
Juan menghampiri Livy dengan wajah dingin dan datar, Juan memperlihat kan dengan jelas ketidaksukaan nya pada Afgaren, namun hal itu tidak membuat Afgaren bergeming tapi hal itu sedikit lucu dan menarik baginya.
Setelah tiba disampingnya Livy Juan segera memeluk Livy dengan posesif, untuk menunjukkan kepemilikannya.
"Jadi lady Reichburgh apa saran Anda" tanya Afgaren pada Livy dan sepenuhnya mengabaikan tatapan permusuhan dari Juan.
Livy menggeleng kan kepala perlahan saar melihat interaksi Juan dan Afgaren namun dia tidak bisa menyangkal jika saat ini Juan kalah dari afgaren karena mudah terpancing emosi.
'Baiklah dia tidak cukup pandai bermain wanita' batin Livy dengan pasrah, lalu Livy menatap Afgaren dan tersenyum formal.
"Yang mulia disebelah saya ada Lady Fronderyte,a Anda bisa berdansa bersama nya untuk menyelamatkan reputasi Anda dan saya akan berdansa bersama pasangan saya" ucap Livy dengan senyum lembut namun nada suaranya tidak menunjukkan ketulusan.
Afgaren tersenyum tipis, dia kemudian melangkah ke hadapan Audrey yang saat ini sedang memasang wajah bingung.
"Lady Fronderyte maukah anda berdansa bersama saya" ucap Afgaren dengan nada datar, dia lalu mengulurkan tangannya kepada Audrey.
'Apa' batin Audrey masih dalam keterkejutan.
Audrey melirik Livy untuk minta penjelasan namun Livy menaikkan kelingking nya keatas sambil mengedipkan sebelah matanya, Livy sedang memohon pada Audrey untuk bekerja sama.
Audrey yang terjebak dalam situasi rumit ini hanya bisa menghela nafas pasrah dan menerima uluran tangan dari Afgaren, meski dia akui Afgaren sangat tampan tapi dia bukanlah tipe nya.
Terlebih Afgaren adalah mantan tunangan yang membuang sahabat nya dengan kejam, karena itu bahkan meski Afgaren adalah pria terakhir di dunia dia tidak akan memilihnya.
__ADS_1
...
Alunan musik merdu menggema di aula dansa, pertama-tama Afgaren dan Audrey memulai dansa pertama lalu diikuti oleh Livy dan Juan, baru kemudian para bangsawan lain ikut berdansa.
Livy yang saat ini berada dalan pelukan Juan berdansa dengan anggun dan tanpa celah, rambut indah Livy berkibar indah dan mempesona setiap orang yang melihatnya, dan tentunya hal itu membuat Juan cemburu.
"Juan seorang raja tidak boleh menunjukkan perasaan nya terlalu jelas" ucap Livy dengan nada datar, Livy tidak suka perubahan Juan yang mengarah ke hal buruk menurut nya.
Livy selalu tidak memperlihatkan perasaan nya terlalu jelas, tapi jelas Livy tidak suka dengan Juan yang mudah terpancing emosi, karena hal itu bisa membahayakan rencananya dan Livy tidak ingin hal itu terjadi.
"Maaf" ucap Juan dengan raut wajah sedih
"Dengar kau adalah raja, jangan terlalu lembek padaku, tapi jangan terlalu posesif. Kau tau aku suka orang yang ada diantara keduanya" bisik Livy ditelinga Juan.
Tindakan Livy membuat Juan merona, karena Livy saat ini sedang memberi tahu tipe pria kesukaan nya.
Karena karakter Livy sangat sempurna jadi dia memerlukan pria yang romantis, penurut dan posesif. Karena pria seperti itu akan menarik baginya, dan Juan tau hal itu dengan sangat pasti.
Juan saat ini sedang memikat Livy dengan pesona dan karakter nya. Dan setiap waktunya Juan semakin mengenal Livy lebih jauh lagi dan lagi.
Mereka berdansa dengan anggun hingga lagu pun berakhir, Afgaren kemudian menghampiri livy, ia berniat mengajak Livy berdansa.
"Lady Reichburgh maukah anda berdansa dengan saya" ucap Afgaren dengan sedikit membungkuk dan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Saya tidak bisa menolak Anda"sindir Livy namun masih dengan senyum diwajahnya, Livy dan Afgaren kemudian berdansa bersama.
"Kenapa Anda suka mengganggu saya" tanya Livy dengan nada tidak suka namun wajah nya masih tersenyum.
"Tidak, hanya suka melihat wajah kesalmu" jawab Afgaren acuh, muncul perempatan di dahi Livy, bahkan meski Livy awalnya adalah orang yang dingin dan acuh tak acuh tapi sejak dia bergabung dengan Livyana, Livy mulai bisa merasakan emosi dengan cukup jelas.
"Tidak bisakah Anda sedikit berbohong" tanya Livy dengan nada kesal, karena saat ini Livy merasa sedang dipermainkan oleh Afgaren.
"Tidak bisa" jawab Afgaren dengan singkat, dan Livy yang sudah sangat kesal pun menginjak kaki Afgaren dengan sengaja.
"Ah maaf seperti sepatu ini terlalu tinggi, kaki saya mulai lelah berdansa" ucap Livy dengan raut bersalah, namun senyum tipis menghiasi bibir Livy.
Afgaren kemudian semakin menarik Livy dalam pelukannya hingga Livy merasa jika jarang diantara mereka terlalu dekat.
"Sayang sekali jika saja aku bertemu dengan mu sebelum menyetujui pembatalan pertunangan itu" sesal Afgaren seraya tersenyum tipis.
"Waktu tidak bisa diputar yang mulia, kalau pun bisa saya berharap hari itu kita tidak bertemu" ucap Livy dengan nada dingin namun tetap sopan.
...
Thanks for Readers
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata, tetap nanti kan kelanjutan ceritaku ya!
__ADS_1
See You
Next eps...