
Pelayan itu pun pergi menyiapkan pesanan Livy dan Ken. Livy mengambil cookies dari Light room nya tentu tanpa dilihat siapapun.
Livy memasukkan tangannya di kantong uangnya dan pura-pura mengambil cookies. Ken hanya memperhatikan Livy dari tadi, Ken penasaran kenapa livy hanya memesan teh saja.
"Kenapa kamu tidak pesan makanan" tanya Ken penasaran, apa Livy tidak lapar.
Livy melirik Ken sebelum lanjut memakan cookies nya. "Aku tidak suka makanan disini, aku mengajak mu kesini karena sepertinya kamu lelah dan juga lapar" jelas Livy sambil memakan cookies.
Livy sedang tidak mood untuk makan masakan orang lain, namun jika moodnya bagus dia akan makan lahap seperti saat dia memakan cemilan dipinggir jalan, ya memang dia sangat pilih-pilih makanan.
Tak lama kemudian pelayan tiba dengan membawa pesanan Ken dan Livy. Ia meletakkan pesanan dimeja kemudian pergi meninggalkan mereka.
Livy memakan cookies dan memimun teh nya. 'Cookies Dalin selalu enak' batin Livy masih menikmati cookies nya. Ken juga sesekali memperhatikan Livy yang sedang makan cookies.
Selesai makan Ken membayar pesanan kemudian menarik Livy untuk meninggalkan toko. Livy hanya pasrah diseret oleh Ken.
"Mau kemana?" tanya Livy penasaran, dia tidak mempermasalahkan Ken yang menariknya karena sebelumnya dia juga menarik Ken seperti ini.
"Toko senjata" jawab Ken singkat, dia sudah tidak canggung lagi dengan Livy.
'Tidak buruk, Aku memang tidak ada pedang' batin Livy masih mengikuti langkah Ken. Setibanya di tokoh senjata Livy bisa melihat binar diwajah Ken.
"Livy apa ada yang menarik buat mu" tanya Ken sambil tersenyum cerah.
Livy menelusuri toko itu, hingga pandangannya jatuh pada pedang ramping dan kurus. 'Pedang samurai' batin Livy masih memandang pedang itu dengan intens.
Pedang ini cukup unik dengan desains seperti tongkat. Sarung dan pedangnya saat disatukan akan berwujud tongkat. Livy tersenyum melihat desain pedang ini sebab desain ini adalah desain untuk pedang pada abad pertengahan di Inggris.
'Apa ada orang yang bereinkarnasi kesini dari bumi seperti ku' batin Livy senang, itu tidak mustahil jika dia bisa tiba di dunia ini berarti orang lain juga bisa.
"Aku pilih ini" ucap Livy sambil mengambil pedang itu.
__ADS_1
"Baiklah, biar aku yang membayarnya" Ken pun membayar pedang Livy, setelahnya mereka keluar dari toko.
...
"Ken" panggil Livy masih mengikuti langkah Ken.
"Ya" jawab Ken singkat
"Ayo kita kembali, kau tau aku sangat lelah berjalan seharian" gerutu Livy sebal, dia sudah lelah berjalan seharian juga dia sedikit lapar, meski tadi dia makan cookies namun itu tidak membuatnya kenyang.
Ken memberhentikan langkah nya kemudian menatap Livy intens.
"Baiklah ayo pulang" balas Ken sambil tersenyum.
Mereka pun kembali ketempat pertama kali mereka bertemu. Setibanya Livy langsung menjatuhkan dirinya dibawah pohon yang dia hancur tadi pagi. Ken mengikuti Livy, dia duduk disamping Livy dan memandang langit.
"Hari ini menyenangkan?" tanya Livy sambil memandang langit.
Livy membuka Light room dan mengeluarkan telepon, berbeda dengan sebelumnya livy melakukan nya secara terbuka, ia percaya pada Ken karena penilaian Livy tidak pernah salah.
"Hati-hati Livy, kenapa kamu bertindak sembarangan" ucap Ken dengan nada galak, bagaimana Livy bisa bertindak sembrono.
Livy tertawa kecil mendengar ucapan Ken. "tidak apa, bukan kah kita teman" ucap Livy masih tertawa.
Wajah Ken merona, ini pertama kalinya orang lain memanggil nya teman. "Tapi bisa saja ada orang yang melihat" ucap Ken mengalih kan pandangannya.
"Ya..ya..ya terserah" ucap Livy dengan nada sedikit mengejek.
"Livy.."
"Untuk mu" sela livy sambil meyerahkan telepon pada Ken. Ken memasang wajah cemberut kemudian menerima telepon itu.
__ADS_1
"Apa ini" tanya Ken penasaran.
"Ini alat sihir komunikasi jarak jauh, namanya telepon. Aku yang menciptakan nya jadi..." Livy mejelaskan kegunaan dan cara menggunakannya. Tak lupa juga Livy menyuruh Ken untuk merahasiakannya.
"Terima kasih" ucap Ken sambil tersenyum.
"Ingat nomor ku 001 dan nomor mu 007" Livy sebenarnya ingin memberikan telepon pada Juan tapi saat tiba Juan lebih dulu membuat nya kesal.
"Kalau begitu nomor 002 hingga 006 sudah kamu berikan pada orang lain" ucap Ken sedikit cemburu di pikir ia adalah orang pertama yang diberikan telepon oleh Livy.
Livy menaikkan alisnya, dia bisa tau jika Ken cemburu namun dia bisa paham jika ken menganggap nya sebagai teman pertama nya jadi dia sedikit posesif.
"Ya, aku memberikannya kepada ayah dan kedua kakak ku juga pelayan pribadi ku, kamu adalah pria pertama yang kuberikan ini selain keluarga ku" jelas Livy singkat, Ken memang pria pertama yang mendapat kan nya karena Livy memang belum memberikan telepon pada Juan.
"Ingat jangan menelpon orang lain, bisa bahaya tau" lanjut livy mengingat kan Ken, sementara Ken hanya tersenyum jika memang Livy memberi untuk keluarga nya maka dia tidak masalah.
"Hari sudah sore, aku pulang dulu, sampai jumpa lagi Ken" Livy berdiri kemudian merapal mantra teleportasi.
Ken sedikit kaget sebab Livy bisa berteleportasi namun juga senang karena Livy terbuka pada nya, Bukankah itu artinya Livy menganggap nya teman.
"Tidak buruk memiliki teman" gumam Ken sambil tersenyum.
...
Thanks for Readers
Maaf jika ada Typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.
See you
Next eps...
__ADS_1