
Livy pun mengenakan pakaian pria lalu keluar dari Light room nya, setelah itu Livy langsung berteleportasi meninggalkan tempat itu.
Sring
Wush
Livy muncul di gang kumuh yang sepi, dia memasang alat penangkal sihir yaitu berupa anting hitam berbentuk tanda sabit dengan Ruby merah ditengahnya. Alat itu untuk menyembunyikan aura sihirnya agar tidak bisa dideteksi oleh orang lain.
Tap...tap...tap
Livy berjalan dengan anggun dan gagah layaknya seorang pria, dia juga memasang ekspresi wajah dingin dan datar. Livy memberhentikan langkahnya di sebuah toko aksesoris.
Kring
Livy membuka pintu dan melangkah masuk, disana dia disambut oleh seorang wanita penjaga toko.
"Selamat datang Tuan, Anda ingin pesan apa" tanyanya ramah, Livy bisa melihat rona merah diwajahnya, dia tau jika penjaga toko itu terpesona olehnya.
"Kalung Ruby hitam" jawab Livy dingin, pelayan itu tersentak kaget mendengar jawaban Livy namun dia segera tersenyum kembali.
Jawaban Livy tadi adalah kode untuk permintaan kepada guild informasi terkenal di seluruh dunia, yaitu Bulan hitam. Guild ini sangat rahasia dan memiliki markas disetiap kerajaan.
"Maaf tuan kalungnya habis terjual, apa anda ingin menunggu atau membeli yang lain" tanya pelayan itu dengan ramah.
"Akan kutunggu" balas Livy dingin
"Kalau begitu mari ikuti saya" Pelyan itu membawa Livy keruang bawah tanah. Ia mengantar Livy hingga didepan pintu berwarna hitam kemudian pergi meninggalkan Livy sendirian.
Ceklek
Livy masuk kedalam dia bisa melihat seorang pria mengenakan topeng berwarna hitam. Livy bisa melihat rambut peraknya yang indah dan mata ungu yang cerah milik pria bertopeng itu.
"Saya tidak menyangka akan mendapat pelanggan secara pribadi" ucap pria itu datar, dia mengamati Livy dari atas kebawah.
Livy mendudukkan dirinya di kursi, tepat dihadapan pria itu, sama seperti yang dilakukan pria bertopeng itu Livy pun mengamati nya dari atas kebawah.
'Aku tidak ingat identitas ketua guild Bulan Hitam' batin Livy masih mengamati pria bertopeng.
__ADS_1
"..." Selama beberapa waktu mereka berdua hanya diam dan saling mengamati.
"Jadi apa permintaan anda" ucap pria itu memecah keheningan, Livy pun menatap manik ungu pria bertopeng itu sebelum menyerahkan secarik kertas.
Pria bertopeng itu mengambil secarik kertas itu dan membaca nya, setelah membacanya ia pun tersenyum tipis.
"Apa imbalan nya" ucapnya sambil melipat keduanya tangannya.
Livy pun mengeluarkan sebongkah besar batu sihir manmer yang membuat pria itu terkejut, ia tau jika baru-baru ini Raja Crastine melelang batu sihir manmer, namun dia belum pernah melihat yang sebesar ini.
Livy juga menyerahkan kertas yang berisi cara pembuatan telepon dengan sedikit modifikasi pada desain dan cara kerjanya.
"Ini.."
"Lux, kau bisa memanggil ku dengan nama itu" sela Livy sambil melipat kedua tangannya.
"Kalau begitu panggil aku Ron" ucap Ron sambil menetralkan keterkejutan nya.
"Aku tidak ingin hal ini tersebar, bahkan jika Raja sekalipun jangan beritahu tentang diriku atau transaksi hari ini" ucap Livy dingin, dia perlu menjaga kerahasiaan akan hal ini.
"Negosiasi selesai" Livy pun berdiri dan melangkah pergi, namun saat didepan pintu Livy menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menatap Ron datar.
Livy melempar telepon pada Roan dengan kode 009, Ron pun dengan sigap menangkap nya.
"Hubungi aku lewat itu, nomor ku 001"ucap Livy datar lalu melangkah pergi dari ruangan itu.
...
Setelah menemui guild informasi menggunakan teleportasi untuk kembali kekamarnya. Livy pun mengganti pakaian dan melepaskan sihir nya.
Setelah itu Livy kembali berteleportasi ketempat ia berpisah dengan Juan terakhir kali.
Wush
Saat tiba Livy bisa melihat tumpukan mayat disekitar dia berdiri.
"Sudah kembali" ucap suara bariton pria, Livy berbalik dan melihat Juan dengan pedang dan pakaian yang berlumuran darah.
__ADS_1
"Livy, kamu..."
"Sudah kubilang jangan naik kereta, tapi kamu sangat keras kepala, jadi bagaimana dengan para pembunuh bayaran itu"sela Livy dengan nada galak, jujur saja dia tau jika dia salah karena telah meninggalkan Juan sendirian.
Namun dia tidak ingin mengakui nya dan melimpah kan kesalahan kepada Juan.
Juan menghela nafas berat, dia tau jika Livy sedang melimpah kan kesalahan padanya, namun perkataan Livy ada benarnya. Dia sampai tidak menyadari jika ada yang mengintai mereka, merupakan kesalahan nya.
"Maaf aku tidak cepat menyadari nya" Lirih Juan menunjukkan kepalanya, bagaimana pun dia tidak bisa menyalahkan Livy yang meninggalkan dirinya.
"Sudahlah, ayo pulang" Livy pun menggenggam tangan Juan dan membaca mantra teleportasi.
...
Sring
Juan dan Livy tiba di istana, atau dikamar Livy.
Bruk
Livy pun menjatuhkan dirinya di atas kasur kemudian menutup matanya. Ia terlalu lelah untuk beraktivitas, karena banyak hal telah terjadi dari pagi.
Tok...Tok...Tok
Rise melangkah masuk dan membawa kan cookies dan teh untuk Livy, karena ini waktunya makan Cemilan. Ia sedikit terkejut saat melihat Juan yang berlumuran darah, dengan takut ia pun melirik Livy yang tertidur di atas kasur.
"Yang mulia saya telah menyiapkan air untuk anda mandi" ucap Rise sedikit membungkuk pada Juan.
...
Thanks for Readers
Maaf jika ada Typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.
See You
Next eps...
__ADS_1