
Livy menikmati acara minum tehnya, sungguh dia sangat menyukai kerja Dalin yang kompeten.
"Nona semua yang Anda perlukan sudah saya siapkan" ucap dalin seraya meyerahkan barang-barang yang diminta nya tadi, Livy menyuruh Dalin untuk membawakan pakaian sederhana dan simpel namun tetap cantik.
Itu karena dia berencana untuk tinggal beberapa hari lagi di Crastine, meski disini cukup mendesak, namun dia perlu melakukan sesuatu disana juga dia ingin sedikit lebih lama di sana.
'Aku tinggal lebih lama bukan karena Juan, namun itu karena aku memiliki pekerjaan lain' batin Livy mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Light room" Livy memasukkan tangan dan mengambil telepon yang dia buat kemarin, juga dia melemparkan barang-barang yang disiapkan Dalin tadi termasuk cookies. Dia menyerahkan telepon pada Dalin dan mengajari cara kerjanya.
"Ini sangat hebat nona" ucap dalin dengan antusias, dia tidak menyangka akan bisa menjadi orang pertama yang mencoba barang ciptaan nonanya.
"Ingat nomor ku 001 sedangkan nomor mu 006, oh dan bilang pada ayah kalau aku akan sarapan bersama" jelas Livy singkat, dia kemudian mengambil cookies dan memakannya.
"Baik nona" jawab dalin, dia segera mengabarkan pada Duke jika Livy akan sarapan bersama.
...
Tok...tok...tok..
Dalin pun masuk kedalam, dilihatnya jika nonanya masih asik makan cookies sambil minum teh tanpa sadar dia tertawa kecil.
"Nona Tuan dan tuan muda menunggu anda"ucap dalin sambil tersenyum, Livy meletakkan tehnya kemudian berdiri. Livy pun melangkah keluar menuju ruang makan.
__ADS_1
Para pelayan yang melihat nonanya keluar kamar tidak bisa untuk tidak kaget, semua tau jika nonanya ketakutan akan kejadian waktu itu.
"Nona Anda baik-baik saja" tanya kepala pelayan, dia kaget melihat Livy namun juga senang sebab nonanya sudah pulih.
"Ya" jawab Livy singkat, dia tersenyum tipis untuk memberi kesan mendalam. Livy masih tetap menjalankan rencana nya, dia masih harus membuat semua orang dia mansion ini setia padanya.
Livy pun kembali melangkah menuju ruang makan, setibanya Livy disambut oleh banyak pertanyaan dari Isgrid sementara duke dan Lisgred hanya mengangguk menyetujui setiap pertanyaan Isgrid.
Livy menjawab pertanyaan itu satu persatu kemudian mereka sarapan dalam diam seperti biasa. Selesai makan Livy mulai menyatakan maksudnya sarapan.
"Aku tidak ingin belajar dulu, kejadian waktu itu masih membuatku sedikit takut" ucap Livy dengan nada lirih dia mencoba membuat ekspresi tertekan dan trauma.
"Ya istirahatlah" balas Duke singkat, dia mengerti jika putrinya sedikit takut untuk keluar sebab ada mata-mata yang berhasil menyusup kesini.
"Selama aku dikamar aku mencoba membuat alat sihir dan berhasil" Livy tersenyum kemudian mengeluarkan telepon dari Light room, namun dia melakukan secara tersembunyi.
Livy tersenyum saat Dalin meyerahkan kotak kosong kepada nya, sungguh Dalin adalah pelayan yang kompeten, tanpa disuruh dia bisa tau apa yang dibutuhkannya.
Livy kemudian meletakkan 3 telepon didalam kotak, kemudian menyerahkan nya kepada Duke.
"Ayah ini namanya telepon, aku menggunakan batu sihir sebagai alat penerima sinyal, juga mengunakan nomor untuk membedakan sinyalnya...." Livy pun menjelaskan cara membuat nya dan cara kerjanya. Livy juga mengatakan jika dia hanya membuat 4 buah dan tentunya 1 ada padanya.
"Baiklah lanjut kan pekerjaan mu" ucap Duke singkat, namun sebenarnya dia senang juga sedikit takut. Putrinya terlalu berbakat ini malah akan membahayakan dirinya. Namun jika itu terjadi dia pasti akan melindungi putrinya itu.
__ADS_1
Setelah menjelaskan semuanya Livy pun ijin pamit ke kamarnya, setibanya Livy segera menggunakan teleportasi untuk kembali ke kerajaan Crastine. Dia hanya berharap jika Juan tidak mencarinya.
...
Sring
Livy muncul di kamarnya namun disana ada seorang pria sedang duduk di kursi, oh ya kursi diabad ini sudah seempuk sofa dia zaman modern.
"Dari mana kamu" tanya suara bariton pria, suaranya terkesan dingin dan penuh amarah. Livy berbalik dan dilihatnya Juan sedang menatapnya dingin. Tanpa sadar Livy meneguk salivarnya, entah kenapa dia merasa seperti istri yang ketahuan pulang malam.
Livy mencoba menetralkan rasa gugupnya, 'tunggu kenapa aku harus takut, lagipula Juan bukan kekasih atau tunangan ku, jadi dia tidak perlu ikut campur urusan ku' batin Livy, dia memasang ekspresi wajah datar.
"Bukan urusan mu" jawab Livy tidak kalah dingin, kenapa dia harus merasa bersalah lagipula Juan tidak memiliki hubungan khusus dengan nya. Namun bukan berarti dia mengharapkan hubungan khusus.
"Heh...aku disini gelagapan mencari mu, namun kamu dengan mudahnya mengatakan bukan urusan mu" ucap Juan dengan penuh penekanan, dia marah sebab Livy pergi tanpa pamit. Dia sudah seperti orang gila mencari Livy kesana kemari namun tidak juga menemukan nya.
"Kenapa kamu kesal, aku bukan anak kecil juga kita tidak sedekat itu hingga kamu harus ikut campur urusan ku" jawab Livy datar, entah kenapa dia kesal akan perkataan Juan. Bahkan jika dia pergi itu juga bukan urusan Juan, lagipula Juan bukan siapa-siapa dirinya.
...
Thanks for Readers
Maaf jika ada Typo atau kesalahan pemilihan kata. Maaf juga kalau up nya kesorean, so tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.
__ADS_1
See you
next eps...