
Pagi harinya Livy bangun seperti biasa, dalin juga datang membawa cemilan pagi untuknya karena semalam dia tidak makan malam.
Livy yang masih belum biasa dilayani cekatan seperti itu merasa risih, mungkin itu karena dia sudah terbiasa mandiri sejak kecil.
"Nona makan dulu sebelum mandi, untuk manganjal perut nona" ucap dalin sambil tersenyum.
Livy berbinar saat melihat cookies, dia memakannya dengan antusias. "Ini lembut dan enak" puji Livy sambil memakan cookies dengan lahap. Dalin hanya tersenyum menanggapi hal itu.
Setelah makan cemilan Livy mandi dengan bantuan Dalin, dia memang sudah merasa sedikit risih karena 3 hari belum mandi, yah meski setiap hari Dalin mengelap tubuhnya.
...
Livy pergi keruang makan dengan wajah datar dan dingin. Karena dia kehilangan sebagian ingatannya, dia jadi sangat pendiam.
Isgrid yang masih berbincang ringan dengan adiknya seperti biasa, ia tidak peduli dengan Livy yang hanya mengangguk dan berkata iya.
Livy sedikit risih karena dari tadi Isgrid tidak berhenti bicara, hingga makanannya tiba dan membuatnya diam. Itu karena memang etika untuk diam saat akan makan.
Livy melirik Isgrid sebentar sebelum kembali melanjutkan makannya. 'Meski risih dan tidak nyaman, tapi perhatiannya padaku sangat tulus' batin Livy sambil mengunyah makanannya.
Selesai sarapan Livy belatih sihir bersama Lisgred, karena Livy hilang ingatan jadi dia menjelaskan kembali hal-hal dasar tentang sihir.
Livy cukup tertarik saat mendengar ada sihir didunia ini, dia mendengar penjelasan Lisgred dengan serius. Terkadang dia bahkan bertanya pada kakak keduanya itu.
Lisgred yang senang-senang saja saat Livy mengajukan pertanyaan untuk pertama kalinya, itu karena dulu adiknya tidak pernah bertanya padanya.
Selesai belajar sihir dia pergi keperpustakaan, karena memang dia tidak tau apa yang akan dilakukannya diwaktu senggang.
Ia tidak membaca semua buku seperti sebelumnya karena malas, terlebih dia tidak ingin mengulang apa yang sudah pernah dia baca. Livy hanya membaca beberapa buku etika, sejarah dan buku seputar sihir.
...
__ADS_1
Juan yang telah selesai mengurus masalah kerajaannya segera pergi ke mansion Duke Reichburgh, tentunya dengan sihir teleportasi.
Sring..
Kilauan cahaya muncul ditengah ruangan, Livy yang bisa merasakan pergolakan energi itu melirik kilauan cahaya hingga munculah Juan di sana.
"Siapa?"tanya Livy dengan nada datar dan dingin.
Deg
Jantung Juan berdetak kencang, dia merasakan akan terjadi hal buruk dan tidak menyenangkan. Juan mencoba menenangkan hatinya lalu melangkah ke tempat Livy berada.
Tak...tak..tak
Livy diam saja saat seorang pria asing tiba-tiba muncul dan menghampirinya. Ia diam karena ingin tau maksud dan tujuan pria asing itu.
Livy hanya menatap juan dengan dingin dan ekspresi datar. Juan berhenti dihadapan Livy, dia menatap Livy dengan cemas dan penuh kekhawatiran.
Livy bingung untuk merespon Juan, dia bisa saja mengabaikannya namun disisi lain dia juga tidak ingin mengabaikan kekhawatiran Juan untuknya.
"Siapa?"tanya Livy dengan dingin.
Tidak! sebenarnya dia ingin bilang jika dirinya sudah baik-baik saja namun perkataan itu hanya tersangkut di tenggorokannya.
Juan kaget saat Livy menanyakan siapa dirinya. Tidak! sebenaranya dia sudah tau saat Livy menatapnya dengan dingin dan penuh kewaspadaan, hanya saja dia tidak ingin mengakuinya.
Juan mengepalkan kedua tangannya sebelum menjawab Livy sambil tersenyum lembut.
"Juandres Exlius Van Crastine, tunangan dari Livyana Oseiny Von Reichburgh, kamu bisa memanggilku Juan" jawab Juan dengan nyeri dihatinya karena kekasihnya melupakan dirinya.
"Livy" balas Livy singkat, yah dia memang dingin. Tapi saat ini dia masih belum memiliki pengalaman berteman dan bersosialisasi.
__ADS_1
"Livy apa yang sedang kamu baca?" ucap juan untuk mengalihkan pembicaraan, meski hatinya sakit saat melihat sikap dingin Livy padanya.
"sihir" jawab Livy singkat, dia sebenarnya ingin bersikap lebih ramah pada Juan namun dia tidak tau caranya. Apalagi karena Juan terus memakai bahasa formal, yah walau tidak pada saat dia baru saja datang.
Juan kesulitan untuk mengajak Livy berbicara, itu karena Livy hanya menjawabnya singkat.
"..."
Livy merasakan tatapan Juan pun mendongakkan kepalanya untuk melihat Juan. Baiklah dia sangat mengakui jika pria didepannya sangat tampan, terlebih dia ternyata adalah tunangannya.
'Tidak buruk jika hidup bersamanya' batin Livy setelah menilai Juan. Dia bisa tau jika tuan sangat mencintai dirinya, juga karena Juan adalah tipenya.
Pria yang dingin juga lembut secara bersamaan, kadang posesif, kadang seperti anjing penurut dan lagi tampan dan kaya.
Livy bisa melihat kesedihan dimata juan saat dia menjawab nya dengan dingin dan singkat. Livy yang tidak tau caranya menghibur membuatnya merasa bersalah pada Juan akan sikap dinginnya.
Livy tiba-tiba teringat tentang ayah dan anak yang saat itu bertengkar ditaman. Sang anak sedih karena eskrimnya jatuh namun sang ayah mencium anaknya dan memeluk anaknya agar tidak sedih.
Livy sedikit ragu-ragu namun dia tidak ingin juan terus murung. Ia berdiri dan mendekati Juan.
Cup
...
Thanks for Readers
Maaf jika ada typo tau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.
See you
Next eps...
__ADS_1