Mengubah Takdir Malang Antagonis

Mengubah Takdir Malang Antagonis
Eps 89


__ADS_3

Livy berfikir sejenak kemudian menjawab dengan pelan. "Bukankah pembasmian untuk monster, Perang untuk invasi kerajaan lain, dan penghakiman untuk pemberontak"


"Betul sekali, dalam prosesnya pasti banyak kehidupan yang menghilang. Namun kenapa dia dianggap sebagai pahlawan" ucap Reim membuat livy bingung.


"Dengar! kualitas mana itu sangat mempengaruhi kedudukan orang itu juga tanggung jawab yang harus mereka pikul" Reim bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju jendela.


"Tanggung jawab yang tinggi mempengaruhi hati dan pikiran manusia. Kekuasaan juga memicu kecemburuan dan kegilaan" Livy menyimak penjelasan Reim dengan patuh.


"Harapan, cita-cita, dan keinginan. Hal itulah yang yang menuntun jalan manusia, tidak peduli jalan apa yang mereka pilih" Reim menatap livy sambil tersenyum lembut kemudian melanjutkan penjelasannya.


"Dalam hal itu yang mereka perlukan adalah akal dan pikiran jernih. Jika tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah mereka tidak bisa disebut mulia. Karena tidak tau akan kebenaran dan kejahatan"


Reim menghela nafas sambil menatap kearah jendela dengan tatapan rumit.


Lalu berbalik menatap livy dengan tatapan memanjakan.


"Kau pasti tau jika tidak bisa membedakan hal itu sama saja dengan orang bodoh. Karena itu kebanyakkan rakyat jelata akan memiliki kualitas mana yang rendah dan bangsawan memiliki kualitas mana lebih tinggi"


Reim menjeda sebentar dan menghampiri livy lalu mengelus kepalanya dengan lembut.


"Jadi jika kau tidak memiliki pengetahuan dasar tentang mana dan sihir kualitas manamu rendah. Paham?" Livy cemberut karena Reim menganggapnya sebagai orang bodoh, namun dia tetap mengangguk menanggapi Reim.


"Aku ingin tau kenapa kau bersikap aneh denganku, tatapanmu juga aneh, lagipula kita baru bertemu hari ini dan ini jelas tidak seserdehana jika kau menyukaiku" jelas Livy dengan tatapan penasaran.


Reim menarik sudut bibirnya dan menatap livy dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku menganggapmu sebagai adik perempuanku, aku ingin memiliki adik perempuan tetapi itu tidak memungkinkan. Kemudian saat melihatmu pertama kali, aku merasakan keakraban yang aneh, entah kenapa aku merasa jika kita sudah cukup dekat namun kita baru bertemu hari ini"


Reim mengambil surai perak Livy lalu mengecupnya. "Juga kita memiliki tampilan yang serupa sehingga seperti saudara".

__ADS_1


Reim mengangkat jarinya lalu muncul cermin setinggi 2 meter didepan mereka. Reim menempelkan kepalanya dipundak Livy.


"Lihatlah! mirip bukan? jika orang melihat kita mereka akan mengangap kita adalah saudara" Livy tersentak kaget saat melihat cermin. Memang pada dasarnya mereka sangat mirip.


'Bagaimana mungkin? wajah ini sudah hampir berubah karena penyatuan itu, bahkan aku tidak memiliki kemiripan lagi dengan ayah dan ibu selain warna rambut dan mataku. Lalu bagaimana orang asing akan sangat mirip dengan ku'


Livy menatap kearah cermin dengan tatapan rumit. Jika saja bukan karena mata ruby merah nya dia akan ragu jika dia adalah anak dari Duke Reichburgh. Livy pasti akan mengira jika ibunya selingkuh dengan ayahnya Reim.


Namun livy segera menepis pemikiran itu sebab memang pada awalnya Livyana memiliki penampilan yang serupa dengan ibunya, namun karena penyatuan jiwa yang membuat tampilannya berubah drastis.


"Ehem" Livy mencoba untuk menghilangkan kecanggungan. Tidak akan ada gunanya memikirkan sesuatu yang tidak dimengerti, ia akan mencari tau nanti.


"Jadi Livy bisakah kau menganggapku sebagai kakakmu?" tanya Reim dengan senyum lebar.


Livy menghela nafas kemudian mengangguk mengiyakan perkataan Reim. Lagi pula dia juga merasa nyaman dan aman saat bersama Reim jadi tidak jadi masalah jika menambah satu kakak lagi.


Reim tersenyum lebar lalu memeluk Livy dari belakang. Dia menghirup aroma tubuh livy yang manis dan lembut seperti susu coklat baginya.


"Patuhlah! Biarkan seperti ini dulu" ucap Reim dengan pelan. Livy dia dam berhenti memberontak, karena itu tidak akan ada gunanya.


"..."


.


.


.


.

__ADS_1


"Berapa lama lagi kau ingin memelukku, aku ingin kembali dan pulang" ucap livy sambil memutar bola matanya malas.


"Kakak!"


"Hah?"


"Panggil kakak dan aku akan melepaskanmu dan mengantarmu pulang" Livy ingin menjawab namun Reim melanjutkan perkataannya.


"Kau tidak akan bisa menggunakan sihir teleportasi dan alat teleportasi apapun di sini jadi kau tidak bisa pergi". Alis livy berkerut karena perkataan Reim. Reim tersenyum saat melihat reaksi Livy yang lucu menurutnya.


"Jika ingin keluar dan masuk menara sihir kau harus memiliki token anggota, tanpa itu kau tidak bisa kemanapun" jelas Reim yang membuat livy tersentak kaget.


Livy menggigit bibirnya sebelum membuka mulutnya.


"Ka-kakak" cicit livy dengan pelan, Reim menyeringai licik.


"Apa katamu? aku tidak memdengarnya" Livy menatap Reim dengan tajam sementara yang ditatap malah tersenyum.


'Sabar, jika aku sudah keluar dari sini aku akan menghajarnya nanti' batin livy sambil menahan kesal. Livy menghela nafas kemudian membuka mulutnya.


"Kakak bisakah kau mengantarku pulang" ucap livy sambil tersenyum manis.


...


Thanks for Reading


Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.


See you

__ADS_1


Next eps...


__ADS_2