
"Ha...ah" Livy menetralkan jantungnya yang terus berdetak kencang, wajahnya sudah memerah semerah tomat. Livy sedikit menyesal karena terbuai dengan pesona Juan.
Meski begitu tidak bisa dipungkiri jika dia juga menikmati ciuman manis dari Juan. Hampir saja dia membangunkan singa yang tertidur.
"Maaf Livy, aku tidak bisa menahan diri" Juan menunduk sedih, meski dia menyayangkan karena tidak bisa memiliki Livy seutuhnya saat ini, dia juga merasa bersalah.
"Meski sedikit aku memiliki pikiran untuk melakukan lebih dari ini" lirih Juan dengan sendu, dia merasa gagal sebagai pria karena tidak bisa menepati janji.
Livy merasa bersalah karena dia sebenarmya tidak merasa keberatan, bahkan jika Juan melakuan lebih. 'Bukankah kami sudah resmi bertungan, melakuan sedikit skinship tidak akan ada masalah'
"Aku sudah berjanji pada Keluargamu untuk tidak menyentuh mu lebih dari pelukan dan kecupan singkat sebelum pernikahan" ucap juan dengan wajah sendu, dia yakin jika Livy akan kecewa dengan dirinya.
Livy meletakkan tangannya di kepala Juan dan menepuknya dengan pelan. "Aku tidak keberatan jika hanya ciuman, lagipula kamu juga seorang pria, normal jika memiliki nafsu akan hal itu"
Juan menatap manik merah Livy dengan mata binar kebahagiaan. "Tapi itu jika kamu hanya memiliki nafsu akan perempuan dan merupakan tunanganmu. Jika tidak..."
Livy menurunkan tangannya dan tersenyum tipis "Berarti kamu bukanlah pria sejati" ucap livy dengan nada dingin.
Juan tersemyum senang, dia bisa tau ada ancaman dan sindiran dari kata-kata Livy, dia tau jika Livy sangat membenci pria yang tidak setia baik dalam hubungan pertemanan, keluarga maupun pasangan.
"Aku akan mengingatnya" jawab Juan dengan tegas
"hm" balas livy sambil mengangguk.
"..."
Livy tidak tau bagaimana cara untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka. Begitu juga dengan Juan, dia tidak tau harus berbuat apa setelah kejadian tadi.
"Aku akan kembali membaca jika kamu tidak memiliki hal lain" ucap Livy lalu kembali duduk untuk menghilangkan kegugupannya.
__ADS_1
"Boleh aku duduk di samping mu" tanya Juan dengan ragu-ragu. Livy melirik Juan sebentar lalu mengangguk mengiyakannya.
"..."
Keheningan kembali ke ruangan itu, Livy mengalihkan perhatiannya ke buku sedangkan Juan terus memandangi Livy yang asik membaca.
Aneh rasanya saat Livy membaca buku selain Novel, karena setahu Juan Livy selalu membaca Novel dan enggan membaca buku tentang sejarah, politik, ekonomi.
Nyatanya sebenarnya itu karena Livy sudah pernah membaca semua buku di perpustakaan Duke, karena dia memiliki ingatan fotografis dia tidak perlu membaca hal-hal itu kembali.
Livy merasa risih saat Juan terus memandanginya "Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Livy sambil menatap manik biru milik juan yang secerah langit.
"Tidak, hanya kenapa kamu membaca buku sejarah bukan novel seperti biasanya" jawab juan salah tingkah karena ketahuan memandangi Livy sedari tadi.
"Itu karena saat bangun aku tidak bisa mengingat apapun, jadi setidaknya aku harus mengetahui dasar nya" ucap Livy dengan nada datar.
Yah meski dia bohong dengan tidak bisa mengingat apapun namun karena memang dia tidak tau apapun tentang tempat ini jadi tidak masalah jika dia bilang hilang ingatan.
'Tidak mungkin aku bisa beradaptasi disini jika tidak mengetahui apapun tentang dunia ini.' batin Livy sambil terus membolak balik halaman buku.
Karena melihat Livy yang serius membaca Juan tidak ingin mengganggunya lagi, jadi dia pamit pergi untuk menemui Duke.
"Kalau begitu sampai nanti Livy" ucap Juan mengecup singkat dahi livy lalu melangkah pergi.
...
Di ruangan Kerja Duke sedang sibuk di tengah tumpukan dokumen. Dia menghela nafas sambil memijat pelipismya.
Duke dipusingkan dengan beast monster yang terus muncul di wilayah kekuasaannya. Di tambah dia harus mencari tau siapa yang meracuni putrinya.
__ADS_1
Meski dia tau siapa yang mungkin menjadi dalangnya, dia tetap harus mememukan kaki tangan orang itu.
tok...tok
"Masuk"
"Tuan Duke, yang mulia Raja Crastine ingin bertemu"
"Biarkan dia masuk"
Penjaga itu membungkuk hormat lalu membukakan pintu. Juan melangkah masuk dengan aura dingin dan wajah datar tanpa ekspresi.
Penjaga bergegas keluar dan menutup pintu meninggalkan Juan dan Duke.
"Senang bertemu anda yang mulia" ucap duke dengan sedikit menunduk.
"Tidak perlu formal tuan Duke, Aku kesini hanya ingin tau bagaimana perkembangan penyelidikikanmu"
"Tidak banyak yang mulia, saya tau siapa dalang nya namun saya tidak tau di mana dia dan siapa saja kaki tangannya." Duke menghela nafas lelah kemudian melanjutkan.
"Ditambah masalah beast monster yang terus bermunculan entah dari mana" Duke memijat pelipisnya. Dia saat ini sangat kekurangan orang, terlebih dia tidak tau kapan dan dimana beast itu akan muncul.
...
Thanks for Readers
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.
See you
__ADS_1
Next eps...