
"Baiklah, Terima kasih" balas Livy dengan sopan, kemudian berlalu pergi.
Livy berjalan menelusuri rak buku pada lantai 2, matanya terus menelusuri buku-buku yang ada di rak.
"Kejahatan dan Kebaikan" gumam Livy saat melihat judul bukunya, Livy mencari tangga kemudian menaikinya, karena tempat buku itu cukup tinggi. Karena terlalu semangat ia sampai lupa untuk meletakkan dulu buku yang dipegangnya.
Livy mengulurkan tangannya untuk mengambil buku itu, namun nyatanya tangannya tidak sampai.
"Cih, akan bagus jika bisa menggunakan sihir" gerutunya dengan kesal, karena tangannya tidak bisa mencapai buku itu. Livy memutuskan untuk menaiki tangga sedikit lagi. Namun, saat akan melangkah Livy menginjak ujung roknya hingga dirinya kehilangan keseimbangannya.
"Aaaah"
Gleb...
Livy sudah menutup mata dan bersiap merasakan sakit, namun setelah beberapa saat ia tidak kunjung jatuh. Merasa aneh Livy pun membuka matanya.
"Anda tidak apa lady" tanya seorang pria tampan dengan rambut perak dan mata putih keperakan. Livy mengusap matanya, ia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Ia belum pernah melihat orang dengan warna rambut dan mata yang sama. Terlebih lagi terlihat sangat cantik, sampai membuat Livy terpesona.
Note:
Umumnya di dunia tempat Livy berada semua orang akan memiliki warna rambut dan mata yang berbeda. Sangat berbeda dengan dunia Livy sebelumnya, yang mana orang dengan warna rambut dan mata yang sama itu sangat umum.
"Lady" panggil pria itu, Livy tersentak dari lamunannya.
"Ah maaf dan terima kasih" ucap Livy dengan sopan, pria itu kemudian menurunkan Livy lalu tersenyum.
"Sebaiknya lain kali anda meminta bantuan penjaga toko untuk mengambil buku" jelasnya sambil memungut buku yang tadi dipegang Livy.
"Ah maaf merepotkan" ucap Livy sambil ikut memungut buku dilantai.
"Ngomong-ngomong buku apa yang sedang Anda ambil tadi" tanyanya sambil mengerahkan buku ke Livy. Livy menerima buku itu dan menjawab pertanyaan pria itu.
"Buku dengan judul kejahatan dan Kebaikan pada baris ke 7" jelas Livy sambil menunjuk buku itu.
__ADS_1
"Mau ku bantu" Livy hanya mengangguk dan tersenyum lembut. Ia kemudian menaiki tangga untuk mengambil buku untuk Livy
"ini" ucapnya seraya tersenyum.
"Terima kasih" balas Livy sambil tersenyum
...
Livy meletakkan buku di meja lalu duduk di kursi, pria tadi pun ikut duduk di samping Livy.
"Boleh"tanyanya meminta persetujuan, Livy melirik lalu mengangguk tanda setuju kemudian lanjut mulai membaca buku dengan serius.
"Untuk apa kamu membaca buku tentang kualitas mana, bukankah itu adalah pengetahuan dasar" ucapnya dengan penasaran. Livy melirik sebentar tapi lalu lanjut membaca.
"Lady" panggilnya lagi karena merasa dihiraukan.
"Livy" ucap Livy dengan acuh namun lembut.
"Eh"
"Itu namaku, berhenti memanggil lady itu membuat ku risih" ucap Livy dengan nada datar.
...
Livy terkejut namun juga sebal, dia tau alasan kenapa pria didepannya mengumumkan nama dengan diakhiri identitas Livy.
'Dia sengaja, cuma agar aku memperhatikan nya sungguh kekanakan' batin Livy sambil menatap Reim dengan tatapan membara.
"Jangan menatapku seperti itu! Aku tidak berniat buruk, itu karena rambut dan mata mu yang mencolok, lalu disini memiliki alat sihir yang menonaktifkan semua sihir. Jadi..."
"Aku tau! hmph..." Livy mengalihkan pandangan dengan sebal sambil memasang wajah muram.
"Sungguh, aku disini karena kebetulan" ucap Reim dengan wajah memelas.Livy melirik Reim kemudian mencubit kedua pipi nya.
'Curang, kenapa wajahnya lebih cantik dariku' batin Livy masih mencubit pipi Reim.
__ADS_1
"Um...Livy lepaskan, ini sakit" ucap Reim dengan wajah memohon.
Jleb....
Livy melepaskan tangan nya lalu mengalihkan pandangannya. Livy tidak ingin Reim melihat wajahnya yang bersemu merah.
"Uhem...Jadi siapa identitas mu" ucap Livy sambil berusaha menetralkan ekspresi wajahnya.
"Aku, aku adalah kepala menara sihir, yang berarti aku adalah pemimpin menara sihir dan atasan kakak mu" ucapnya dengan nada bangga.
"Oh" gumam Livy acuh
"Karena itu dari pada membaca buku tebal ini lebih baik kau bertanya pada ku saja jika seputar sihir aku lah ahlinya" seru Reim dengan wajah yang menyebalkan.
Sudut bibir Livy berkedut, dia berusaha untuk tetap bersikap ramah didepan Reim. Namun karena ucapan Reim ada benarnya ia tidak jadi memukul wajah menyebalkan Reim.
"Aku ingin tau apa kualitas manaku akan menurun jika aku membunuh orang yang membunuhku" ucap Livy dengan santai
"Uhuk...apa kata mu!" ucap Reim sedikit terkejut.
"Belum lama ini aku membunuh orang yang berniat membunuhku, terlebih lagi aku merasa senang saat membunuhnya. Tapi saat aku mengecek kualitas manaku ternyata tetap sama dan tidak turun" jelas Livy dengan bingung.
"Pufft...hahahahahaha" Reim tertawa keras hingga membuat mereka menjadi pusat perhatian hingga Livy kesal apalagi dia menertawakan dirinya.
bugh...
Livy memukul kepala Reim hingga membuatnya diam.
"Maaf atas keributannya" ucap Livy dengan wajah sendu.
...
Thanks for Readers
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan cerita ku ya.
__ADS_1
See you
Next eps...