
Happy reading πππ
Bibir bisa mengucap kata-kata bijaksana. Namun di dalam benak, hanya ia dan Illahi yang tau.
Tanpa keduanya sadari, sepasang mata menyaksikan apa yang telah terjadi. Pemilik sepasang mata itu mampu mencerna percakapan antara Khanza dan Zahra. Bahkan, ia bisa menangkap raut wajah Khanza yang terbingkai kabut duka.
"Za, aku berjanji ... akan selalu menorehkan bahagia di hidupmu. Bukalah pintu hatimu untukku! Ijinkan aku mengganti posisi Birru. Pria yang tidak sepatutnya masih engkau cinta," kalimat yang hanya terlisan di dalam hati ....
....
Seusai berbincang, Khanza dan Zahra kembali membaur bersama para tamu yang lain. Meski hatinya sedang tidak baik-baik saja, Khanza berusaha menghias wajahnya dengan seutas senyum.
Pandangan netra Rangga sedari tadi tidak beralih dari Khanza. Ia mengerti dan memahami apa yang tengah bidadari hatinya rasa. Besar keinginan Rangga Adhitya Fairuz untuk menjadi seorang calon imam bagi Saqueena Khanza Humaira.
"Za ... bisakah kita bicara sebentar?" Kalimat tanya yang terlisan dari bibir Birru. Tentu saja setelah ia meminta ijin pada Zahra, wanita yang berstatus sebagai istri sah-nya.
Khanza terdiam. Dadanya berdesir. Degup jantungnya bertalu-talu ketika mendengar suara Birru, pria rupawan dengan sejuta pesona yang mampu memikat hati para gadis. Salah satunya ... Khanza.
"Za, pergilah bersama Kak Birru ke taman belakang atau ke suatu tempat yang nyaman untuk berbincang!" titah Zahra. Bibirnya melengkung. Namun, binar matanya menyiratkan apa yang tengah dirasa. Meski mengijinkan sang suami untuk berbincang dengan Khanza, tetap saja hatinya terasa perih seolah tertusuk benda tajam yang tak kasat mata. Terluka tapi tak berdarah.
"Tapi, Kak --"
"Za, Kak Zahra mohon ...," pinta Zahra dengan suaranya yang terdengar lirih. Ia raih tangan Khanza lalu menggenggamnya dengan erat.
Khanza membuang nafas sedikit kasar. Dengan terpaksa, ia memenuhi permintaan Zahra.
"Baiklah, Kak. Tapi, Khanza tidak bisa berlama-lama."
"Hanya sebentar saja, Za. Tidak sampai 24 jam," sahut Birru. Bibir dipaksa menyungging seutas senyum meski manik mata berlensa hijau terlihat mengembun.
"Khanza memberikan waktu maksimal ... dua jam, Kak," tandas Khanza disertai hembusan nafas kasar. Mati-matian ia berusaha menahan himpitan rasa. Rasa cinta berbaur dengan kerinduan. Seandainya Birru masih sendiri, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Tidak akan ada hati yang terluka.
Zahra melepas genggaman tangannya. Ia mempersilahkan Khanza dan Birru untuk segera pergi.
Kedua insan yang sama-sama tengah menahan himpitan rasa itu berlalu pergi dari hadapan Zahra. Mereka pergi ke suatu tempat yang hanya berjarak beberapa kilometer dari puncak Gunung Merapi. Kedai kopi Merapi.
...
__ADS_1
Netra menatap wajah cantik yang ia rindukan. Bibir terkatup ... lidahnya serasa kelu. Untuk mengucap sepatah kata, rasa-rasanya ia tak mampu.
"Kak, bicaralah! Sudah lima belas menit kita duduk di kedai ini. Namun Kak Birru masih enggan berucap sepatah kata pun. Jika tidak ada yang perlu kita bicarakan, lebih baik Khanza pulang sekarang." Khanza membuka suara setelah ia jenuh menanti.
Birru menghela nafas dalam. Menata perasaan yang berkecamuk.
"Za, maaf ... karena aku masih mencintaimu. Meski telah berusaha mati-matian menghempas rasa cinta di dalam hati yang masih saja untukmu, nyatanya tetap ... tidak bisa. Hanya namamu yang masih bertahta di benakku, bukan Zahra." Birru menjeda sejenak ucapannya tanpa mengalihkan tatapannya.
Khanza yang merasa tidak nyaman dengan tatapan pria blonde nan rupawan itu, seketika mengalihkan pandangan netranya pada kegagahan Gunung Merapi yang terlihat sangat jelas dari tempatnya berada saat ini untuk menghindari tatapan netra yang bisa melemahkan keteguhan hati.
"Za, aku belum bisa menjadi seorang suami yang terbaik untuk Zahra. Sampai saat ini, aku belum mampu untuk menyatukan raga kami," imbuhnya.
Tanpa menatap lawan bicara, Khanza membalas kata-kata yang terucap dari bibir Albirru. "Kak, terimalah kenyataan yang meski tidak selaras dengan ingin kita! Ikhlas dan tawakal atas takdir cinta yang telah digoreskan oleh Illahi dalam lembar kitab-Nya."
Hening....
"Kak, pernikahan yang sakinah, mawadah, warahmah tidak melulu berlandaskan atas nama cinta. Buktinya ayah dan bunda Khanza. Sebelum menikah, mereka bukanlah sepasang kekasih yang saling mencinta. Namun karena ikhlas dan tawakal, kini keduanya bisa meraih kebahagiaan yang hakiki."
"Za --"
"Kak, belajarlah ilmu ikhlas! Lupakan Khanza dan rengkuhlah cinta yang indah bersama kak Zahra! Lagi pula, Khanza sudah memiliki calon imam. Meski, kami harus menunggu pasir waktu selama lima tahun ... untuk mengikrarkan janji suci." Khanza terpaksa berdusta. Kenyataannya, Khanza pun belum sepenuhnya bisa ikhlas menerima takdir cinta yang tidak berpihak ....
"Khanza, rupanya kamu ada di sini." Seketika, Khanza dan Birru menoleh ke arah asal suara.
"Rangga ...." Khanza memekik sambil merotasikan bola mata.
"Sayang, kenapa sih nggak pamit, hmm? Calon imam-mu ini sangat khawatir lho."
Mau tidak mau, suka tidak suka, Khanza membalas ucapan yang terlontar dari bibir Rangga, meski batinnya menjerit ... "Oh No."
"Maaf Beb. Tadi kami terburu-buru, jadi ... aku nggak sempat pamit --'
"Iya Sayang, aku mengerti," sahut Rangga sambil mengusap jilbab yang dikenakan oleh Khanza. Netranya menatap manik mata gadis yang dicintai dengan tatapan penuh cinta.
"Kak, dia Rangga. Calon imam Khanza," ucap Khanza seraya memperkenalkan Rangga pada Birru.
Senyum terbit menghiasi wajah Rangga ketika Khanza menyebutnya sebagai calon imam. Di dalam hati, Rangga mengamini ucapan sang bidadari hati. Ia teramat berharap kelak ucapan itu akan menjadi nyata.
"Rangga ...."
__ADS_1
"Birru ...."
Tangan kedua pemuda berwajah tampan itu saling berjabat.
"Za, trimakasih telah memberi waktu untukku. Kini, aku merasa lega .... Semoga, kamu dan Rangga benar-benar berjodoh," tutur Birru sambil beranjak dari bangku.
"Aku pamit Za," sambungnya.
"Iya Kak. Berjanjilah untuk ikhlas dan tawakal! Cintailah kak Zahra seperti ia mencintai Kak Birru dengan sepenuh hati! Meski teramat sulit, hempaskan rasa yang tidak semestinya. Raihlah sakinah bersama Kak Zahra!" pinta Khanza dengan setulus hati.
"Insya Allah." Birru mengangguk samar. Lantas ia berlalu pergi dengan membawa hati yang remuk.
Selepas Birru pergi, tubuh Khanza berguncang. Bulir air mata kesedihan yang sedari tadi ia tahan, kini lolos membasahi wajah ayunya.
Raut wajah Rangga berubah sendu. Ia tidak tega menyaksikan gadis yang dicintainya berduka.
Rangga memberanikan diri ... mengusap punggung Khanza sambil berkata, "Za, jangan menangis lagi! Ikhlaskan kak Birru! Kamu masih sangat muda, Za. Masih banyak yang bisa kamu raih selain cinta fana."
....
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung....
Mohon maaf jika bertebaran typo πππ
Satu episode lagi ya Sob π π
Ehem, author lagi galau nich mau menentukan judul Novel untuk kisahnya Khanza. Mohon dibantu memilih ya, Sob. π
Silahkan komen di bawah, pilihkan judul novel untuk Khanza. Author akan menentukan judul sesuai suara terbanyak, meski pembacanya hanya itu-itu saja dan mungkin tidak bertambah. π
Trimakasih dan banyak cinta untuk semua sobat Mantan jadi Besan πππππππππππ
__ADS_1