
Setelah selesai bersiap livy melangkah pergi menuju gerbang mansionnya, di sana terlihat kereta kuda biasa tanpa lambang keluarga, livy tidak ingin menarik perhatian jadi dia akan keluar hanya bersama dalin dan sarmael saja.
Sarmael mengulurkan tangannya untuk membantu Livy menaiki kereta, meski livy merasa risih namun ia tetap menerima uluran tangan dari sarmael karena tidak terbiasa memakai gaun yang panjang melebihi lutut.
'Lebih praktis pakaian pria' batin livy dengan wajah muram. Jika saja bukan karena Sarmael terus melekat padanya sejak penculikan itu, livy pasti akan pergi dengan terlportasi dengan begitu dia bisa menyamar dan mengenakan pakaian bebas.
Livy menghela nafas kemudian mengalihkan pandangannya ke jendela kereta. Kereta pun bergerak maju menuju ibukota.
...
Setibanya di Alun-alun Livy turun dari kereta, ia bisa melihat keramaian. Entah sejak kapan livy tidak lagi menganggap orang lain sebagai boneka hidup. Livy memandang kerumunan orang berlalu lalang dengan mata yang bersinar cerah.
"Dalin apa kau tau di mana aku bisa mendapatkan buku tetang mana dan sihir" tanya livy yang masih menatap sekitar dengan wajah cerah.
Dalin hanya menggeleng saat melihat perilaku nonanya yang kekanakan, padahal biasanya sifat nonanya sangat anggun dan berwibawa.
"Saya akan mengantar anda" balas dalin seraya menuntun jalan, Livy mengukuti dalin dengan patuh namun matanya terus melihat sekitar.
"Ugh...Akan bagus jika bisa belanja dulu" gumam livy dengan wajah muram, Livy kesal karena tidak bisa berbelanja, itu karena ia harus menyelesaikan masalah yang lebih penting dulu.
Livy menunduk sedih lalu melirik sarmael yang berjalan dibelakangnya, jarak mereka hanya 3 langkah setiap saat, bahkan saat livy sedang tidur, sarmael juga ikut menjaga di dekat livy.
'Ck menyebalkan' batin livy kesal
'Aku harus menyingkirkan orang itu' batin livy sambil menatap sarmael dengan tajam, sedangkan yang ditatap hanya acuh tak acuh meski dia tau jika sedang di tatap.
__ADS_1
Livy yang melihat wajah acuh tak acuh sarmael jadi tambah kesal, muncul perempatan di dahinya.
"Hmph" livy tersenyum smirk karena telah memiliki ide untuk menyingkirkan sarmael, walau tidak bisa sepenuhnya, tapi setidaknya sarmael tidak akan terus menempel sejarak 3 langkah pada dirinya.
...
Dalin mengehentikan langkahnya pada sebuah bangunan yang besar dan unik, hal itu bisa dilihat dari ukiran di bangunan yang unik dan indah. Livy bahkan sampai terpesona dengan ukiran itu.
Kriet
Kring
Dalin membukakan pintu toko itu hingga membuat livy tambah terpesona, buku-buku disusun rapi di dinding. Rak nya bahkan sampai ke langit-langit.
Kursi dan meja tersusun rapi di tengah-tengah rak buku, tempat ini mirip dengan perpustakaan istana dan duchy. Di bangunan ini livy juga merasakan alat pengekang sihir, sehingga sihir tidak akan bisa digunakan di dalam bangunan ini.
Yah livy bisa menebak tujuan alat sihir itu melihat dari banyaknya buku disini yang bahkan melebihi perpustakaan di mansion nya.
"Ini indah sekali" ucap livy dengan senyum manis, meski ia tidak terlalu suka buku tentang sejarah dan lainnya, tapi saat ini dia ada didunia yang berbeda karena itu pengetahuan nya tentang dunia ini masih sangat minim. Bisa dibilang livy seperti anak kecil yang belum tau dunia luar.
"Dalin pulanglah dan jemput aku sore nanti, aku ingin menghabiskan waktu di perpustakaan ini lebih lama." jelas livy sambil tersenyum cerah.
"Baik nona" dalin kembali kekereta, sedangkan sarmael tetap tinggal menjaga Livy.
"Tetaplah disini Sir, aku ingin membaca dengan tenang. Jika mau kau bisa menunggu di tempat lain" ucap livy datar lalu melangkah masuk.
__ADS_1
Mata livy berbinar cerah entah kenapa jantungnya berdetak dengan cepat.
"Aku suka ini" gumam livy sambil tersenyum manis.
Sudah lama ia tidak bersemangat seperti ini, karena itu ia tidak ingin membuang waktu.
Jujur saja livy sudah sangat bosan dengan aktivitasnya yang begitu-begitu saja. Ia kesal karena terus melakukan rutinitas yang sama selama 3 bulan ini.
Meski ada beberapa kejadian tidak terduga dan diluar rencana hidup yang sudah dibuat livy. Namun livy menyukainya karena dengan begitu dia baru merasa bahwa dia hidup dan kehidupannya cukup berarti.
Tak banyak hal yang bisa membuat livy terpesona, namun kali ini ia sudah benar-benar terpesona dengan toko buku yang sederhana ini.Livy kemudian menuju meja penjaga tokoh.
"Permisi dimana aku bisa melihat buku tentang mana" tanya livy dengan anggun.
"Buku tentang hal itu ada di lantai ke dua" Jawab penjaga tokoh dengan penuh wibawa dan sopan sanrun.
...
Thanks for readers
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Maaf untuk lama updatenya. But, tetap nantikan kelanjutan cerita ku ya.
See you
Next eps...
__ADS_1