Mengubah Takdir Malang Antagonis

Mengubah Takdir Malang Antagonis
Eps 39


__ADS_3

Livy pun memutuskan untuk tidur, dia tidak ingin memikirkan hal itu lagi. Entah kenapa dia sedikit menyesal karena telah mengenal Juan, karena semenjak ia bertemu dengan Juan ia selalu berperilaku tidak seperti dirinya.


Livy selalu melupakan tujuan utama nya saat berdekatan dengan Juan, namun disisi lain dia tidak ingin berpisah dengan Juan. Apa arti dari perasaan ini?


"Aku tidak ingin mengerti" gumam Livy pelan. Tak lama kemudian Livy pun tertidur dan masuk kedalam dunia mimpi nya.


...


Malamnya, Dalin datang kekamar Livy dan membangun kan Livy dari dunia mimpi.


"Nona, Duke menunggu Anda dimeja makan" ucap dalin seraya menggoyangkan tubuh Livy.


"Hmm..." Livy menggerakkan tubuhnya karena ia merasa terganggu dengan goncangan yang ditimbulkan oleh Dalin.


"Sebentar lagi" lirih Livy kemudian berbalik dan membelakangi Dalin.


"Nona, jika Anda tidak datang Duke pasti akan kesini" jelas Dalin dengan nada menggurui ia berharap nonanya untuk segera bangun dan bersiap.


Dan harapan Dalin terkabul, Livy segera mendudukkan dirinya dan membuka matanya lebar-lebar.


"Dalin..."


"Ini adalah air untuk anda mencuci muka" sela Dalin tidak sabar, hal itu karena Duke telah cukup lama menunggu jadi dia harus sedikit mendesak nonanya agar bersiap lebih cepat.


"Cerewet" cibir Livy sebal, dia kesal karena dalin memotong perkataan nya, yah walau jawaban Dalin sesuai dengan pertanyaan yang akan dia ajukan.


Livy membasuh wajahnya agar lebih segar dan cerah, bagaimana pun dia masih mengantuk dan kelelahan itulah sebabnya harus ada rangsangan dari luar untuk membuat dirinya kembali sadar dan bagi Livy itu tentunya air dingin.


Setelah selesai Dalin pun membantu Livy kembali menata rambut dan riasannya, setelah itu Livy melangkah pergi menuju ruang makan dengan diiringi oleh Dalin.

__ADS_1


...


Setibanya Livy langsung mendudukkan dirinya di kursinya, seperti biasa Isgrid bertanya hal-hal kecil pada Livy, seperti menanyakan kabar dan lainnya.


Selesai makan Duke mulai pembicaraan, hal itu juga telah ditunggu oleh Livy.


"Livy, yang mulia Raja mengundang mu ke pesta ulang tahunnya, apa kamu ingin datang?" tanya Duke dengan wajah datar


"Apa boleh aku tidak datang?" jawab Livy dengan pertanyaan, Livy ingin menegaskan jika dia terpaksa harus datang karena ini adalah undangan dari Raja sendiri.


"Tentu saja boleh, seperti sebelumnya bahkan meski kau tidak diundang tidak ada yang bisa melarang mu untuk datang." Jawab Duke dengan wajah datar namun sorotan matanya tersirat kelembutan dan memanjakan.


Tubuh Livy bergidik seketika, entah kenapa dia merasa merinding saat mendengar perkataan Duke yang seolah-olah akan mengabulkan apapun yang diminta oleh Livyana.


"Meski begitu, aku tidak ingin mempermalukan nama keluarga Reichburgh" ucap Livy sambil tersenyum anggun.


"Terserah padamu, tapi ayah akan selalu mendukungmu" Duke menghela nafas, mendengar dari pertanyaan Livy sebelum nya sudah pasti dia tidak ingin pergi tapi karena yang mengundang adalah raja sendiri akan buruk jika livyana tidak datang.


rasa setia nya pada kerajaan, bahkan demi putrinya dia rela menentang semua orang.


"Terima kasih ayah" ucap Livy seraya tersenyum manis, Livy cukup senang dengan perhatian yang diberikan oleh Duke.


'Kenapa livyana tidak bisa melihat kasih sayang dari keluarga nya' batin Livy bingung, perhatian Duke terlihat sangat jelas lalu kenapa Livyana tidak bisa merasakannya dan terus mengejar cinta dari Afgaren.


'Livyana pasti terlalu bodoh untuk menyadari nya' ucap Livy didalam hatinya sambil mengangguk-angguk kan kepala nya.


"Kalau begitu selamat malam ayah, kakak" Livy berdiri dari duduknya dan melangkah pergi, sungguh hari yang panjang bagi Livy karena dia terlalu banyak berfikir hari ini.


...

__ADS_1


Setibanya dikamar dengan batuan Dalin Livy mengganti pakaian nya menjadi piyama kemudian melanjutkan tidurnya yang tertunda sebelumnya.


Drit...drit...drit


Suara telepon mengganggu tidur Livy membuatnya bangun dengan kesal, ia mengambil telepon dari Light room nya.


"Kenapa" tanya Livy dengan nada dingin, tidak kah orang ini tau jika hari sudah malam dan waktu nya tidur.


(Ah, Apa ini Lux sebenarnya aku ingin memberi tahu besok tapi karena ini cukup mendesak jadi harus memberitahu sekarang) jelas Ron terburu-buru, dia tau jika Lux tidak suka karena dia menelepon nya malam-malam.


Livy menaikkan alisnya, setelah mendengar penjelasan Ron.


"Katakan" ucap Livy datar


(Jadi...) Ron menjelaskan semua hasil penyelidikan nya kepada Lux/Livy, Sebelumnya Livy meminta Ron untuk menyelidiki pergerakan dari Paman Afgaren yaitu Helras.


Livy tersenyum smirk setelah mendengar penjelasan dari Ron, dia sebelumnya telah menyusun rencana untuk memancing Helras namun dia sendiri yang membukakan jalan untuk Livy.


"Ya sudah kalau begitu" Livy pun mematikan telepon tanpa menunggu tanggapan dari Ron, kemudian dia melemparkan telepon ke Light room dan kembali menidurkan dirinya di atas kasur.


"Setelah semua hal membosankan ini, akhirnya kesenangan semakin dekat, sudah sangat lama aku tidak melakukan nya" gumam Livy seraya menutup matanya, dia tidak sabar menunggu hari itu tiba.


...


Thanks for Readers


Maaf Jika ada Typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.


See you

__ADS_1


Next eps...


__ADS_2