
Livy masuk ke kamarnya kemudian duduk di pinggir kasur, dia mengambil novel yang ada di atas meja kecil di samping kasur.
Livy membolak balik halamannya hanya dalam lima menit sebelum melempar buku itu ke sudut ruangan. Livy menarik nafas dengan terengah-engah, dia memijat pelipisnya untuk menenangkan diri.
Livy memegang jantungnya yang berdetak kencang, namun Livy sangat yakin jika itu bukan karena jatuh cinta atau ketakutan namun karena amarah.
Tok...tok...tok...
Dalin masuk kedalam ruangan sambil membawa troli makanan. Livy menatap Dalin dengan tidak suka, Livy merasa jika dia tidak senang karena dalin masuk tanpa ijinnya.
Livy menggertakkan gigi, lalu menutup matanya, kemudian berkata pada dalin dengan nafas yang memburu "Dalin...pergilah jika telah selesai".
Dalin sedikit bingung dengan reaksi nonanya yang sangat aneh menurutnya, namun bukan Dalin namanya jika dia mempertanyakan perintah nonanya.
Dalin mendorong troli kedepan Livy lalu membungkuk dan berbalik pergi. Dalin bisa tau jika suasana hati nonanya sedang buruk sehingga dia bahkan tidak berani menjawab perintah nonanya.
Nafas Livy masih memburu, Livy kemudian memakan desert dengan cepat. Livy saat ini sedang menahan keinginan untuk membanting desert itu kelantai jika tidak dia akan kelaparan karenanya.
Livy membuka laci meja kecil dan mengambil botol kaca kecil yang berisi bubuk putih. Livy menuangkannya ke gelas dan mengaduknya kemudian meminumnya hingga tandas.
'Hah...aku tidak menyangka akan masuk dalam jebakannya' Livy memejamkan mata nya dan menarik nafas secara perlahan hingga perasaannya perlahan tenang kembali.
Livy mengambil secarik kertas dan pena, kemudian menuliskan pesan untuk dalin. Livy lalu berbaring ditempat tidur kemudian menutup matanya.
...
Di sebuah ruangan seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi sambil menatap ke arah jendela dengan wine di tangannya.
__ADS_1
Dia menyesap wine sambil tersenyum smirk. "Duke Reichburgh aku harap kau menyukai hadiah dariku" manik ungu miliknya memancarkan cahaya penghinaan.
Pria itu adalah helras, dia dendam kepada Duke Reichburgh yang berani melukai bawahan setianya Axe. Helras menggoyangkan gelas yang berisi wine di tangannya sambil tersenyum smirk.
Langkah kaki menggema dilorong, helras menaikkan alisnya sebelum menoleh kesamping. Pria dengan rambut hijau dan mata kuning membungkuk hormat padanya.
"Bagaimana kondisimu?" tanya helras masih menggoyangkan gelas wine nya. Pria itu yang tidak lain adalah Axe, bawahan setia helras.
"Saya baik tuan" jawab Axe dengan mata penuh kebencian, dia membenci Duke Reichburgh yang lancang melukainya. Helras yang mengetahui itu hanya diam saja.
"Tenang saja! Dia tidak akan bahagia terlalu lama" ucap helras dengan senyum yang mengerikan.
...
Dalam ruang yang bergaya eropa, seorang pria bertopeng dengan rambut perak dan mata ungunya sedang membaca dokumen yang di bawa oleh bawahannya.
Ron mengambil secarik kertas lalu menuliskan pesan singkat dan rahasia. Dia memberikan kertas itu pada bawahannya.
"Kirim ini ke Mansion Duke Reichburgh! Ingat pastikan surat ini sampai langsung kepadanya!" ucap Ron sambil melambaikan tangannya, menyuruh bawahannya itu agar segera pergi.
"Lux ini mungkin di luar perjanjian kita, namun anggap saja balas budi untuk metode pembuatan alat sihir ini" ucap Ron sambil memegang telepon yang diberikan oleh Livy/Lux.
Memang untuk seukuran kerja sama Livy/Lux terlalu murah hati. Tentu saja Livy melakukan bukan demi kebaikan atau karena kebodohan. Namun demi kepercayaan dan kesetiaan.
Livy cukup mengenal sifat Ron yang meski dia adalah seorang yang sangat menyukai uang. Namun dia bukanlah orang yang serakah, sehingga dia bisa dipercaya.
...
__ADS_1
Di mansion Count Asgrey, Penilevy bersma Ayala sedang duduk sambil membaca buku, dengan di temani oleh cemilan sore.
Penilevy sangat asik membaca sedangkan Ayala hanya memandangi buku di tangannya sambil melamun. Penilevy melirik Ayala, dia merasa jika dari tadi Ayala terus melamun.
Karena khawatir Penilevy mengguncang tubuh Ayala dengan perlahan "Aya apa kau baik-baik saja?" tanyanya dengan raut wajah khawatir.
Ayala tersentak dari lamunannya lalu menggelengkan kepala "Tidak! Aku baik-baik saja Peni" jawab Ayala sambil tersenyum manis.
Penilevy merasa aneh namun karena Ayala tidak mengatakannya, maka dia tidak akan menanyakannya kembali.
"Baiklah kalau begitu" ucap Penilevy kemudian lanjut membaca. Ayala memfokuskan dirinya untuk membaca agar tidak ingin Penilevy bertanya kembali.
...
Malamnya mansion Duke Reichburgh terjadi keributan. Itu karena Livy terkena demam tinggi. Semua orang sangat khawatir karena saat sorenya Livy masih baik-baik saja.
Namun anehnya, saat malam Livy langsung terkena demam tinggi. Hal itu membuat semuanya gelagapan karena nya.
...
Thanks for Readers
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan cerita ku ya.
See You
Next Eps...
__ADS_1