Mengubah Takdir Malang Antagonis

Mengubah Takdir Malang Antagonis
Eps 84


__ADS_3

Makan malam berlangsung dalam ketenangan. Saat menu penutup dihidangkan livy mulai membuka pembicaraan.


"Ayah apa kita akan mengadakan pesta pertunangan lagi di tempat kakek" tanya livy sambil memiringkan wajahnya. Duke melirik livy lalu tersenyum tipis.


"Iya, kakekmu tidak pernah menyukai kerajaan Trianty itu karena Raja sebelumnya adalah penyebab nenek dan bibi mu meninggal" jawab duke dengan nada datar.


Livy mengerutkan alisnya, dia tidak pernah mengetahui tentang hal itu. Baik di dalam memory Livyana ataupun dalam novel.


'Aku tau seharusnya tidak menggunakan buku itu sebagai acuan' batin livy seraya menghela nafas, itu karena sebagian besar cerita novel hanya menceritakan tentang afgaren yang mengunci Ayala di istananya.


Bahkan awal dan akhir cerita hanya dijelaskan secara singkat, meski penjelasan tentang Livyana sang antagonis cukup panjang. Hal ini juga lah yang membuat livy membenci novel ini.


"Oh ya, ayah bukankah pertunangannya terlalu cepat, awalnya kukira persiapannya akan lama jadi aku pikir acaranya baru akan diselenggarakan bulan depan" jelas livy dengan maksud untuk mengundur pertunangan.


"Apa kau sudah menebar undangan, kalau begitu kita undur hingga bulan depan" duke cukup mengerti maksud dari putrinya dan dia akan selalu menuruti permintaan putrinya.


"Terima kasih ayah" ucap livy sambil tersenyum manis


Sudut bibir juan berkedut, entah dia pun tidak tau bagaimana bisa tiba-tiba acara pertunangan mereka di tunda, bukankah tadi masih membahas tentang keluarga dari ibu Livy.


'Livy kamu sangat cerdik dalam menyusun kata-kata' batin juan sambil tersenyum tipis, yah dia tidak mempermasalahkan hal ini karena mereka telah mengadakan acara pertunangan sebelumnya.


...


Setelah makan malam, Livy kembali kekamarnya untuk beristirahat, sebelumnya dia ingin mengecek kualitas mananya tapi karena juan terus mengikuti nya jadi dia tidak ada waktu untuk itu.

__ADS_1


Livy mengambil bola kristal pengecekan kualitas mana, lalu meletakkan tangannya dan mengalirkan mananya pada bola krintal.


Bola itu berubah bercahaya terang, yang mrnandakan jika kualitas mana livy masih sama yaitu light.


"Hah"


Livy memiringkan kepalanya karena bingung, livy yakin jika dia menjadi orang yang kejam, jadi dia pikir kualitas mananya akan menurun hingga ke dark.


"Bohongkan?"


Livy kembali menyimpan bola kristal itu kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasur, ia tidak tau apa yang terjadi tapi sepertinya livy tidak tau kebaikan dan kejahatan di dunia ini.


"Aku lupa jika ini adalah dunia lain, jadi tidak bisa memakai rasionalisme dari dunia ku dulu" gumam livy sambil menutup mata dengan lengannya.


"Hoamm" Karena hari sudah malam jadi livy menunda pertanyaannya, lagipula untuk tahu jawabannya livy harus pergi keperpustakaan atau bertanya langsung dengan orang lain.


...


Ke esokan paginya seperti biasa livy melakukan kegiatan sehari-hari, setelah belajar sihir, livy berencana pergi keluar atau lebih tepatnya mencari informasi tentang standar kebaikan dan kejahatan di dunia ini.


Dan kebetulan hari ini juan memiliki kesibukan sendiri sehingga dia harus kembali ke kerajaannya. Entah kenapa livy merasa cukup beruntung karena ia tidak perlu susah-susah mencari alasan untuk lari dari pengawasan juan.


"Dalin siapkan gaun yang sederhana yang nyaman saat dipakai, aku ingin keluar dan membeli sesuatu" ucap livy sedikit acuh.


"Baik nona, apa nona akan pergi bersama Tuan Pouster" ucap dalin pada livy yang tengah duduk di kursi sambil membaca novel.

__ADS_1


"Ayah akan marah jika aku pergi tanpa kesatria pelindung"jelas livy singkat, namun dalin sangat tau maksudnya.


"Nona tenang saja, saya akan mengalihkan perhatian beliau agar nona bisa bergerak bebas" ucap dalin sambil membusungkan dadanya.


'sebenarnya dari mana datangnya sikap percaya dirinya yang tinggi itu' batin livy sambil memutar matanya jengah. Yah walau livy sendiri tau jika dalin terlalu tertular sikapnya.


"Jangan kecewakan aku dalin" ucap livy acuh dan kembali membaca novel yang dia baca. Sebenarnya Livy ingin berkata jika kepercayaan diri dalin terlalu tinggi, namun dia tidak tega setelah melihat wajah memelas dalin.


'Sepertinya juan yang mengajarinya' batin livy saat melirik dalin yang tengah menyiapkan pakaiannya.


"Nona ada 2 gaun yang cocok untuk keluar, anda ingin yang berwarna biru atau hijau" tanya dalin sambil menunjukkan kedua gaun itu pada livy.


"..." Livy menutup bukunya lalu melirik gaun yang sedang dipegang dalin, berfikir sejenak sebelum memutuskan memakai gaub warna hijau.


"Yang hijau lebih simpel" ucap livy lalu berdiri dan mulai berganti pakaian, tentu saja dengan di bantu oleh dalin.


"Dalin nanti minta izin sama ayah, dan panggil Sarmael untuk mengawalku" ucap livy dengan nada tegas.


"Baik nona" jawab dalin sambil tersenyum.


...


Thanks For Readers


Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata, tetap nantikan kelanjutan cerita ku ya.

__ADS_1


See you


Next eps...


__ADS_2