Mengubah Takdir Malang Antagonis

Mengubah Takdir Malang Antagonis
Eps 121


__ADS_3

Saat mengingat kenangan pahit itu hatinya sakit, dia fikir dia sudah berdamai dengan masa lalu tapi ternyata dia masih belum bisa menyingkirkan kebiasaannya yang suka melukai dirinya sendiri agar orang lain memperhatikannya.


Mungkin psikologisnya sudah benar-benar rusak, Livy tidak tahu apa dia bisa sembuh suatu hari nanti. Hatinya merasa jika dia berbuat salah dengan membuat mereka khawatir namun disisi lain dia suka saat mereka mengkhawatirkan nya.


Mungkin dia akan mencoba menahan diri untuk tidak menyakiti diri sendiri lagi. Ada banyak cara untuk mendapatkan cinta, karena Livy bisa melihat dengan jelas jika mereka mencintainya.


Tidak seperti orang tuanya yang membencinya sejak lahir sehingga dia memerlukan cara ekstrim agar diperhatikan.


Livy membuka matanya kembali dan menyesuaikan cahaya dimatanya. "Ayah"panggil Livy dengan lirih meski enggan mengganggu diskusi mereka namun dia haus dan lapar. Pertarungan tadi menguras tenaganya.


Meski suara Livy lirih namun mereka semua kecuali Lisgred adalah swordmaster sehingga pendengaran mereka sangat tajam.


Karena mengetahui jika Livy telah sadar mereka menghampiri Livy.


"Livy bagaimana perasaanmu" tanya Duke dengan lembut tapi wajahnya masih kaku.


"Livy lapar ayah" jawab Livy dengan susah payah, Lukanya tidak terlalu parah dia hanya tidak memiliki energi karena kehilangan banyak darah juga karena pertarungan melawan pembunuh tadi.


"Aku akan menyuruh pelayan membawakan makan" ucap Afgaren dengan cepat, sedangkan Juan mengambilkan air untuk Livy. Dia menyerahkannya kepada Duke karena Duke berada disamping Livy.


"Minumlah dulu" Duke membantu Livy duduk, lalu membantu Livy minum meski gerakannya sedikit kaku.


Tidak lama kemudian Afgaren tiba dengan dokter tadi untuk memeriksa Livy kembali, dibelakangnya pelayan mengikuti dengan troli makanan.


Dokter memeriksa Livy, "Lady Reichburgh dalam kondisi yang stabil, tapi harap jangan terlalu banyak bergerak, jangan makan makanan yang pedas dan berat, cukup minum obat dan istirahat secukupnya" dokter meresepkan obat kemudian pamit pergi.

__ADS_1


Sungguh aura diruangan sangat menyesakkan, dia bahkan tidak ingin tinggal lebih lama disana.


Livy makan dengan di bantu oleh Isgrid, Livy tidak mungkin meminta Juan menyuapi nya karena mereka ada didepan keluarganya. Sedangkan ayahnya sangat kaku, begitu juga dengan Lisgred jadi hanya Isgrid pilihan yang paling tepat.


Setelah makan Livy meminum obatnya, biar adil kali ini giliran Lisgred yang membantunya meski yang terluka adalah perutnya bukan tangannya namun dia sangat senang dengan perhatian kecil mereka.


Setelah memastikan kondisi Livy Afagren pergi karena dia masih memiliki pekerjaan bahkan jika dia ingin tinggal tidak bisa karena Livy bukan lagi tunangannya pada akhirnya dia pergi dengan enggan.


...


Duke dan Isgrid juga pergi karena mereka masih harus menangani penyusup yang tersisa. Tersisa Juan, Livy dan Lisgred di kamar.


Suasana diruangan sangat canggung dengan Juan dan Lisgred yang sama-sama diam terjebak dalam pikiran mereka sendiri. Livy mengerucutkan bibirnya dia merasa jika mereka memiliki sesuatu yang ingin dibicarakan padanya namun karena ada orang lain mereka sama-sama tidak berbicara.


Dan sekali lagi pilihan ada ditangannya, dia ingin istirahat sendirian karenanya jika mereka ada disini dia tidak bisa istirahat dengan tenang.


Lisgred melirik Livy kemudian menatap Juan dengan tajam memperingatkan Juan agar tidak macam-macam. Juan tidak tersinggung karena Lisgred adalah kakak Livy dia memakluminya.


Tanpa banyak bicara Lisgred meninggalkan Juan dan Livy sendirian.


Livy menatap Juan "Apa ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Livy dengan santai dia tidak memanggil Juan dengan formal tapi juga tidak menyebut namanya. Itu karena dia merasa sedikit bersalah.


Juan tidak berbicara, hanya menghela nafas lalu duduk disamping Livy dan menggenggam tangannya. Juan menggosokkan pelan tangan Livy pada pipinya.


Livy semakin merasa bersalah karena Juan hanya diam saja dan malah bersikap seperti anak anjing yang di terlantarkan. Akan lebih baik jika Juan memarahinya dari pada diam saja.

__ADS_1


"Maaf aku hanya tidak ingin afgaren bertindak berlebihan... "Livy menjeda ucapannya agar tidak menyulut emosi Juan. Dia merasa bersalah kerena sudah membuat semuanya khawatir. Padahal dulu dia tidak pernah merasa bersalah karena perhatian orang tuanya ada hanya karena dia berguna.


Juan menatap mata Livy yang berair, entah kenapa dia merasakan kesedihan yang mendalam dan ketakutan dimata Livy. Juan mengelus kepala Livy dengan kasih sayang lalu mengecup singkat dahi Livy.


"Aku tidak marah, hanya kecewa karena tidak bisa menjagamu dengan benar" jelas Juan, dia tahu situasi Livy sedikit tidak menguntungkan, Livy bisa saja menghabisi pembunuh itu dengan sihirnya namun Livy tahu jika ada yang mengawasinya karena itu dia hanya menggunakan seni beladiri saja.


"Hmm" angguk Livy deng pelan.


Setelah livy menghabisi pembunuh itu dia merasakan aura afgaren tidak jauh, pihak lain sepertinya sengaja ingin mempertemukannya dengan afgaren. Tanpa pikir panjang Livy langsung menusukkan pedang ke perutnya, saat Afgaren melihatnya dia sedang mencabut pedang dari tubuhnya.


"Dia dipengaruhi sihir hitam jadi kupikir dia akan panik jika aku terluka dan tidak memikirkan hal lain" jelas Livy dengan lirih.


Livy memang berencana masuk kedalam jebakan afgaren namun tidak secepat itu karenanya dia melakukan hal itu.


"Maaf, maaf karena tidak ada disisimu saat itu" mereka sudah tahu jika akan ada masalah di pesta pertunangan mereka namun Juan tidak pernah mengira kalau ada dua pihak yang ingin mencelakai Livy.


Satu pihak yang mengirim pembunuh kepada Livy dan menghambat afgaren dan pihak lain ingin mempertemukan afgaren dengan Livy di tempat sepi.


...


Thanks for Reading


Maaf jika ada typo atau kesalahan dalam pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan dari ceritaku ya!


See you

__ADS_1


next eps...


__ADS_2