
Juan dan Livy kembali ke aula, Juan sebenarnya masih ingin berduaan bersama Livy tapi karena Livy ingin segera kembali jadi dia dengan enggan menurutinya.
"Livy, jika kamu akan mengikuti rencana mereka, maka ayah mu pasti akan berbuat nekat" bujuk Juan agar Livy mengurungkan niatnya.
"Karena itu aku membutuhkanmu untuk melindungi ayahku" jawab Livy tanpa menoleh pada Juan.
"Tapi Afgaren menginginkan mu dan obsesinya semakin parah dengan sihir hitam" ucap Juan dengan wajah masam.
Juan tahu jika afgaren akan menjadi semakin gila jika terkena sihir hitam dan fakta jika obsesi Afgaren adalah Livy karena itu dia tidak rela jika Livy mengikuti keinginan Afgaren meski cuma pura-pura.
"Jika aku ingin bersamanya aku tidak perlu membatalkan pertunangan kami" jawab Livy dengan acuh. "Terlebih aku tidak menyukai sifatnya yang sombong" lanjut Livy.
Perkataan Livy membuatnya teringat jika dulu Livy sangat menyukai Afgaren, dan pembatalan pertunangan bisa terjadi karena Livy kehilangan sebagian ingatannya.
Tapi bagaimana jika ingatan Livy kembali dan dia kembali mencintai Afgaren. Saat memikirkan jika Livy akan meninggalkan nya untuk kekasih lamanya Juan dipenuhi keinginan untuk menyingkirkan Afgaren.
Juan menekan kecemburuan di hatinya, dia tidak boleh lepas kendali dan menjadi sosok yang di benci Livy. Juan menggenggam tangan Livy dengan erat dan penuh kelembutan.
"Kemungkinan kita akan sulit bertemu saat itu" ucap Juan dengan wajah menyedihkan. Livy menoleh saat Juan bertingkah menyedihkan seperti pelihara yang ditinggalkan pemiliknya.
Livy tersenyum kecil lalu mengelus kepala Juan dengan gemas. "Kamu masih bisa menemuiku dengan teleportasi" ucap Livy dengan nada datar.
Juan ingin mengatakan sesuatu tapi Livy memotongnya "Jika aku tidak berpura-pura terjebak, maka dia akan menggunakan rencana yang lebih ekstrim"
Livy berbalik dan menghadap Juan dan menatap matanya lekat-lekat. "Aku menyembunyikan kemampuan sihir ku juga agar mereka tidak terlalu waspada"
Meski dia kesal tapi Juan tidak bisa mengubah pendirian Livy, dia juga tidak ingin membuat Livy kesal karena itu dia hanya bisa menerima dengan enggan.
__ADS_1
Livy tersenyum manis melihat Juan tidak berkomentar lagi. Livy berfikir kerena Juan sangat penurut jadi dia ingin memberinya hadiah.
Tentu juga karena dia tahu jika suasana hati Juan sedang tidak baik.
Livy mendekat pada Juan lalu mencium pipinya, Juan yang tidak menyangka jika Livy akan menciumnya di depan umum sedikit terkejut dan tidak tahu harus merespon apa.
"Ini hadiah karena kamu sangat patuh dan pengertian" ucap Livy sambil tersenyum, Juan membeku saat melihat senyum Livy yang memabukkan. Bahkan pria dan wanita bangsawan yang ada disana juga membeku.
Karena Livy sangat mempesona bahkan jika dia memasang wajah datar apalagi saat dia tersenyum. Livy tersenyum gemas saat melihat Juan yang mematung.
Pipinya merah saat mengingat tindakannya tadi, entah kenapa dia jadi malu. Karena tidak tahan Livy memutuskan pergi meninggalkan Juan.
Juan bahkan tidak sempat merespon saat Livy telah pergi menghampiri Audrey.
Juan memegang wajahnya tempat Livy menciumnya, Juan tersenyum. Livy selalu mengejutkannya dengan perilaku yang diluar dugaan.
...
"Livy kamu sangat berani mencium tunanganmu didepan umum" sindir Audrey dengan nada jenaka.
Wajah Livy kembali merah tapi ekspresi nya tetap datar.
"Berhentilah menggodaku, lagipula dia adalah tunangan ku jadi sah-sah saja" ucap Livy dengan acuh. Audrey gemas melihat Livy yang malu-malu meski dirinyalah yang mencium duluan.
"Baik-baik, aku akan berhenti menggoda mu" Audrey tersenyum "Selamat telah bertunangan Livy, aku harap pilihanmu tidak salah kali ini" ucap Audrey dengan senyum tulus.
Livy juga tersenyum "terimakasih audy" balas Livy. Mereka berdua berbincang sejenak sebelum berpisah karena Audrey memiliki urusan lain dengan keluarga nya.
__ADS_1
Saat Livy sedang sendirian seorang wanita dengan gaun yang glamor menghampirinya.
"Bukankah ini Lady Reichburgh, setelah dicampakkan yang mulia raja Afgaren, anda berbalik begitu cepat menggoda raja negara lain" ucapnya dengan nada mengejek.
Livy menatap wanita itu dengan dingin, dia sangat malas meladeni wanita yang berpenampilan seperti badut. Livy bahkan kesulitan melihat karena cahaya dari permata yang dipakainya sungguh membuat sakit mata.
Livy mengabaikan wanita itu dan memilih minum dengan tenang.
Wanita itu merasa diabaikan menjadi geram, wajahnya memerah karena merasa dipermalukan apalagi dengan bisik-bisik disekitarnya.
"Lady Reichburgh kamu jangan senang dulu karena sudah berhasil menggoda Raja Crastine karena cepat atau lambat beliau pasti akan mencapakkan mu" ucapnya dengan nada mengejek.
Livy tersenyum miring lalu mendekati wanita itu. Livy lalu menuangkan gelasnya ke gaun wanita itu sehingga gaunnya sudah dinodai Jus.
"Maaf Lady saya tidak melihat anda karena silau" ucap Livy dengan nada datar. Wanita itu sangat marah saat Livy mempermalukan nya, karena tidak tahan dia pergi dari sana.
Livy mendengar bisik-bisik disekitarnya tapi dia tidak peduli, Livy memang sengaja tidak mengubah citra sombong dan angkuh miliknya Livy merasa itu tidak perlu.
Walau sebenarnya karena dia terlalu malas, apalagi dia tidak peduli dengan gosip diluar.
...
Thanks for Reading
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan dari ceritaku ya!.
See you
__ADS_1
Next eps...