
Livy duduk dengan malas didepan cermin sambil menunggu dalin menghias rambutnya. Dalin berkata prosesnya sudah banyak yang dihilangkan.
Tapi tetap saja lama dari berendam susu dan bunga, Pijat, perawatan rambut, kuku dan wajah. Baru perawatan saja memakan waktu setengah hari.
Livy merasa risih tapi dia tidak bisa membantah karena itu juga demi kebaikannya, kalau mau menyalahkan dia hanya bisa menyalahkan dunia ini yang masih menggunakan perawatan kulit alami sehingga memerlukan waktu yang lama.
Livy cukup merindukan dunia lamanya yang sudah memiliki perawatan kulit yang lebih praktis.Tapi jika dia disuruh memilih mau tinggal dimana, dia lebih memilih tinggal di dunia yang sekarang.
'Meski disini melelahkan dengan segala peraturan yang rumit, tapi kehidupan disini jauh lebih menyenangkan' batin Livy sambil memandang wajahnya di cermin. Dia merasa hidup, tidak seperti dulu saat menatap cermin tidak ada semangat hidup dimatanya.
Terkadang dia kagum bagaimana dia bisa berubah begitu jauh dari dulu. Padahal dia tidak lama tinggal di dunia ini. Kalau dihitung sejak pertama kali tiba baru 3 bulan berlalu.
Livy tersenyum tipis, dia memejamkan matanya sambil terkekeh pelan.
Itu tidak lama tapi juga tidak sebentar, karena dalam 3 bulan ini banyak hal terjadi, meski dia tidak mengingat 2 bulan dia disini, tapi berkat cerita dari Dalin, Livy bisa tahu apa saja yang dia lakukan.
"Dalin apa sudah selesai? ayah dan kakak pasti lama menunggu" ucap Livy dengan nada malas.
"Sedikit lagi nona, Tuan dan tuan muda pasti tidak akan keberatan menunggu anda" jawab dalin sambil memasangkan mahkota dikepala Livy yang menambah kecantikannya.
"Sudah" tanya Livy yang merasa dalin berhenti lalu dia menatap dirinya di cermin, sungguh kecantikan yang luar biasa. Dia tertegun sebentar tapi tidak terlalu ingin mengagumi dirinya karena ayah dan kakaknya telah lama menunggu.
Livy berdiri dengan bantuan dalin, perlahan dia melangkah dengan anggun. Karena gaun ini memiliki permata yang menjuntai di roknya sehingga gaunnya cukup berat tapi itu bukan apa-apa karena dia telah melatih fisiknya.
...
__ADS_1
Livy menuruni tangga dengan anggun, dia tersenyum membuat siapa saja yang menatapnya terpesona. Duke terlebih dulu sadar dari lamunannya kemudian menghampiri Livy dan membantunya turun.
"Ayah, kakak maaf menunggu lama" ucap Livy dengan nada yang lembut, dia tersenyum sambil menerima uluran tangan Duke.
"Putriku, kamu sangat cantik sehingga Ayah tidak rela menyerahkannya pada pria lain" ucap Duke dengan nada sendu tapi masih dengan wajah datarnya.
Lisgred lebih dulu sadar dari lamunannya kemudian menghampiri Livy, dia tersenyum tipis "Adikku selalu cantik setiap hari tapi malam ini kamu sangat indah"
Isgrid tidak mau kalah jadi dia juga ikut memuji adiknya "Livy kamu sangat cantik malam ini sehingga kakak tidak ingin memperlihatkan adikku yang manis ini pada orang lain"
Livy tersenyum manis "Terima kasih Ayah, kak Isg, kak Lisg. Kalian juga sangat menawan, aku juga tidak rela jika ada yang melirik kalian"
Mereka pun berangkat menuju tempat acara, karena status Livy dan Juan sehingga tempat acara mereka sangat ramai. Livy turun dari kereta dengan bantuan Duke.
"Tidak. Ini bukan pertama kalinya" jawab Livy masih tersenyum. Isgrid lesu padahal jika saja Livy gugup dia akan menyarankan untuk menunda acara, atau lebih bagus jika dibatalkan saja dia tidak suka adik kecilnya direbut orang lain.
"Ini hanya pertunangan kak, Livy tidak akan pergi meninggalkan kalian hanya karena pertunangan ini" ucap Livy mengetahui suasana hati kakaknya yang galau.
Tentu bukan Isgrid saja, Lisgred dan Duke juga memiliki perasaan masam. Hanya mereka menutupinya dengan wajah datarnya, beda dengan Isgrid yang terlihat sangat jelas.
Livy tidak menghibur kakaknya lagi karena mereka sudah sampai didepan pintu. Pintu dibuka dan penjaga mengumumkan kedatangan mereka.
Duke menuntun Livy menuju mimbar acara dimana Juan telah berdiri disana. Livy dan Juan berdiri saling berhadapan lalu memasangkan cincin ke jari manis masing-masing.
Setelah acara pasang cincin Juan mengajak Livy berdansa. "Livy aku senang akhirnya kita bertunangan secara resmi" ucap Juan, tangannya sedang merangkul pinggang Livy.
__ADS_1
Livy memandang Juan dengan perasaan rumit "Aku senang tapi tidak seperti mu" jawab Livy ambigu dia memang senang namun bukan seperti Juan yang senang karena dia mencintainya.
"Aku tahu, tidak peduli apa selama aku adalah orang yang kamu pilih pada akhirnya, apapun aku akan mendukung mu" bisik Juan sambil tersenyum
"Maaf mungkin kamu akan terluka dengan keputusanku, tapi aku bisa menjanjikan satu hal padamu" ucap Livy dengan perasaan campur aduk.
"Hm"
"Apapun yang terjadi kamu akan menjadi pasanganku di hidup ini" jelas Livy dengan tegas dia tidak ingin Juan terbawa emosi dan mengganggu rencananya.
Juan menekuk alisnya kemudian menatap manik merah ruby Livy. "Aku akan mengikuti rencanamu" jawab Juan dengan tegas.
Ini pertama kalinya Livy menjanjikan nya sesuatu dengan serius. Karena itu dia akan mencoba mengikuti rencana Livy meski dia akan terluka nanti.
Tapi bagi Juan hal itu bisa dia gunakan untuk menarik simpati dari lubuk hati Livy yang beku.
...
Thanks for Readers
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan dari ceritaku ya!.
See you
Next eps...
__ADS_1