
Happy reading .... π
"Kak ... aku bukanlah Allesya yang dahulu. Aku ... Zahra. Arisha Raiqa Zahra ...."
William dan Rose sangat terkejut mendengar pengakuan dari Allesya. Sedangkan Sean (Birru), pemuda tampan itu mengulas senyum. Bibir Sean (Birru) melantunkan hamdalah sebagai ungkapan rasa syukur, karena ternyata ... Allesya sudah menjemput hidayah dari-Nya. Kini, Allesya seorang muslimah. Ia berganti nama ... Arisa Raiqa Zahra.
Meski tidak memiliki perasaan cinta sedikitpun terhadap Allesya, Sean (Birru) semakin memantapkan hati untuk menikahi perempuan malang itu, setelah ia mengetahui bahwa Allesya adalah seorang muslimah.
Rose yang merasa belum yakin dengan pengakuan Allesya pun melontarkan pertanyaan, "All ... benarkah, kamu telah berpindah keyakinan? Dan ... mengapa, Islam sebagai pilihanmu?"
Senyum terbit menghiasi wajah Allesya tatkala mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh mamanya.
"Ma, Allesya benar-benar sudah berpindah keyakinan. Allesya memilih Islam, karena keyakinan di dalam hati. Bukan karena sebab lain ataupun karena keterpaksaan. Mama dan Papa, tidak keberatan 'kan?"
Rose dan William saling berpandangan. Seolah kedua paruh baya itu saling meminta saran dengan isyarat mata.
"Tentu saja kami tidak akan keberatan jika pilihanmu itu tepat. All, bukankah ... Islam itu agama teror*s?" Kali ini, William yang melontarkan pertanyaan. William khawatir jika putri mereka salah dalam memilih keyakinan.
Allesya bergeming. Seakan ia tidak mempunyai kata-kata untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang papa.
"All, Papa dan Mama tidak ingin ... kamu salah dalam memilih keyakinan ...," tutur William sembari menepuk pundak putrinya.
"Om, Tante ... Allesya tidak salah memilih keyakinan. Apa yang diyakini oleh Allesya sudah benar. Islam bukanlah agama terori*," sahut Sean (Birru).
"Benarkah? Lantas, mengapa Islam sering dikaitkan dengan terori*me?"
Sean (Birru) menghela nafas dalam sebelum memberikan jawaban. Dengan tegas, Sean (Birru) menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang. Sean (Birru) juga mengutip ucapan Raina, ketika gadis itu menjelaskan kepadanya mengenai Islam dan terori*me.
William dan Rose mendengarkan penjelasan Sean (Birru) dengan seksama.
"Jadi demikian, Om, Tante .... Jika, Om dan Tante berkeinginan untuk lebih mengenal Islam, saya akan mempertemukan kalian dengan salah seorang dosen yang memiliki pengetahuan luas mengenai Islam," tutur Sean (Birru) setelah selesai memberikan penjelasan.
William dan Rose mengulas senyum. Mereka kagum dengan pemuda yang dicintai oleh Allesya. Selain tampan, Sean (Birru) sangat cerdas dan tegas.
"Baiklah, pertemukanlah kami dengan dosen yang kamu maksud itu, Sean! Om dan tante ingin mengenal Islam yang sebenarnya," pinta William.
"Baiklah, Om, Tante. Lusa, saya akan mengantar Om dan Tante untuk bertemu dengan beliau."
"Sean, kapan ... kamu akan menikahi putri kami?" tanya Rose seraya meminta kepastian.
__ADS_1
"Saya akan membicarakannya terlebih dahulu dengan Papa dan Mama. Semoga, mereka memberikan restu. Sehingga, saya bisa segera menikahi Allesya," jawab Sean (Birru) dengan tegas.
William, Rose, dan Allesya teramat bahagia mendengar jawaban yang diberikan oleh Sean (Birru). Allesya tidak menyangka, setelah menghadapi ujian yang teramat berat, kini ... pangeran berkuda putihnya bersedia menjadi calon imam.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah :5)
πΉπΉπΉ
"Assalamu'alaikum calon istriku," sapa Keanu setelah dipersilahkan masuk oleh Raina.
"Wa'alaikumsalam," jawab Raina ketus.
"Kog ketus sich jawabnya? Yang lembut dong, Yang!" goda Keanu sembari menoel pundak Raina.
"Isssshhh, apaan sichhh. Jangan pegang-pegang! Kita belum halal," cebik Raina. Gadis cantik itu menghempaskan tubuhnya di sofa. Sebal. Raina teramat sebal pada Keanu dan Birru.
"Ke, kenapa tuch calon istrimu? Lagi ... dapet ya?" Birru menunjuk Raina dengan dagunya.
Keanu mengendikkan bahu. "Entahlah, Ru. Mungkin ... kepingin cepat-cepat dihalalin sama Bang Kean. Ya 'kan, Yang?"
BLUG
"Rain, ada apa sichhh? Aku salah apa? Kenapa, kamu tega melempar kekasih hatimu ini dengan bantal sofa, hmmmm?" cerca Keanu sembari mendaratkan tubuhnya di sofa, bersebelahan dengan Raina.
"Iya Rain. Ada apa sih? Kenapa, sepertinya ... kamu teramat sebal melihat kami?" timpal Birru. Pemuda berlensa hijau itu juga mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Ke, Ru, sebenarnya ... apa yang kalian sembunyikan dariku? Kenapa ... Steven bisa meninggal dengan cara yang mengenaskan? Atau ... jangan-jangan, waktu itu ... aku tidak hanya sedang bermimpi. Steven benar-benar menculik dan membawaku ke sebuah villa?" Raina melontarkan pertanyaan yang sukses membuat Keanu dan Birru bingung, akan memberi jawaban apa.
"Ke, Ru, jawab!!!" bentak Raina.
Birru dan Keanu terkesiap. Pada akhirnya, Birru memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya kepada Raina. Ia berpikir, mungkin ... sudah waktunya, Raina mengetahui kebenaran mengenai rencana lucnut Steven, Lorena, dan Sherin.
"Rain, kamu benar. Apa yang terjadi padamu bukan hanya sekedar mimpi. Steven menyuruh Sherin dan beberapa anak buahnya untuk menculikmu. Rain, mereka membawamu ke sebuah villa. Steven berencana untuk menodaimu, tapi ... Alhamdulillah rencana Steven gagal lagi. Rain, aku menghukum Steven dengan cara menghancurkan harta berharganya. Aku juga memajang tubuh polos Steven di depan toko pakaian dala*, kemudian menjebloskannya ke dalam penjara. Karena merasa teramat malu dan frustasi, Steven memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri," jelas Birru.
"Ru, apa yang kamu lakukan itu sangat keterlaluan, tapi--"
"Tapi apa, Raina?
"Aku lega ...."
__ADS_1
"Lega, maksudmu apa Rain?" Birru mengernyitkan dahinya, sebagai pertanda bahwa ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Raina.
"Lega karena penjahat kelam*n bekurang satu di dunia ini. Tak terbayangkan, berapa gadis lagi yang akan menjadi korban kemesu*an Steven. Adik kandungnya saja, tega ia nodai. Para maid yang bekerja di mansion keluarga besarnya, juga tidak lepas menjadi korban," jawab Raina dengan menahan luapan emosi. Raina teramat emosi ketika mengetahui semua kebiada*an Steven.
Keanu dan Birru saling berpandangan. Mereka nampak heran, mengapa Raina bisa mengetahui bahwa Steven telah menodai adiknya dan para maid.
"Rain, bagaimana kamu tau bahwa Steven telah menodai adiknya dan para maid?"
"Aku mengetahuinya, saat diam-diam mengikuti kalian ke pemakaman," jawab Raina datar.
Hening sejenak ....
"Lantas, bagaimana dengan keadaan Lorena dan Sherin, Ru?"
"Lorena ... dia menjadi gila setelah melayani sepuluh orang kepercayaan papa yang dikirim untuk membantuku dalam misi menyelamatkanmu, Rain."
"Apa? Kamu tega menyuruh Lorena untuk melayani sepuluh orang pria? Apa bedanya kamu dengan Steven, Ru. Kamu tega menghancurkan harga diri seorang wanita, hingga wanita itu menjadi gila." Raina teramat emosi dan kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Birru terhadap Lorena.
"Rain ... Lorena, wanita ular yang berhak mendapatkan hukuman yang setimpal. Dia, otak dari rencana lucnut itu. Lorena menggunakan Steven untuk merusak kegadisanmu, agar ... aku merasa muak dan jiji* terhadapmu. Maaf, jika menurutmu ... caraku menghukum Steven dan Lorena, sangat keterlaluan."
"Yang kamu lakukan terhadap mereka berdua memang sangat keterlaluan, Ru. Kamu harus ingat, yang berhak menghukum kedua orang itu ... hanya Allah," tandas Raina.
Birru bergeming. Ia menyadari apa yang telah dilakukannya memang keterlaluan.
"Ru, bagaimana dengan Sherin?"
"Aku menyerahkan Sherin kepada pihak yang berwajib, Rain. Dan ... tenang saja. Aku tidak menghukum sahabatmu itu dengan tanganku sendiri, karena dia tengah hamil."
Raina terkejut tatkala mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Birru. "A-apa? Sherin hamil?"
Birru menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, Sherin tengah mengandung darah daging Steven."
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Maaf jika banyak typo bertebaran π π π
Jangan lupa, tinggalkan jejak like dan komentar. Bagi yang mempunyai poin dan vote nganggur, bisa digunakan untuk memberi dukungan pada MJB πππ
__ADS_1
Trimakasih πππ