
Reim tersenyum cerah mendengar perkataan livy, dia mengeratkan pelukannya dan menghirup aroma tubuhnya yang membuat orang lain kecanduan.
Setelah beberapa saat dia kemudian melepaskan Livy dengan enggan. Livy juga merasa kesal dengan sifat Reim, namun dia tidak merasakan niat buruk darinya.
"Kupikir cukup untuk hari ini, aku takut mereka akan khawatir." Livy melirik Reim untuk mengetahui ekspresinya, lalu melanjutkan. "um... bisakah kakak mengantarku pulang".
Reim menghela nafas lalu berdiri, dia mengelus kepala livy dengan lembut sebelum meraih tangannya dan cahaya putih keemasan menyelimuti mereka.
...
Reim dan Livy pun menghilang dari ruangan itu.
Tempat berpindah, menunjukkan perpustakaan. Mereka muncul kembali di tempat semula. Livy melihat sekeliling, lalu mengangguk puas.
"Kupikir disini memang tidak bisa memakai sihir. Tapi ternyata masih bisa" sindir Livy, Reim hanya tersenyum tipis saat livy menyindirnya.
"Ini bukan sihir, tapi bakat bawaan. Apa kamu tau kenapa bisa begitu?" ucap Reim dengan nada arogan. Livy melirik Reim jengah, tapi masih tetap menggeleng.
"Kenapa?"
Reim memajukan kepalanya hingga Livy bisa merasakan nafas Reim di telinganya. "Itu adalah rahasia" ucap Reim langsung membuat Livy kesal.
"Itu tidak lucu, jika tidak ingin memberi tahu aku bisa mencari tahu sendiri" tegas livy dengan nada acuh.
"Itu sedikit sulit, ini adalah rahasia klan jadi tidak ada dalam catatan di manapun" kekeh Reim dengan pelan. Wajah Livy kembali masam saat mendengarnya, dia tau jika Reim sedang meledeknya kutu buku yang hanya bisa membaca buku.
"Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu" ucap livy dengan dingin. Kesabarannya sudah habis, Livy sebelumnya tidak pernah di buat hingga sekesal ini.
"Baiklah jangan marah, ini rahasia jadi untuk amannya akan baik jika kita membicarakannya di tempat yang pribadi" jelas Reim dengan lembut.
"Menara sihir adalah tempat teraman untuk membicarakannya. Tapi kita baru dari sana." Reim tersenyum penuh arti kemudian melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Datanglah nanti jika kau ingin tahu kebenarannya, jika tidak kau bisa hanya mengunjungi ku saja"
Livy tidak ingin berdebat lagi jadi dia hanya mengangguk patuh. Reim tersenyum saat melihatnya.
"Baiklah saat nya pulang, aku takut jika kamu berlama-lama disini, aku semakin sulit membiarkanmu pulang" ucap Reim masih dengan senyum diwajahnya.
...
Di kereta
Livy memandang jendela dengan melamun. Setelah Reim mengantar livy kembali ke perpustakaan, Livy segera pergi dari sana. Dia takut jika berlama-lama disana Reim akan berbuat usil kembali.
Srak...
Bugh
Livy tersentak dari lamunannya karena kereta yang berhenti tiba-tiba, meski kereta sudah dilapisi sihir untuk menghilangkan goncangan, tetap saja Livy masih terusik.
"Tidak perlu! Aku sangat bosan. Aku ingin melihat keluar" ucap Livy sambil tersenyum penuh arti, bagi orang lain mereka mungkin tidak paham dengan maksud Livy, namun Dalin sangat paham dengan keinginan nonanya.
"Baik nona" Dalin tidak mempertanyakan keputusan Livy, dia turun terlebih dahulu kemudian membantu Livy turun.
Setelah turun, Livy bisa melihat kerumunan warga yang berbisik-bisik di depan keretanya. Livy melangkah ke kerumunan karena penasaran.
"Ugh..."
Seorang gadis cantik dengam rambut pirang sepinggang mengenakan pakaian pelayan, rambutnya lurus, lembut dan indah. Mata hijau mudanya yang berkilauan memancarkan aura kepolosan.
Dia bisa di bilang seperti peri kecil lemah lembut, yang membuat orang lain ingin melindunginya. Tampilan polos gadis itu terkesan seerti bunga di rumah kaca yang rapuh dan dijaga dengan benar.
...
__ADS_1
Livy tersenyum miring saat melihat gadis itu, meskipun pada awalanya dia sedikit terkejut namun ekspresi Livy berubah dengan cepat.
'Tidak menyangka akan menemukan efek kupu-kupu seperti ini' batin Livy dengan tatapan penuh minat.
"Aya" Seorang berlari menghampiri gadis yang itu. Dia kemudian memeluknya dengsn erat.
"Aya kamu membuatku khawatir, bukankah tadi aku menyuruhmu menunggu didalam" Ucap gadis yang berlari pada gadis yang dipanggilnya Aya.
"Peni aku baik-baik saja, maaf membuatmu khawatir" ucap Aya dengan Lembut.
Livy melihat interaksi keduanya hanya menatapnya datar, sungguh plot yang di paksakan. Meski begitu Livy sedang bosan jadi dia ingin mengisi kebosanannya.
"Lady Asgrey saya tidak menyangka akan melihat anda disini" Livy melangkah mendekati mereka berdua sambil tersenyum, rasa jijik terlintas dimata Livy saat menatap Penilevy Yvilis de Asgrey dan Ayala Ecrisa Estafail.
"Lady Reichburgh, apakah anda yang menabrak Aya" ucap Penilevy dengan nada marah.
"Maaf sekali tentang itu, tapi itu bukan salahku" Livy tersenyum miring lalu melanjutkan perkataannya. "Saya tidak tau bagaimana tapi pelayanmu menghalangi jalan keretaku, jadi yah kusir kudaku tidak bisa menghentikan keretanya tepat waktu"
Livy tersenyum sarkastik kemudian mengulurkan tangannya pada Dalin, Dalin pun mengerti dan segera menyerahkan kantong uang pada Livy.
"Saya terburu-buru, jadi saya hanya bisa memberikan kompensasi dan permintaan maaf" ucap livy sambil menyerahkan kantong uang itu pada Ayala.
...
Thanks For Reading
Maaf jika ada typo atau kesaahan pemilihan kata, tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.
See You
Next Eps...
__ADS_1