
brak
"Livy" panggil ketiganya dengan cemas.
Pintu di banting dengan keras Juan, Duke dan Isgrid datang terburu-buru setelah menerima kabar jika Livy diserang pembunuh dan terluka.
Juan menghampiri Livy yang terbaring lemah di kasur, dia menggengam tangan Livy dengan lembut tapi terbesit kemarahan di matanya.
Juan memandang Livy dengan pandangan rumit lalu menghela nafas. "Syukurlah kamu baik-baik saja"gumam Juan dengan lirih. Emosinya bercampur aduk antara marah, sedih, kesal dan bahagia.
Juan melepas genggamannya lalu menyingkir dia membiarkan Duke dan Isgrid melihat kondisi Livy. Dia tidak ingin terkesan memonopoli Livy di depan keluarganya setidaknya belum sampai mereka menikah.
Duke menghampiri Livy lebih dulu dia membelai kepala Livy dengan lembut ada jejek kekhawatiran di mata Duke namun ekpresi nya sangat kaku.
Duke mengecup singkat dahi Livy kemudian menghampiri Afgaren untuk menanyakan rincian kejadian itu.
Isgrid dengan sabar menunggu Juan dan ayahnya yang melihat Livy, selain karena dia terlambat bergerak itu juga karena Isgrid sedang mengatur emosinya.
Isgrid membelai kepala Livy dengan kasih sayang "Livy maaf kakak tidak bisa menjagamu" gumam Isgrid dengan nada sendu.
Isgrid selalu di sebut sebagai swordmaster hebat yang mampu menggantikan ayahnya, tapi dia merasa gelar itu tidak berguna karena dia tidak bisa melindungi adik perempuan nya.
...
__ADS_1
Kelopak mata Livy bergetar pelan dia merasa terusik akan kebisingan disekitarnya, Livy ingin membuka mata namun matanya sangat berat.
Di ruangan Duke, Afgaren, Juan, Isgrid dan Lisgred sedang membahas masalah yang terjadi dipesta hari ini.
"Aku penasaran kenapa Livy pergi sendirian keruang istirahat" tanya Juan dengan nada dingin. Juan telah memiliki spekulasi di kepalanya namun dia perlu memastikan sesuatu.
"Saya mendengar ada pelayan yang menumpahkan minuman ke gaun Livy" jawab Isgrid dengan nada kesal, jika saja dia ada disana saat itu maka mungkin dia bisa mencegah pelayan mengotori gaun Livy, jika begitu Livy tidak perlu pergi sendiri dan tidak akan bertemu pembunuh. Atau setidaknya dia bisa menemani Livy sehingga Livy tidak akan terluka karena pembunuh.
Tentu saat tahu kabar itu Livy sudah pergi, Isgrid menyesal karena tidak mencari Livy karena disibukkan dengan penyusup dia juga harus menghendel keamanan aula pesta.
"Sangat aneh karena tidak ada penjaga di sana sepertinya rencana mereka sangat cermat" jelas Afgaren merasa janggal, dia menyesal tidak datang lebih awal, awalnya dia mengikuti Livy karena ingin berbicara dengannya namun beberapa bangsawan mencegahnya di tengah jalan.
Seandainya saja dia tidak menggubris mereka maka dia bisa membantu Livy lebih cepat.
"Sarmael tidak mengawal Livy hari ini dia mengambil cuti seminggu karena ibunya sakit" Jelas Duke dengan nada datar. Dia merasa rencana ini tersusun sangat rapi, 'sepertinya masih ada mata-mata di kediaman' batin Duke sambil mengerutkan alisnya.
Livy yang mendengar perbincangan mereka merasa lucu, baiklah dia merasa mereka terlalu berlebihan. Lagipula dia sendiri yang menusukkan pedang ke perutnya jadi dia tidak berfikir kalau dia dalam bahaya.
'Mereka terlalu berlebihan, untung saja aku mengirim sarmael pergi sehingga dia tidak menjadi pelampiasan amarah mereka' batin Livy geli, tapi tidak memungkiri hatinya menghangat saat mereka memperhatikannya.
Livy membuka matanya sedikit lalu menutupnya kembali, pandangannya masih kabur saat ini. Mungkin karena dia kehilangan banyak darah. Disini tidak bisa tranfusi darah, karena itu tubuhnya tidak memiliki tenaga.
Livy jadi nostalgia, dulu karena orang tuanya jarang pulang dia sangat kesepian. Livy tahu jika orang tuanya tidak suka saat dia nakal dan bodoh jadi dia membuat dirinya menjadi pintar dan patuh, mereka menyayanginya jadi sering memberinya hadiah dan memujinya namun mereka sangat sibuk sehingga jarang bisa kembali.
__ADS_1
Lalu suatu hari dia terjatuh dari tangga hingga koma selama seminggu. Saat itu orang tuanya berdebat didepan bangsalnya, Livy kecil bangun di tengah perdebatan mereka dan tidak sengaja mendengar perdebatan mereka. (Aku gak terlalu suka flashback jadi aku ceritain pakai narasi aja)
Hari itu Livy tahu alasan orang tuanya selalu pergi, ibunya memiliki rahim yang lemah sehingga setelah melahirkan Livy dia tidak bisa hamil lagi sedangkan ayahnya mengalami kecelakaan sehingga tidak bisa memiliki keturunan lagi.
Hati Livy mendingin saat tahu sebab dia diabaikan orang tuanya, ibunya sakit hati karena setelah melahirkan Livy dia tidak bisa memiliki anak lagi sedangkan ayahnya menyesal karena Livy bukan anak Laki-laki karena itu mereka selalu pergi selain karena tidak ingin melihat Livy juga untuk melakukan pengobatan.
Livy merasa bukan salahnya jika dia bukan laki-laki, juga bukan salahnya terlahir didunia. Kalau bisa memilih dia tidak ingin terlahir jika kelahirannya tidak diharapkan.
Karena mereka tidak puas denganya dia membuat dirinya menjadi istimewa, Livy memiliki ingatan fotografis jadi dia bisa dengan mudah menghafal pelajaran. Dia menjadi anak perempuan yang luar biasa.
Disisi lain dia patuh namun dia juga sering merancang kecelakaan yang membuatnya terluka. Karena orang tuanya tidak bisa memiliki anak lagi jadi Livy sering membahayakan nyawanya agar mereka lebih sering pulang.
Pada akhirnya ayahnya menyerah melakukan pengobatan di luar negeri karena Livy sering sakit, tapi sebagai pewaris Livy bahkan melebihi harapannya jadi dia menjadi lebih ketat pada Livy sejak saat itu.
Meski dia jadi tidak bisa sering keluar dan bermain tapi tidak masalah karena dia mendapatkan hal yang di inginkan. 'Tidak adil jika hanya aku yang merasa membutuhkan mereka' batin Livy saat itu.
....
Thanks for Reading
Maaf jika ada typo atau kesalahan dalam pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan dari ceritaku ya!.
See you
__ADS_1
next eps...