
Waktu berlalu begitu cepat, besok adalah hari pertunangan kembali Livy bersama Juan. Mereka akan melakukan pertunangan di gereja. Semua orang di mansion sangat sibuk menyiapkan acara.
Namun hal itu tidak ada hubungannya dengan Livy, kemarin Juan telah datang secara resmi ke kerajaan Trianty. Dia tinggal di Vila Duke Reichburgh di ibukota.
"Nona Gaun anda telah datang" jelas dalin dengan semangat, Seolah-olah dia lah orang yang akan bertunangan. Livy memijat kepalanya yang pusing karena tingkah dalin.
Dia dia mengangkat kepalanya dan melihat gaun yang dikirim oleh Juan. Gaunnya sangat indah dengan perpaduan warna biru gelap dan silver. Berlian putih menjuntai menghiasi gaun seperti tetesan air, tidak lusuh namun tidak terlalu glamor.
Gaunnya juga tidak memiliki banyak renda dan pita, tidak terlihat kekanakan juga tidak terlalu seksi. Livy sangat puas dengan gaun yang disiapkan Juan, dia merasa jika Juan sangat memahami referensi nya.
Bahkan Ayah dan kedua kakaknya belum tentu bisa memahami referensi nya tentang fashionnya. 'poinnya 9 dari sepuluh' batin Livy dengan puas, awalnya dia merasa buruk karena harus bertunangan dengan pria yang tidak dikenalnya.
Namun kesan Livy berubah saat pertama kali melihat Juan, sejak dulu Livy paling benci dengan pria yang mendominasi dan suka mengatur karena itu mengingatkannya kepada ayahnya yang selalu tegas padanya.
Kebenciannya semakin tinggi saat ayahnya secara penuh mengabaikan nya namun tetap ingin dia menjadi putri yang paling sempurna. Nyatanya orang tua Livy sebelumnya sangat ingin anak laki-laki untuk mewarisi bisnis keluarga nya.
Saat Livy masih dalam kandungan Ayah dan ibunya mengira anaknya dalah laki-laki, mereka tidak repot-repot memeriksa kerumah sakit untuk mengetahui jenis kelamin bayinya karena mereka yakin jika anaknya adalah laki-laki.
Tapi saat anak itu lahir sebagai perempuan mereka berdua sangat kecewa, terlebih Ayahnya mengalami kecelakaan hingga menjadi mandul.
Saat itu Livy yang masih di kandungan dan ibunya hampir kecelakaan, namun Ayah Livy menyelamatkan mereka hingga ayahnya yang harus divonis tidak bisa memiliki anak lagi.
__ADS_1
Rasa kecewa bertumbuh menjadi rasa penyesalan, Ayah Livy yang selalu ingin memiliki anak laki-laki harus putus harapan karena dia tidak bisa memiliki anak lagi.
Penyesalan itu semakin kuat hingga menjadi pengabaian, Namun sebelum hal itu menjadi kebencian Ayah Livy menemukan jika Livy adalah anak yang jenius.
Dia bisa menangkap semua pengetahuan dengan cepat, sehingga ayahnya memutuskan untuk mendidik Livy layaknya anak laki-laki. Karena Livy tidak bisa menjadi anak laki-laki maka setidaknya dia pasti akan melahirkan anak laki-laki jenius juga.
Sejak itu Ayah Livy sangat keras dan menuntut Livy untuk belajar dan belajar. Livy telah menyelesaikan SMA saat dia berumur 12 tahun, namun hal itu masih belum cukup bagi orang tuanya.
Karena itu Livy disuruh menguasai 12 bahasa saat dia berusia 13 tahun, saat dia berusia 14 tahun mereka memintanya mengisi formulir pertanyaan Universitas ternama.
Saat Livy memikirkan hidupnya dia merasa sangat miris. Dia tidak lebih seperti robot dimata orang tuanya. Dia bahkan tidak memiliki teman. Karena itu pikiran pertamanya saat tiba didunia ini adalah kabur dan berkeliling dunia.
Namun sekarang dia memikirkan hidup bersama Juan tidak buruk. Satu-satunya pria yang akan memiliki aura posesif dan anak anjing secara bersamaan. (Maksudnya penurut ya)
...
Livy sudah sangat nyaman di dunia ini karena itu dia akan melakukan semua yang dia suka disini. Dia juga sangat menantikan pertunjukan yang akan ditampilkan oleh musuhnya.
Livy sangat yakin jika pertunangan besok tidak akan lancar, namun Livy yakin jika mereka pasti tidak akan membiarkan pertunangan nya batal. Livy tahu dengan pasti tujuan musuh, mereka selalu menekan ayahnya namun tidak bertindak langsung berarti mereka takut akan kekuatan ayahnya.
Dan alasan mereka takut karena pengaruh ayahnya sangat besar di kerajaan, ayahnya juga memiliki dukungan dari kerajaan ibunya. Livy merasa sedikit tidak puas karena musuhnya sangat bodoh.
__ADS_1
Mereka bergerak terlalu jelas sehingga terlihat oleh Livy, dia juga yakin dengan IQ Juan dan ayahnya mereka bisa menebak tujuan musuh dengan mudah.
Meski sedikit kecewa namun tidak ada salahnya untuk bersenang-senang, Lagipula dia sudah sedikit menurunkan kecerdasan nya dengan menghilangkan 3 tahun ingatannya dan juga ingatan pemilik tubuh.
Meski begitu mereka masih tidak bisa bersembunyi dari dirinya,dia sedikit meragukan IQ mereka. Tapi hal itu tidak akan merusak moodnya untuk bermain 'game'.
Dia juga tidak ingin mencaritahu musuhnya karena dia sudah repot-repot menghilangkan ingatannya.
'Terlalu sedehana' batin Livy sambil memijat pelipisnya, meski musuhnya tidak cukup layak namun Livy akan mengikuti trik murahan mereka.
Jika dia menebak dengan benar besok adalah langkah pertama yang akan diambil musuh, mungkin mereka akan mempengaruhi Afgaren besok.
...
Thanks for Reading
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan cerita ku ya!.
See you
Next eps...
__ADS_1