
Livy menginjak lagi kaki Afgaren, agar Afgaren melepaskan nya namun kenyataan tidak sesuai harapan Livy sebab Afgaren semakin menarik Livy dalam pelukannya.
'Jika saja dia bukan raja, sudah kucabik-cabik wajah nya' gerutu Livy seraya mengatur ekspresi wajahnya.
Sementara Juan yang dari tadi melihat interaksi antara Afgaren dan Livy hanya bisa berwajah masam, Juan sangat tidak suka dengan kedekatan mereka berdua.
"Mestinya jangan terlalu diperlihatkan ekspresi cemburu itu" saran Audrey yang dari tadi mengawasi Juan selaku tunangan baru Livy.
Bukan karena dia terpikat atau apa, Audrey hanya sedang menyelidiki kepribadian Juan, apa dia pantas untuk Livy atau tidak.
"Aku tau hanya..." jeda Juan seraya menggertakkan gigi nya karena geram dengan kelancangan Afgaren yang semakin menarik Livy ke pelukannya.
...
Karena malas memberontak lagi Livy pun menaikan kakinya ke kaki Afgaren, Jadi jika memang Afgaren akan terus memeluk nya dengan erat dia bisa menjadikan kaki Afgaren sebagai pijakan dan dia tidak perlu membuang tenaga.
"Saya harap yang mulia mengerti, kaki saya sakit dan tidak bisa berdansa lagi" ucap Livy seraya tersenyum smirk.
Livy dengan sengaja memprovokasi Afgaren, walau awalnya dia tidak ingin Afgaren semakin tertarik padanya namun sikap Afgaren membuat Livy kesal.
'Karena dia sangat suka memeluk ku, maka jangan salahkan aku membuat kakimu sakit hingga tidak bisa berjalan lagi' batin Livy sambil menyungging sudut bibirnya.
Livy tidak ingin berbelas kasihan pada Afgaren karena dia sendiri tidak ingin dikasihani dan sangat tidak tahu malu.
Afgaren yang saat ini menjadi pijakan Livy masih tetap melanjutkan dansa hingga musik nya berhenti. Lalu Livy dan Afgaren saling membungkuk hormat, sebagai tanda perpisahan.
__ADS_1
"Anda sangat tabah yang mulia" ucap Livy dengan nada anggun dan senyum anggun.
"Itu tidak seberapa" balas Afgaren sambil tersenyum tipis, jujur saja dia tidak mempermasalah kan sikap Livy pada nya sebelum nya.
Awalnya dia hanya penasaran pada Livy yang memberikan dirinya artefak sihir tingkat tinggi secara cuma-cuma. Apa lagi dia tau saat itu Livy tidak mengenali dirinya.
"Lady Reichburgh bolehkah saya bertanya" tanya Afgaren dengan ekspresi serius.
"Anda sudah bertanya yang mulia" jawab Livy dengan acuh, dia saat ini terlalu malas untuk membuang waktu dengan Afgaren, apalagi setelah pesta ini dia masih ada acara lagi.
"Kalau begitu, kenapa sebelum ini kamu tidak mengenali ku, dan juga kenapa saat ini kamu bisa mengenali ku" tanya Afgaren dengan penasaran, meski dia telah menduga sebabnya namun hal itu belum pasti. Jadi dia ingin memastikan nya dengan bertanya secara langsung.
Livy melangkah mendekati Afgaren kemudian menarik kerah baju Afgaren sehingga ia tertunduk. Livy mendekat kan wajahnya ke Afgaren. Tindakan livy membuat banyak orang memperhatikan mereka sambil berbisik.
"Sebelumnya terjadi kecelakaan yang menyebabkan saya kehilangan sebagian ingatan saya, dan sekarang ingatan saya sudah pulih" bisik Livy pada telinga Afgaren.
Livy yang mendengar perkataan Afgaren hanya menatap nya dalam diam sambil berekspresi datar.
"Hal itu rahasia dan untuk pertunangan kita saya harap Anda segera mengumumkan pembatalan pertunangan hari ini juga, dan sebaiknya lain kali mohon jaga jarak" ucap Livy dengan nada datar.
Sementara Juan yang memperhatikan mereka yang terlihat mesra, tengah dibakar api cemburu, namun dia menahan nya agar Livy tidak marah padanya.
'Sangat terlihat jika dia sedang cemburu' batin Audrey sambil menatap Juan.
Setelah membuat seisi aula gempar atas tindakan mesranya dengan Afgaren, Livy malah langsung pergi dan meninggalkan aula. Livy pergi menuju balkon untuk menikmati kesunyian.
__ADS_1
Tap...tap...tap
Pendengaran Livy cukup tajam sehingga dia bisa mendengar langkah kaki seorang pria yang datang kemari, dan dari aroma nya livy bisa tau jika pria itu adalah Juan.
"Kenapa" tanya Livy tanpa berpaling.
"..."
Juan mengigit bibirnya untuk menghilangkan rasa canggung dan gugup nya.
"Livy sebagai tunanganmu aku tidak suka kau dekat dengan mantan tunangan mu" ucap Juan setelah mengumpulkan keberanian nya, Juan tau akan konsekuensi perkataan nya saat ini.
"Aku tidak menyukainya" jawab Livy dengan nada acuh, meski begitu Livy tersenyum tipis, entah apa yang membuat nya senang.
"Tapi tindakan mu tadi bisa membuat orang salah paham, aku memang percaya padamu tapi aku tidak bisa percaya pada orang lain, kita tidak tau apa yang akan di lakukan nya"jelas juan dengan nada khawatir bercampur kesal.
Juan bukan kesal pada kelengahan Livy namun pada Afgaren yang secara terang-terangan menggoda Livy. Apalagi fakta jika Livy pernah mencintai Afgaren dan pernah menjadi tunangan nya.
...
Thanks for Readers
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nanti kan kelanjutan ceritaku ya.
See You
__ADS_1
Next eps...