
Reim menatap abu dari kelima orang itu dengan tatapan dingin. Lalu tersenyum tipis.
" Jika saja mereka tidak datang, mungkin mereka bisa hidup lebih lama" ucap Reim dengan nada acuh. Perlahan tubuh nya di selimuti cahaya dan menghilang dari sana.
...
Di bawah pohon beringin dengan padang rumput hijau dan bunga warna-warni, livy menikmati hembusan angin lembut yang menerpa tubuhnya.
Livy saat ini ada di alam bawah sadarnya karena pengaruh sihir Reim. Sebenarnya ia bisa saja melepaskan pengaruh sihir Reim namun entah mengapa livy memilih percaya padanya.
Disini Livy selalu menggunakan penampilan lamanya. Dirinya sendiri tidak terlalu ambil pusing akan hal itu. Karena dia nyaman dengan penampilan ini dengan rambut hitam berkilauannya dan mata hitam yang mempesona.
"Livy" Panggil seorang gadis dengan rambut perak dan mata merah ruby. Livy tersenyum hangat saat melihat Livyana yang merupakan dirinya juga.
Sebenarnya harusnya livyana sendiri menghilang akibat penyatuan dengannya. Namun entah kenapa dia masih disini dan tidak mnghilang.
"Kau itu sudah dewasa jangan bertingkah seperti anak kecil" ucap livy sambil menyentil dahi livyana.
"Biarin" balas livyana sambil menjulurkan lidahnya.
"Meski begitu apa ada yang kau khawatirkan" tanya livy seraya menaikkan salah satu alisnya. Livyana memasang wajah muram sebentar lalu kembali ceria.
"Tidak ada! Aku senang kau datang berkunjung" ucap Livyana mencoba mengalihkan topik. Livy yang tau jika livyana tidak ingin membahas hal itu pun membiarkannya untuk saat ini.
"Tempat ini bukanlah tempat yang bisa dikunjungi seenaknya" jawab livy dengan nada datar. livyana hanya tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sepertinya sudah saatnya kembali" gumam livy dengan pelan namun masih bisa terdengar oleh livyana. Saat mendengar itu wajah livyana langsung berubah muram.
Livy melirik livyana yang sedang memasang wajah muram. Dia cukup peka untuk tau apa yang mengganggu livyana.
__ADS_1
"Akan ku lakukan, saat waktunya tiba kau akan dapat apa yang kau inginkan" ucap livy dengan senyum tipis di bibirnya. Seketika Livyana kembali ceria dan bersemangat.
"Benarkah! tapi bukankah kau sangat tidak suka dengan itu" jawab livyana dengan wajah murung.
"Tidak apa! Sejak aku menempati tubuhmu, aku tidak berniat untuk bahagia seorang diri. Kau tenang saja aku akan mengaturnya" ucap livy sambil tersenyum tipis.
"Baiklah, maaf merepotkan" jawab livyana tanpa rasa canggung sedikitpun.
"Kalau begitu sampai jumpa" pandangan livy mulai menjadi buram dan gelap.
...
Di ruangan yang di dominasi oleh warna putih, livy terbaring dengan tenang dan damai.
Sring
"Maaf membuatmu tidak nyaman" ucap Reim sambil mengelus wajah livy dengan lembut. Reim kemudian meletakkan telapak tangannya ke dahi livy.
Perlahan mata livy berkedip dengan lembut. Livy membuka matanya kemudian mendudukkan dirinya. Livy memandang Reim dengan tatapan kesal.
Namun yang ditatap malah tersenyum polos. Sungguh jika saja kesabaran livy sangat rendah dia pasti akan membuang Reim ke jurang.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Reim dengan senyum lembut. Livy menatap Reim dengan jengkel sebentar kemudian kembali berekpresi datar.
"Baik, aku penasaran kenapa kamu ikut campur dengan urusanku" ucap livy dengan wajah datar.
"Sangat sulit untuk memiliki kesempatan untuk menemui mu, apa lagi dengam sifat posesif keluargamu. Aku hanya tidak ingin waktu terbuang hanya untuk para sampah itu" jelas Reim
"Itu benar! Tapi kita baru saja kenal sikap mu itu sangat mencurigakan" gumam livy namun masih terdengar oleh Reim.
__ADS_1
Reim mengelus kepala livy dan menciptakan kenyamanan dan kehangatan di dada livy.
"Bukankah kau sudah merasakannya. Ini bukan tipuan" ucap reim dengan nada lembut dan penuh kasih sayang.
Livy memejamkan matanya untuk menikmati kenyamanan yang diberikan Reim. Ia pikir mungkin sejak didunia ini persepsi pertahan mentalnya sering tergoncang. Padahal dulu dia tidak pernah membiarkan dirinya lengah sedikitpun.
"Aku mengerti" gumam livy dengan pelan. Reim tersenyum lalu ikut duduk dikasur bersama livy.
"Kalau begitu kembali ke pembahasan sebelumnya. Aku akan memberi tahu mu apa yang mempengaruhi kualitas manamu." ucap reim kemudian memasang wajah serius.
"Pertama-tama apa kau tau apa tugas ayahmu" tanya Reim sambi tersenyum tipis. Livy memiringkan kepalanya dan menatap reim dengan tatapan yang mengatakan 'apa dia bodoh'.
"Tentu saja menjaga kedamaian kerajaan Trianty dan menjadi pilar kerajaan" jawab livy dengan wajah bingung.
"Itu benar! Kalau begitu dari apa perdamaian itu perlu dijaga beliau" Reim tersenyum sambil menatap Livy dengan tatapan hangat.
"Dari monster, dari kerajaan lain juga dari pemberontak" jawab livy tanpa perlu pikir panjang.
"Bagus! Dalam prosesnya apa yang akan dilakukan Duke jika hal yang kamu sebutkan tadi terjadi" Reim kembali mengelus pucuk kepala Livy dengan lrmbut.
...
Thanks For Readers
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.
See You
Next eps...
__ADS_1