakhir bahagia, begitu juga dengan kisah Ikhsan dan Alyra. Lantas, bagaimana kisah Zaki dan Anjani? Kisah mereka pun berakhir bahagia. Keduanya dianugerahi sepasang anak kembar. Zaskia dan Zevano.


Seusai foto bersama, Keanu menggamit lengan Raina. Kedua insan yang tengah berbahagia itu melangkahkan kaki menuju balkon.


"Raina, trimakasih atas besarnya cintamu, dan keluasan hatimu ... memaafkan segala salah serta khilafku. Sehingga, kini kita bisa menyatu dalam kisah cinta yang indah ...." Keanu menggenggam erat tangan Raina dan menatap lekat-lekat manik mata yang selalu meneduhkan.


"Ke, aku juga teramat berterimakasih padamu. Sebab, kamu telah menjadikan aku seorang wanita yang sempurna. Aku merasa sempurna karena cinta darimu dan anugerah terindah yang telah diberikan Illahi untuk kita. Chayra." Raina membalas tatapan Keanu. Keduanya saling memangkas jarak ....


CUP


Bibir mereka saling berpagut. Menyesap madu yang menjadi candu. Memperdalam rasa yang serasa indah.


Perlahan, Keanu dan Raina melepas pagutan bibir. Keduanya saling melempar senyum tanpa mengalihkan tatapan netra yang tersirat besarnya rasa cinta.


"Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan." (Buya Hamka)

__ADS_1


END


__ADS_2