Mengubah Takdir Malang Antagonis

Mengubah Takdir Malang Antagonis
Eps 87


__ADS_3

Semua orang kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Livy kembali duduk dikursi sambil memasang wajah kesal. Sedangkan Reim menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Maaf aku tidak bermaksud..." ucap Reim dengan pelan. Livy menatap tajam Reim hingga membuatnya diam seribu bahasa.


"Kau! aku merasa kau menipuku" ucap livy dengan wajah datar. Reim memasang wajah bingung dan bertanya.


"Menipu? Menipu apa?" tanya Reim dengan raut wajah bingung. Sudut bibir Livy berkedut, ia merasa jika berhadapan dengan Reim, dia tidak akan bisa menahan amarah dan lepas kendali.


Bahkan pikirannya yang akan selalu tenang walau dihadapkan pada krisis hidup dan mati saat ini sudah mencapai batasnya jika berurusan dengan Reim.


Namun di detik-detik emosi nya hampir meledak livy berhasil mendapatkan ketenangannya. Livy merasa aneh dengan keadaan dirinya yang gampang tersulut emosi hanya dengan masalah kecil.


'hmph...sepertinya ada sesuatu yang menarik dari perpustakaan ini' batin livy sambil tersenyum smirk. Livy melirik Reim yang masih memasang wajah bingung sambil menunggu jawaban dari pertanyaannya.


"Menurutku kau tidak sama dengan rumor, aku meragukan rumor luar biasa mu itu adalah kebenaran" jawab Livy dengan nada malas dengan wajah yang bosan.


Reim tidak marah pada Livy yang meragukannya, namun dia malah tersenyum lembut. Reim mengulurkan tangannya dan mengelus pucuk kepala Livy.


Livy tidak melawan dia tau jika Reim ingin melakukan sesuatu padanya. Dia juga sudah memastikan jika Reim tidak memiliki niat jahat padanya.


Dan tebakan Livy benar, seketika pandangannya menjadi buram lalu tertidur dalam pelukan Reim.


Reim menggendong Livy dengan hati-hati lalu cahaya putih menyelimuti tubuh mereka dan keberadaan Reim dan Livy pun menghilang.


...


Sring


Cahaya putih muncul dalam ruangan yang elegan dengan didominasi oleh warna putih dan biru langit. Dan muncullah Reim dengan Livy digendongannya. Reim lalu membaringkan Livy di atas ranjang besar dengan hati-hati.

__ADS_1


Reim mengelus wajah Livy dengan lembut lalu tersenyum. Matanya memancarkan kasih sayang.


"Tidurlah dulu disini, aku akan mengatasi masalah yang ada disana"ucap Reim dengan nada lembut.


Setelah itu cahaya kembali menyelimuti tubuh Reim kemudian menghilang bersama keberadaan Reim.


sring


Cahaya mucul kembali di perpustakaan tempat ia dan Livy berada sebelumnya. Reim lalu keluar dari perpustakaan. Setelah keluar, Reim menghilang dari tempatnya berdiri.


Saat Reim meghilang lima orang mencurigakan datang keperpustakaan, mereka ingin masuk kedalam namun belum sempat melangkah sebuah lingkaran sihir tranport bersinar dibawah kaki mereka.


" Ini jebakan" teriak salah satu dari orang itu. Namun saat mereka telah menyadarinya itu sudah terlambat, tubuh mereka lenyap dan berpindah dimensi.


...


Lima orang itu tiba di suatu tempat dengan kegelapan tanpa ujung. Tidak ada secercah cahaya pun. Mereka berlima mencoba untuk tetap tenang dan berusaha mencari jalan keluar.


Suara seorang pria menggema diruang itu hingga membuat mereka berlima bersikap waspada.


"Maafkan aku yang dengan kasar membawa kalian kesini! Tujuanku membawa kalian kesini untuk mengajukan beberapa pertanyaan"


"Siapa kau? tunjukkan dirimu!" ucap salah seorang dari mereka.


"Ah benar! maaf ketidaksopananku"


Gemerlap cahaya muncul didepan kelima orang itu. Dan muncullah pria dengan Rambut putih perak dan mata perak. Dia adalah Reim.


Mereka terkejut saat melihat sosok Reim, karena penampilan Reim mereka menganggap dia bukanlah manusia.

__ADS_1


Note: Di Menara Sihir hanya beberapa orang saja yang tau jika Reim memiliki warna rambut dan mata yang sama. Itu karena dia memakai alat sihir yang mengubah warna matanya menjadi kuning keemasan.


"Apa yang ingin anda tanya kan" ucap salah satu dari mereka dengan sopan. Itu karena mereka merasa jika pria yang ada dihadapan mereka bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.


Reim tersenyum tipis, dia bisa tau jika mereka takut padanya karena penampilannya. Dia bisa menebak hanga dari ekspresi mereka.


"Saya ingin tau kenapa kalian menggunakan alat sihir di perpustakaan itu. Alat sihir terkutuk yang mampu membuat seseorang sulit mengontrol emosinya"


"Kami sedang ingin menangkap seseorang yang ada di sana" jawab mereka dengan tenang.


"Tapi kalian harusnya tau larangan menggunakan alat sihir di tempat itu. Bahkan seorang raja sekalipun harus mematuhinya"


"Kami tidak bermaksud, kami tau jika tidak bisa masuk jika memiliki alat sihir. Tapi kami ingin menangkap seorang pembunuh. Karena itu kami meminta agar anda membiarkan kami menangkap penjahat itu" jawab salah satu dari mereka berlima.


"hahaha...ini sangat menarik." aura Reim yang tadi hangat berubah menjadi kelam dan dingin. "sudah cukup bermainnya... katakanlah kalian ingim mati seperti apa" ucap Reim dengan aura hitam yang mencekam.


"Si-siapa kau" tanya mereka dengan tubuh yang gemetaran.


Reim tersenyum smirk "malaikat maut kalian" jawab Reim kemudian menjentikkan jarinya. Dan dalam sekejap mereka berlima berubah menjadi abu.


...


Thanks for Readers


Maaf jika ada typo atau kesalahan pemilihan kata. Maaf karena updatenya lama, aku lagi sibuk-sibuknya.


But, Tetap nantikan kelanjutan ceritaku ya.


See You

__ADS_1


Next Eps...


__ADS_2