
Pagi menyingsing semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Banyak orang menantikan hari ini.
Pagi sekali dalin telah menyeret Livy bersiap untuk acara pertunangan nanti malam. Livy mengerucutkan bibirnya tidak puas, dia kesal karena perlu bersiap dari pagi untuk acara nanti malam.
Orang zaman dulu sangat merepotkan, mereka harus mulai berdandan dari pagi buta saat akan pergi ke pesta penting.
"Dalin bisakah dipercepat! Lagipula aku sudah cantik jadi tidak perlu terlalu heboh" ucap Livy dengan nada kesal. Dia tidak narsis karena itu adalah kenyataan.
"Saya sudah mempercepatnya nona" jawab dalin dengan senyum tipis diwajahnya. Dia tidak takut pada Livy karena dia tahu jika nona nya tidak menakutkan, tapi dia menghormati nya.
"Anda sering membaca buku saat bosan" Dalin menyerahkan buku novel pada Livy karena dia tahu jika nona nya sedang bosan.
Livy mengambil novel itu dengan wajah masam, tapi dia tidak ada pilihan. Meski tidak suka novel namun itu lebih baik dari buku pelajaran baik itu sejarah, politik atau lainnya karena dia sudah cukup belajar di dunianya dulu.
Livy membiarkan dalin melakukan perawatan sementara dia mencoba membaca novel yang menurutnya tidak berguna. Tapi itu masih lebih baik karena saat membaca novel dia tidak perlu berfikir keras.
...
Di sisi Juan dia sangat bersemangat karena hari ini Livy akan resmi menjadi tunangannya, meski mereka sudah bertunangan di Kerajaan Crastine namun karena jadwal yang mendesak hanya sedikit orang yang mengetahuinya.
Karena masih pagi Juan masih mengurus beberapa pekerjaan sehingga dia akan bebas bersama Livy nanti malam. Juga karena mungkin nanti malam akan ada masalah yang muncul sehingga dia mengatur penjagaan yang cukup ketat.
Juan menghela nafas, dia tahu jika kehilangan ingatan pada Livy bukan sebuah kecelakaan biasa. Dia juga yakin jika Livy pasti juga tahu hal itu, bagaimanapun Livy sangat cerdas.
__ADS_1
Dia tidak bisa tahu rencana apa yang sedang dilakukan Livy. Livy juga terkadang terlihat begitu jauh sehingga dia kesulitan menggapainya.
Meski dia menggenggam tangan nya namun dia masih merasa seolah ada jarak diantara mereka, itulah sebabnya Juan tidak berani mengenggam nya erat. Dia takut jika Livy akan meninggalkan nya.
Tapi tidak masalah dia akan membuat Livy dengan sukarela tinggal dan mau membuka hatinya. Dan untuk itu dia tidak bisa terburu-buru, tidak peduli apa yang dilakukan Livy, selama dia yang akan dipilih Livy pada akhirnya, maka semuanya akan baik-baik saja.
...
Di tempat Afgaren dia masih disibukkan dengan tumpukan dokumen di mejanya. Suasana hatinya sedikit buruk, dia kesal karena Livyana gadis yang tergila-gila padanya akan bertunangan dengan orang lain hari ini.
Afgaren juga tidak mengerti kenapa dia kesal, padahal dulu dia sangat risih saat Livyana begitu lengket padanya. Hari itu saat Duke ingin memutuskan pertunangan mereka dia langsung menyetujuinya.
Karena selain dia risih dengan Livyana, dia juga tertarik pada seseorang waktu itu. Jadi tanpa pikir panjang dia langsung menyetujuinya.
Entah ada angin apa dia melangkahkan kakinya mendekati Livy, dia juga mengikuti Livy yang terpisah dari kakaknya karena kerumunan.
Saat Livy hampir diserang monster dia langsung berlari dan menebas monster itu, ada sedikit kepanikan dimatanya. Dia juga tidak tahu mengapa dia melakukan hal itu.
Awalnya dia mengira Livy pasti akan menggunakan hal itu untuk memeluknya dan pura-pura ketakutan, bersikap manja dan lengket yang akan membuatnya risih.
Namun ekspetasi tidak sesuai dengan kenyataan, Livy bukan hanya tidak memeluknya namun dia menatapnya seperti orang asing.
Hatinya berdesir ketika Livy menatapnya seperti orang asing yang baru pertama bertemu. Pada awalnya dia menghibur dirinya sendiri jika ini pasti cara Livy untuk menarik perhatiannya.
__ADS_1
Lalu di pertemuan selanjutnya Livy semakin menarik perhatiannya, dia juga tahu jika Livy kehilangan ingatannya. Mungkin itu sebabnya Duke terburu-buru membatalkan pertunangan mereka karena dia juga tahu jika Duke sangat tidak menyukai pertunangan mereka.
Setelah itu dia kembali bertemu Livy saat acara ulang tahunnya, malam itu dia sedikit menantikan reaksi Livy saat tahu jika dia adalah Raja dan juga mantan tunangannya.
Namun saat melihat Livy datang bersama pria lain hatinya masam, dia kesal karena secepat itu Livy melupakannya walau Livy kehilangan ingatannya.
Dia juga kesal karena mereka sekarang tidak lagi memiliki hubungan, seandainya dia bertemu dengan Livy sebelum pengajuan pembatalan pertunangan mereka, dia pasti tidak akan menyetujuinya dengan mudah.
Namun nasi sudah menjadi bubur jadi Afgaren dengan berat hati untuk mengumumkan pembatalan pertunangan mereka, terkadang dia merasa jika Duke sengaja menyembunyikan putrinya agar pembatalan pertunangan mereka berjalan lancar.
Tentu tebakan Afgaren benar, lebih tepatnya Livy sengaja tidak pergi keluar hingga surat pembatalan pertunangan mereka disetujui Afgaren. Hal itu untuk jaga-jaga jika terjadi plot twist seperti di novel yang dia baca.
Lagipula Livy kesulitan bersikap seperti Livyana, juga dia tidak mengenal bagaimana rupa Afgaren, dia tidak ingin rencananya gagal karena Afgaren tertarik pada perubahan sifatnya.
...
Thanks for Reading
Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Tetap nantikan kelanjutan dari cerita ku ya!.
See you
Next eps...
__ADS_1