
Pelayan itu gemetar ketakutan, dia tidak menyangka jika Livy akan membalasnya. Meski marah dan kesal namun nyalinya menciut saat merasakan aura dingin Livy.
Livy sengaja menekan pelayan itu dengan auranya, untuk memberi pelajaran pada pelayan kurang ajar itu. Dia tidak peduli jika di cap jahat, karena sejak dulu dia sudah dikenal sombong dan arogan.
Livy pergi meninggalkan aula tanpa menghiraukan bisikan disekitarnya. Tidak masalah jika reputasinya jelek karena sudah begitu dari dulu. Malahan dia menyukai nya karena dengan begitu dia tidak perlu meladeni muka munafik bangsawan lain.
Livy pergi tanpa peduli dengan sekitar sehingga dia tidak menyadari jika ada yang mengikutinya.
Livy masuk kesalah satu kamar istirahat, untung saja dia menyimpan gaun cadangan di ruangnya sehingga dia tidak akan keluar dengan memalukan.
Livy berganti pakaian dengan cepat di ruang untuk jaga-jaga, setelah itu Livy bergegas meninggalkan ruang istirahat. Livy berjalan menelusuri lorong menuju aula pesta.
'Sangat aneh disini sangat sepi' batin Livy heran saat melihat sekeliling, dia merasa firasat buruk.
Wush
Empat bayangan hitam muncul menghadang Livy, mengernyitkan dahinya berkata dengan nada dingin "Apa yang kalian inginkan?" tanya Livy dengan tenang.
Mereka saling memandang lalu menyerang Livy, menghindari serangan pedang dari samping Livy berputar dan menendang tungkai pembunuh itu.
Livy merebut pedang yang jatuh lalu menangkis serangan dari depan. Lalu menebasnya dengan kuat hingga pembunuh itu tumbang. (Skip aja aku gak bisa gambarin pertarungan)
Livy menumbangkan mereka satu persatu murni dengan kemampuan berpedang nya, dia tidak ragu membunuh karena tidak ada gunanya menangkap mereka.
Terlebih tenaga fisiknya terbatas, akan lebih efesien jika langsung membunuh mereka sehingga dia tidak akan kerepotan melawan mereka.
Sebenarnya mustahil bisa menang tanpa menggunakan sihir namun karena mereka ceroboh dan mengira Livy tidak bisa melawan kalaupun iya mereka tidak menduga jika Livy tidak akan ragu membunuh.
__ADS_1
Livy menyeka darah diwajahnya kemudian mengarahkan pedang ke perutnya.
Jleb
Akan aneh jika dia tidak terluka sama sekali meski dia membela diri tidak baik jika tersebar kalau dia membunuh tanpa ampun dan tidak terluka itu hanya akan mengundang masalah yang tidak perlu, Livy menarik pedang itu tanpa mengringis kesakitan. Seolah-olah bukan dia yang tertusuk.
Tap tap tap
Derap langkah kaki menghampiri Livy.
"Livy" panggil pria itu dengan cemas, tanpa banyak bicara dia langsung menggendong tubuh Livy, Livy meringis karena sentakan.
"Yang mulia tidak baik jika orang lain melihat ini" Livy berkata dengan nada lemah bibirnya yang merah menjadi pucat karena kehilangan banyak darah.
"Siapa yang peduli dengan etiket, kamu sedang terluka tidak mungkin tunanganmu akan cemburu karena ini" kata afgaren dengan nada tajam tak ingin di bantah.
'Setidaknya Juan tidak akan salah paham, lagipula aku sudah terbiasa' batin Livy seraya memejamkan matanya, Livy merasa lelah kesadarannya secara bertahap menghilang.
...
Afgaren memerintahkan Luke membereskan mayat pembunuh yang melukai Livy, lalu dia memerintahkannya untuk memanggil dokter kemudian membawa Livy kekamar.
Afgaren melangkah dengan tergesa-gesa namun tidak menggunakan kekuatan agar Livy tidak merasakan guncangan. Diperjalanan dia bertemu dengan Lisgred.
"Yang mulia apa yang terjadi dengan Livy" tanya Lisgred dengan cemas, dia melihat Livy tidak sadarkan diri di gendongan afgaren dengan gaun penuh noda darah dan wajahnya seputih kertas.
"Tidak ada waktu menjelaskan, Livy terluka" jwab afgaren dengan dingin lalu meninggalkan Lisgred.
__ADS_1
Lisgred tidak bertanya dan mengikuti Afgaren, dia tidak bisa meninggalkan Livy dan afgaren sendirian.
Tak lama kemudian dokter datang, dia memeriksa Livy dan mengobatinya dengan sihir air Penyembuhan. Meski tidak seefektif sihir cahaya namun masih cukup untuk menutup luka.
"Bagaimana?" tanya afgaren dengan cemas. Dokter itu membungkuk "Nona baik-baik saja sekarang, hanya perlu minum obat dan istirahat yang cukup, saya saran kan untuk tidak banyak bergerak agar lukanya tidak terbuka lagi" jelasnya.
Afgaren mengangguk lalu menyuruh dokter itu pergi.
Lisgred menghela nafas lega mendengar jika Livy baik-baik saja. "Yang mulia bisakah anda memberitahu saya bagaimana adik saya bisa terluka"
Afgaren menyeringitkan dahinya "Aku tidak tahu saat aku tiba Livy terluka dengan mayat pembunuh di sampingnya" jelas nya dengan singkat, kalau Lisgred bukan kakak Livy dia tidak akan membuang nafas untuk bicara dengannya.
Lisgred mengangguk dia mengerti situasi, meski sudah menebaknya dia masih ingin memastikan saja, mungkin saja Livy terluka karena terseret oleh afgaren tapi ternyata pembunuh itu memang mengincar Livy.
'Sepertinya aku harus menambah pengawalan untuk Livy' batin Lisgred dengan kesal dia juga tidak melihat pengawal pribadi Livy, setelah ini dia akan menghukum Sarmael yang lalai menjaga Livy.
...
Thanks for Reading
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Kalau lapar ide gak berjalan, novel baru nanti mau buat ceritanya sampai selesai baru rilis, pusing mikirin alurnya😓.
Tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya!
See you
next eps...
__ADS_1