
Livy menghela nafas sambil memandang jendela kamarnya. Dia bosan sudah seminggu dia dilarang keluar. Seminggu ini juga banyak yang terjadi, tiga hari lalu Afgaren menjemput utusan dari Kerajaan tetangga. padahal sebagai Raja dia tidak perlu menjemput langsung. Pada akhirnya kakaknya Isgrid yang mengawal Afgaren.
Tentu saja sesuai dugaan itu adalah jebakan, Afgaren ingin menurun kan status ayahnya sedikit demi sedikit tapi tentu saja dia tidak akan diam saja. Livy sengaja membocorkan rencana keberangkatan Afgaren pada Helras kemudian membocorkan mata-mata Helras pada ayahnya sehingga ayahnya bisa bersiap-siap.
Pada akhirnya ketiganya bentrok dan Isgrid terluka demi melindungi Afgaren. Dan karena itu rencana Afgaren gagal dan Helras juga gagal memecah belah keduanya. Meski hasilnya sesuai seperti yang diinginkan tapi prosesnya tidak memuaskan. Dia tidak tahu kalau Afgaren akan sengaja membiarkan dirinya terluka agar tanggung jawab berada di pihak kakaknya. Bagaimanapun sebagai kesatria pengawal Raja, Isgrid bertanggung jawab menjaga keselamatan Afgaren.
"Menyebalkan" gumam Livy dengan kesal. Livy menyeruput teh susu dengan anggun, memang kalau tidak melihat langsung maka tidak akan sesuai keinginan nya tapi dia sudah berjanji untuk tidak menyelinap keluar.
Untung saja besok dia sudah boleh keluar, tentu saja dia memerlukan dua hari untuk membujuk ayah dan kakaknya. Tentu Juan tidak termasuk karena dia saat ini sibuk dengan urusan negara nya.
"Dalin siap kan gaun sederhana untuk besok" ucap Livy sambil meletakkan cangkir tehnya.
"Baik nona" Dalin membungkuk lalu pergi.
...
Besok paginya Livy sudah bersiap-siap pergi ke pusat kota, rencananya dia akan mengunjungi Reim ada sesuatu yang harus dia pastikan.
Setibanya Livy tidak menemukan Reim tapi dia yakin kalau Reim pasti tahu kalau dia datang. Lagipula yang lain adalah ketua menara sihir
Livy menyuruh Dalin menunggu di kereta, setelah itu dia mencari tempat duduk di sudut dan membaca buku cerita atau lebih tepatnya dongeng.
__ADS_1
Satu jam kemudian suara langkah kaki terdengar.
"Apa aku menganggumu?" Livy mendongak dia bisa melihat Reim yang tersenyum lembut padanya.
"Kamu terlalu lama kak" balas Livy dengan sedikit masam, "Lihat aku sudah membaca untuk yang kedua kalinya" Lanjut Livy sambil mencibir.
Reim tersenyum lalu duduk di seberang Livy. "Maaf, ada sedikit masalah di menara sihir" Reim meletakkan kotak di depan Livy "Sebagai gantinya aku membelikanmu kue"
"Huh... kali ini kumaafkan" Livy memakan kue itu dengan gembira. Selesai makan Livy mengajak Reim untuk berbicara, Reim memegang tangan Livy lalu seketika mereka tiba di menara sihir.
"Aku iri karena kakak bisa teleport tanpa sihir" gumam Livy dengan masam. Reim menepuk kepala Livy lalu mengusapnya. "Baiklah jangan cemberut, ini adalah skil warisan darah, kakak pikir kamu mungkin juga punya skil"
"Bagaimana mungkin aku tidak tahu kalau aku juga punya" bantah Livy
"Sudahlah aku ingin bertanya serius, apa kakak tahu orang yang sama seperti kita" tanya Livy sabil memasang wajah serius.
"Tentu ada, tapi mereka datang dari tempat yang berbeda. Namun kamu jangan khawatir sejauh ini tidak ada kasus di mana mereka mengambil tubuh orang lain tapi mereka benar-benar terlahir dengan tubuh itu"
Livy memikirkan nya, dia merasa reinkarnasi nya terlalu aneh, sebagai orang yang percaya pada sains Livy bahkan tidak percaya pada hantu apalagi kejadian magis seperti reinkarnasi. Namun karena dia mengalaminya sendiri jadi Livy mau tidak mau percaya.
"Jadi apa rencanamu untuk kedepannya" tanya Reim, Livy membeku sebentar lalu kembali rileks. "Tidak ada, karena aku sudah menggabungkan jiwa dengan 'Livyana' maka hanya perlu melanjutkan hidup dengan bahagia. Permintaan nya tidak terlalu sulit"
__ADS_1
Livy tersenyum pada Reim kemudian menghela nafas "Aku akan bermain sedikit meski sedikit merepotkan" jelas Livy dengan senyum penuh penantian.
Reim bisa melihat kegilaan di mata Livy namun dia tidak ingin menghentikannya, menurut nya Livy sakit. Dia menginginkan cinta tapi juga tidak percaya pada cinta baik dalam bentuk apapun.
Dia menyadarinya saat melihat livy yang menjadikan dirinya korban agar lebih di perhatikan Livy bahkan tidak segan-segan mengorbankan segalanya. Tapi Reim sudah terlanjur menyayangi Livy jadi bahkan meski Livy sakit dia terus memanjakan nya.
Dia tahu kalau dia salah karena Livy semakin jadi dan bahkan tidak peduli dengan nyawanya sendiri. Saat itu dia mengambil keputusan untuk menghentikan Livy meski sudah terlambat. Dia mendorong Livy yang berdiri di tengah jalan saat itu lalu meninggal menggantikan nya.
Meski tahu hal itu mungkin meninggalkan luka pada Livy tapi dia tidak menyesalinya, dia tidak bisa membiarkan Livy mengorbankan nyawanya hanya demi kesenangan.
...
Thanks for Reading
Maaf jika ada typo atau kesalahan dalam pemilihan kata.
Menurutku membuat cerita itu sangat sulit selain harus berpengetahuan juga harus memiliki motivasi. Aku buat novel cuma karena iseng tapi aku sangat suka baca novel. Sangat sulit bagi waktu di dunia nyata ternyata 24 jam itu sangat singkat
Tetap nantikan kelanjutan dari cerita ku ya.
See you
__ADS_1
Next eps...
...